RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Rista (Mencintai Dalam Luka)


__ADS_3

Akhirnya semua berjalan dengan lancar. Mulai dari persiapan pernikahan hingga hari H, semuanya berjalan dengan lancar. Beberapa menit yang lalu, Xien dan Soni telah sah menjadi sepasang suami istri yang resmi.


Soni memasangkan cincin pernikahan di jari manis istrinya, lalu dia mencium kening istrinya dengan lembut seiring dengan kilatan cahaya dari kamera yang menuju ke arah mereka. Sekarang bergantian dengan Xien yang memasangkan cincin di jari Soni, setelahnya dia langsung mencium punggung tangan suaminya.


Xien masih tidak percaya jika saat ini dirinya dan pria yang pernah memacarinya hanya karena terpaksa dan mencintainya dengan pura-pura semata. Kini telah resmi menjadi suaminya. Dan mulai saat ini maka Xien sudah memliki Soni seutuhnya.


Rencanamu lebih indah, Tuhan. Rasanya aku tidak pernah membayangkan bisa menikah dengan pria yang pernah menyakitiku itu.


Para tamu undangan memberikan selamat dan do'a yang terbaik untuk pasangan pengantin baru ini, tak terkecuali Rista dan Reina. Mereka memberikan selamat dan ikut bahagia atas pernikahan Soni dan Xien. Semoga saja setelah ini tidak ada lagi masalah dan yang membuat hati sakit. Rista dan Reina sudah cukup menjalani kehidupan yang menyakitkan selama ini. Merawat anak mereka seorang diri, masa-masa hamil pun mereka tidak di dampingi oleh suami hingga melahirkan.


Rista memegang tangan Xien dengan lembut, menatap gadis yang sedang menjadi seorang ratu sehari. "Xie, kamu beruntung karena meski kamu menikah bukan dalam keadaan suci. Tapi, kamu bisa melewati masa-masa kehamilan pertamamu ini bersama suamimu. Setidaknya nasib kamu lebih baik daripada aku. Jadi, bersyukurlah untuk itu. Jangan dengarkan omongan orang lain"


Xien mengangguk, tidak terasa jika air mata meluncur begitu saja di pipinya. Xien tahu bagaimana perjuangan Rista. Wanita itu terlalu kuat bagi Xien, bahkan dia bisa menyembunyikan penyakitnya dari semua orang, saat itu. Rista begitu kuat, bahkan untuk menahan rasa sakitnya seorang diri. Xien menghambur ke pelukan Rista, dia terisak pelan dalam pelukan wanita yang sudah dia anggap seperti Kakaknya sendiri.


"Terimakasih untuk semuanya Kak, bagiku Kakak adalah wanita paling kuat dan hebat. Kakak bisa membesarkan Duta seorang diri, belum lagi dengan sakit Kakak waktu itu. Kakak terlalu kuat untuk seorang perempuan"


Rista tersenyum, tangannya mengelus punggung Xien. Sebenarnya dia bukan terlalu kuat. Tapi, Rista di paksa harus kuat dengan keadaan. Harus bisa berjuang untuk dirinya dan anaknya. Melawan sakit yang menyerangnya, hingga akhirnya takdir Tuhan yang menentukan semuanya. Pria yang menyakitinya dan yang membuat hidupnya hancur, adalah pria yang menyelamatkan nyawanya dari sakit yang dia derita selama bertahun-tahun.


"Xien, semuanya adalah takdir Tuhan. Dan aku bukan terlalu kuat. Tapi memang aku harus kuat dengan keadaan yang seperti itu"


Xien mengangguk kecil, dia melerai pelukannya. Menatap Rista dengan senyuman di wajahnya. "Iya Kak, pokoknya selalu bahagia untuk Kakak dan keluarga. Dan semoga bayi dalam perut Kakak sehat selalu hingga lahir ke dunia ini. Oh ya, sepertinya anak kita akan seumuran ya Kak"

__ADS_1


Rista tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata. Usia kandungannya dan Xien memang tidak terlalu jauh. Jadi, di pastikan anak mereka akan seumuran seperti Duta dan Rion yang lahir hanya berbeda beberapa bulan saja.


Setelah memberi selamat pada Xien, Rista segera pulang karena kondisi tubuhnya yang gampang sekali kelelahan semenjak kehamilan keduanya ini. Mungkin ini bentuk manjanya Rista pada Darren, karena saat kehamilan pertamanya dia tidak bisa mengeluh pada siapa pun. Hanya sekadar mengatakan jika dirinya lelah.


Sepanjang perjalanan pulang, entah kenapa suaminya hanya diam saja. Entah Rista salah bicara apa sampai membuat Darren diam seperti ini. Dengan perlahan Rista mengelus lengan suaminya yang sedang memegang kemudi itu. Darren menoleh sekilas padanya, masih diam membisu dan tidak berbicara apapun.


"Kak, kenapa? Kok diam saja, apa aku berbuat salah?"


Darren menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Rista, dia tidak marah pada istrinya. Darren hanya sedang marah pada dirinya sendiri. Mendengar percakapan Rista dan Xien tadi, benar-benar membuat hatinya terluka. Bagaimana istrinya menjalani hidupnya selama 4 tahun.


Hamil tanpa suami, dan melahirkan pun tanpa di dampingi oleh seorang suami. Bahkan hingga anaknya besar. Darren semakin merutuki kebodohannya di masa lalu, bagaimana dia bisa sebodoh itu menyia-nyiakan wanita seperti Rista.


Rista.. Si gadis manis yang nasib hidupnya sangat tidak sesuai paras indahnya dan segala kebaikannya. Dia harus mencinta seseorang dalam luka yang dia alami dari orang yang sama. Namun, dia tetap menerima pria itu kembali. Sumber luka di hatinya dan juga pengembuhnya.


Sampai di rumah, Darren masih diam dan tidak menjelaskan apapun pada Rista. Hal itu justru semakin membuat Rista kebingungan. Setelah menidurkan Duta di kamarnya, Rista segera menyusul suaminya ke dalam kamar. Saat membuka pintu, dia melihat Darren yang duduk diam di sofa dekat jendela. Tatapannya lurus menatap ke luar jendela. Rista duduk di belakang suaminya yang duduk menyamping di atas sofa. Rista memeluk tubuh suaminya itu. Menyandarkan kepalanya di punggung lebar Darren.


"Kenapa si Kak? Marah ya sama aku? Maaf ya kalau ada kata-kata aku yang membuat kamu marah"


Darren menghembuskan nafas kasar, dia melepaskan lingkaran tangan mungil istrinya, lalu dia berbalik dan memeluk istrinya. Mencium puncak kepalanya dengan lama. Mencurahkan segala kasih sayang dan juga penyesalannya selama ini.


"Aku tidak marah padamu, aku hanya sedang marah pada diriku sendiri. Kenapa dulu aku bisa sebodoh itu. Menyia-nyiakan kamu yang begitu tulus mencintaiku"

__ADS_1


Rista mendongak, dan Darren pun menundukan wajahnya untuk menatap istrinya. Keduanya saling menatap dalam waktu beberapa detik. Sampai Rista memberi kecupan di bibir suaminya itu.


"Semuanya sudah berlalu, jadi tidak ada gunanya juga untuk terus menyesalinya. Kamu dan aku telah bersama, dan kedepannya kita hanya perlu hidup bahagia dan terus bersama selamanya. Membangun keluarga yang bahagia"


Darren mengangguk, dia mencium bibir istrinya dengan lembut. Keduanya mulai hanyut dalam ciuman itu. Saling memberikan kecapan-kecapan lembut untuk menunjukan perasaan masing-masing. Mereka berciuman cukup lama sampai suara pintu kamar yang terbuka membuat Rista langsung mendorong dada suaminya agar menajuh darinya dan menyelesaikan ciuman itu.


"Bunda, Daddy.." Duta berlari ke arah orang tuanya. Duta langsung menghambur ke pelukan Ibunya.


"Duta sudah bangun ya?"


Duta mengangguk sebagai jawaban.


Berbeda dengan Rista yang biasa saja saat anaknya masuk ke dalam kamar mereka. Wajah Darren terlihat sedikit kesal, tentu saja karena ciuman nikmatnya bersama sang istri harus terganggu dengan kehadiran Duta.


"Tumben tidurnya sebentar? Biasanya lama?"


Rista menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan suaminya pada anaknya ini. Rista tahu jika suaminya pasti sedang kesal saat ini.


"Kan Duta sudah tidur di mobi tadi, jadi udah gak ngantuk lagi"  jawab Duta polos, tanpa menyadari wajah kesal ayahnya.


"Sudah Kak ahh, kamu selalu gitu deh kalau terganggu. Bahkan sama anak sendiri. Duta, ayo kita keluar" Rista menuntun anaknya keluar kamar. Meninggalkan suaminya yang masih kesal dengan kejadian barusan.

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2