
Pernikahan? Hal yang hampir tidak pernah lagi Rista fikirkan dalam hidupnya setelah dia di campakkan oleh pria yang saat ini akan memepersuntingnya menjadi seorang Istri. Hal yang bahkan tidak pernah Rista kira akan terjadi dalam hidupnya. Di nikahi oleh pria yang dia cintai sejak awal, tapi juga yang telah menorehkan luka mendalam di hatinya. Namun, mungkin memang Rista yang bodoh atau memang rasa cintanya yang terlalu besar sehingga dia tidak bisa menghilangkan perasaan itu sendiri. Seolah cintanya untuk Darren sudah melekat di hatinya.
Dengan di dampingi oleh Ibu dan Reina, Rista berjalan menuju tempat acara di laksanakan. Gaun indah itu melekat di tubuhnya, dengan riasan wajah yang sebenarnya sangat natural. Tapi karena Rista yang jarang sekali ber-make up membuat dirinya terlihat begitu berbeda dari biasanya. Darren yang sudah menunggu calon Ratunya sampai tidak berkedip melihat kecantikan Rista hari ini.
Rista juga tidak menyangka acara pernikahannya akan semegah ini. Ya, dia tahu kalau Darren memang berasal dari keluarga yang terpandang. Tapi, mengingat Rista yang bukan lagi seorang gadis. Seharusnya pernikahannya tidak semegah ini. Apalagi sudah hadir seorang anak di antara mereka.
Duduk berdampingan di depan pemuka agama dan akhirnya mereka sah menjadi suami istri. Tangis bahagia di rasakan oleh Mami Alena dan Ibu. Mereka tidak menyangka jika anak-anaknya telah benar-benar menikah. Di sisi lain, Reina juga menangis haru melihat sahabatnya menikah. Apalagi dia tahu betul bagaimana menderitanya hidup Rista selama ini. Berjuang sendiri untuk mengurus anaknya, Ayahnya meninggal saat dia melahirkan anaknya. Bagaimana kehidupan Rista yang sangat menyedihkan sejak awal. Namun, hari ini Reina ikut bahagia karena sahabatnya itu telah menemukan kebahagiaannya. Sama seperti dirinya yang kini telah bahagia bersama keluarga kecilnya.
Reina menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Senang ya melihat mereka telah bahagia"
Elion mengelus kepala istrinya. "Iya Sayang, aku juga senang melihat Darren yang benar-benar berubah dan menjadikan Rista seperti ratunya"
Acara resepsi di mulai, banyak sekali tamu undangan yang datang. Bahkan Rista tidak kenal dengan mereka semua, karena hampir semua tamu undangan yang datang adalah rekan kerja Rio, Darren dan juga dari perusahaan Elion. Tentu banyak sekali tamu undangan kali ini. Rista menyalami setiap tamu yang datang dan mengucapkan selamat pada mereka. Meski sebenarnya kakinya sudah mulai merasa pegal karena sepatu hak tinggi yang di gunakan. Namun momen ini tidak akan terjadi lagi bagi Rista, jadi dia akan menikmati setiap prosesnya.
Sampai ara benar-benar selesai, barulah Darren membawa istrinya ke kamar hotel tempat acara pernikahan ini di langsungkan. Alena sudah memesan kamar hotel khusus untuk malam pengantin anaknya. Dan untungnya Duta sangat pengertian, anak itu mau saja di ajak sama Alena untuk menginap di rumahnya bersama Rion. Hal ini tentu saja menguntungkan dua pasangan sekaligus. Elion juga lebih bisa punya waktu berduaan lebih lama dengan istrinya jika Rion menginap di rumah Kakaknya.
Darren membuka pintu kamar, mempersilahkan Rista untuk masuk lebih dulu. Darren melepas jas yang dia pakai dan dia sampirkan di kursi depan meja rias. Sementara Rista duduk di pinggir tempat tidur, membuka sepatu dan memijat-mijat kakinya yang terasa sangat sakit.
Darren segera berlutut di depan istrinya dan melihat kaki istrinya yang di penuhi dengan luka kemerahan. "Sayang, ini kenapa?"
"Bekas sepatu itu Kak, jadi lecet kayak gini. Maklum saja, aku 'kan tidak biasa menggunakan sepatu seperti itu"
__ADS_1
Darren menyangga kaki Rista di atas kakinya yang di tekuk dan tertumpu pada lantai. "Ya ampun, kenapa gak bilang kalau sepatu itu membuat mu tidak nyaman. Ini sampai merah-merah begini"
"Tidak papa Kak, aku baik-baik saja. Di kompresi air hangat juga pasti akan sembuh"
Darren sudah berapa kali menanyakan pada Rista, apa dia lelah. Tapi jawaban istrinya selalu bilang jika dia tidak papa. Bahkan Darren sudah beberapa kali menyuruhnya untuk istirahat, tapi Rista tetap saja menolak. Akhirnya Darren kesal sendiri saat melihat kaki istrinya yang seperti ini.
"Lain kali kalau sakit bilang, jangan memaksakan diri. Kalau kamu istirahat sebentar tadi, pasti tidak akan seperti ini"
"Gak papa, lagian aku tidak enak sama para tamu undangan. Masa akunya malah istirahat dan tidak ada disana"
"Sayang, tidak peduli pada mereka semua. Aku hanya peduli pada istriku yang sekarang kakinya sakit seperti ini"
Rista tersenyum, dia merasa sangat senang dengan Darren yang sekarang begitu perhatian padanya. Dia mengelus pipi suaminya yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan kakinya. "Sudah Kak, aku tidak papa. Sekarang kamu mandi dulu sana"
Rista tertawa juga akhirnya mendengar ucapan suaminya. "Apasi, ini hanya lecet saja. Bukan kenapa-kenapa. Udah ahh, kamu mandi dulu sana"
Darren menghela nafas, dia akhirnya menurut dan segera mandi karena tubuhnya yang sudah sangat lengket. Selesai Darren yang mandi, kini giliran Rista. Namun sepertinya drama tidak selesai sampai disana.
"Ayo aku bantu" Darren sudah siap siaga untuk menggendong Rista ke kamar mandi.
"Kak, aku ini hanya lecet kaki bukan lumpuh. Kenapa harus di gendong ke kamar mandi segala"
__ADS_1
"Kaki kamu lagi sakit, jadi kamu harus aku gendong" Tanpa aba-aba Darren langsung menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi. Mendudukan Rista di toilet yang tertutup.
"Udah sana kamu keluar, ngapain masih disini?"
"Aku mau bantu kamu mandi, kenapa si?"
Rista langsung melotot mendengar itu. Membantunya mandi? Apa Darren sudah gila ya, mana mau Rista untuk itu. Meski saat ink dia sudah menjadi istrinya, tapi tetap saja akan merasa malu dan canggung. "Gak ihh, sana keluar Kak. Aku bisa mandi sendiri, beneran. Kamu keluar saja dulu"
"Gak bisa, aku tetap akan membantumu mandi" Darren masih bersikeras untuk membantu Rista mandi.
"Gak mau Kak, keluar dulu saja. Nanti kalau aku butuh bantuan aku akan panggil Kakak. Sekarang keluar saja dulu ya, ayolah aku sudah sangat gerah dan ingin mandi" Dengan terpaksa Rista mendorong tubuh suaminya agar keluar dari kamar mandi. Setelah Darren yang keluar, Rista segera mengunci pintu kamar mandi.
Akhirnya Rista bisa berendam dengan air hangat dengan tenang meski suara ketukan pintu terus terdengar. Tapi Rista mencoba untuk tidak memperdulikannya.
"Sayang, sudah belum. Kamu ngapain aja lama banget. Pintunya juga kenapa harus di kunci. Sayang..."
Suara Darren tidak berhenti seiring ketukan pintu kamar mandi. Rista hanya terkekeh mendengar suara kesal suaminya. Dia hanya sedang ingin berendam saja. Tapi Darren malah memikirkan hal yang akeh-aneh pastinya.
"Aku bilang juga apa, pasti kamu kesusahan karena kakimu yang sakit. Mau di bantuin malah nolak si. Sayang, lama banget si"
Lagi-lagi Rista hanya terkekeh mendengar suara suaminya.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5