RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Apa Sudah Siap Menjadi Istriku?


__ADS_3

Darren terbangun di hampir tengah malam, orang tuanya telah pergi sore tadi. Di samping tangannya ada Rista yang tertidur dengan tangan menjadi tumpuan kepalanya di pinggir ranjang pasien. Dirinya masih menunggu Darren karena orang tuanya yang harus kembali pulang untuk membawa beberapa pakaian ke sini. Belum lagi Ayah Darren yang masih harus mengurus pekerjaan.


Tangan Darren terangkat untuk mengelus kepala Rista disana. Dadanya berdebar senang mengingat ucapan Rista yang sempat di dengar tadi.


Cepat sembuh ya, kalau sudah pulih aku janji akan menerimamu sebagai suamiku.


Ucapan yang terdengar sangat lirih itu, benar-benar terdengar jelas di telinga Darren. Dia sudah ingin menanyakan soal itu, tapi belum ada waktu yang tepat. Darren harus benar-benar menemukan waktu yang tepat untuk itu.


"Aku mencintaimu Sayang"


Rista seperti dalam mimpi, mendengar suara lembut Darren yang menyatakan cinta padanya. Tapi jelas itu hanya sebuah mimpi. Rasanya tidak mungkin Darren akan mengatakan itu padanya. Dia mengerjap dan mendongakan wajahnya. Elusan tangan Darren di kepalanya berhasil membuatnya terbangun. Rista menatap Darren yang terbangun.


"Ada apa? Apa ada yang sakit?"


Darren menggeleng pelan, dia tersenyum pada Rista. "Boleh tolong naikan ranjangku"


Rista mengangguk, dia menekan tomobil di bagian pinggir ranjang untuk menaikan ranjang pasien. Rista juga membenarkan posisi bantal di belakang Darren agar pria itu lebih nyaman.


Rista kembali duduk di pinggir ranjang, membenarkan selimut yang di pakai Darren. "Apa aku harus panggilkan dokter?"


Darren menggeleng pelan "Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya kebangun saja"


"Mau apa? Minum?"


Darren kembali menggeleng, dia menatap Rista dengan lekat. "Apa sudah siap menjadi istriku?"


Deg..

__ADS_1


Rista terkejut mendengar itu, tertunduk malu. Dia berhasil menghilangkan keraguan di hatinya. Tapi mendengar pertanyaan Darren itu, entah kenapa malah membuatnya gugup. Apalagi saat tangannya terasa ada yang menggenggam. Rista mendongak dan menatap Darren yang menggenggam tangannya.


"Mari kita menikah? Selain untuk memberikan keluarga yang lengkap untuk Duta, tapi aku juga mau menjadi pelindungmu dan membahagiakan kamu"


Kedua matanya mulai berkaca-kaca, Rista terharu mendengar itu. Tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut seorang Darren. Pria dingin dan kejam, yang menyiksanya secara lahir dan bathin hingga Rista sempat trauma dengan cinta. Seolah laki-laki di dunia ini adalah sama. Tapi, bersyukur karena hari ini Rista mengetahui jika laki-laki jahat saja bisa berubah baik. Darren yang dulu membencinya, kini berbanding terbalik.


"Aku mencintaimu Ris"


Lagi-lagi kata cinta itu terucap dari bibir Darren. Rista masih belum berkata-kata. Hati dan fikirannya masih menduga-duga, apa Darren benar-benar tulus atau hanya karena rasa bersalah saja. Namun, di balik tatapan mata itu Rista melihat ketulusan dari Darren. Pria itu benar-benar tulus mengucapkan itu.


"Apa kamu benar-benar mencintaiku? Bukan karena kehadiran Duta atau rasa bersalah saja?"


Darren menggeleng, kini dia tahu jika Rista selalu meragukan dirinya karena hal ini. Rista memiliki pemikiran jika Darren melakukan itu hanya karena Duta dan rasa bersalahnya saja. Bukan tulus untuknya. "Tidak, aku mencintaimu tulus karena itu. Karena memang aku mencintaimu, bukan tentang kehadiran Duta atau rasa bersalah. Sejak kamu pergi, aku baru bisa menyadari jika aku mencintaimu. Setiap hal yang kau lakukan bahkan terus terbayang dalam ingatanku"


"Benarkah?" Tatapan Rista seolah tidak percaya dengan apa yang Darren ucapkan barusan. Dia masih tidak yakin jika Darren sudah mencintainya sejak dia pergi. Rasanya sangat tidak mungkin.


Rista melihat ketulusan itu di balik mata Darren. Air mata tidak bisa lagi dia tahan. Mengalir begitu saja melewati pipinya dan menetes di tangan yang saling menggenggam itu. "Jujur, aku masih belum bisa melupakan semua tentang masa lalu. Semua perlakuanmu padaku, tapi aku bisa mengerti. Karena pada akhirnya cinta ini tidak bisa hilang dari hatiku. Katakanlah aku bodoh, karena aku memang bodoh. Sudah sesakit ini tapi aku masih mencintaimu..."


"...Tapi hati tetaplah hati yang tidak akan bisa di bohongi. Mau aku menolak sampai kapanpun, kamu tetap menjadi pemilik hatiku setelah apa yang dilakukan olehmu di masa lalu. Nyatanya, hatiku tetap milikmu"


Darren menjadi lemah mendengar ungkapan Rista yang begitu menyentuh hati. Sampai dia tidak sadar untuk meneteskan air matanya. Betapa Rista yang tersakiti, tapi masih mencintainya. Ketulusan cintanya yang tidak pernah berubah.


"Maafkan aku Ris, maaf untuk semuanya"


Rista menggeleng pelan dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya. "Tidak papa, aku sudah memaafkanmu. Tapi, tolong jangan ulangi lagi"


"Tentu Sayang, aku tidak akan mengulangi kesalahanku yang dulu"

__ADS_1


"Ak-aku mau menikah denganmu"


Senyuman di wajah Darren semakin merekah. Akhirnya Rista mau juga menikah dengannya. Dalam hatinya berjanji jika Darren tidak akan menyakiti wanitanya. Dia akan selalu membahagiakan Rista. Dengan susah payah dia bangun dan memeluk Rista.


"Terimakasih Sayang, aku akan berusaha menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kamu dan Duta. Terimakasih karena sudah memberi kesempatan ini"


Rista mengangguk pelan, tangisnya pecah di pelukan Darren. Pria itu sudah benar-benar berubah dan Rista berharap jika keputusannya ini adalah yang terbaik untuk hidupnya dan Duta.


Di ruangan rumah sakit, cinta rumit mereka kembali bersatu dengan janji dalam hati masing-masing.


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Sejak saat itu, wajah Darren lebih berseri dari sebelumnya. Dia telah kembali ke apartemen. Sebenarnya Alena dan Rio menginginkan dia pulang saja dulu ke rumah mereka yang di Ibu kota. Tapi, Darren menolak keras. Dia ingin tinggal di kota ini sampai benar-benar sembuh. Setelah itu baru dia akan mulai menyiapkan segala persiapan pernikahan.


Dengan satu perawat yang di tugaskan Rio untuk anaknya. Darren bisa lebih cepat pulih. Hampir setiap hari Rista akan datang bersama Duta ke apartemen. Menjenguk Darren dengan membawakan makanan yang dia masak. Melihat Darren yang selalu lahap saat memakan masakannya, membuat Rista senang.


"Makan dulu, ini sidah aku siapkan"


Darren yang sedang bermain dengan Duta langsung menoleh ke arah Rista. Darren melirik perawat pria yang berdiri tidak jauh darinya, memberi isyarat agar membantunya naik ke kursi roda karena kakinya yang masih teras sakit. Perawat itu langsung mengerti dan membantu Darren untuk naik ke kursi roda, lalu mendorongnya menuju meja makan di ikuti Duta di belakangnya.


"Terimakasih sudah datang hari ini"


"Iya"


Bersambung


Like komen di setiap chapter..kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2