
Cinta tak dapat di duga, seperti yang di rasakan pria yang baru saja menikahi wanita yang dulu sangat di bencinya. Bahkan dia beberapa kali melukai hatinya dan juga dengan fisiknya. Namun, Darren juga tidak menyangka jika kini dia akan menjadi suami dari wanita yang dia benci. Benar kata pepatah, jika batu yang keras saja bisa hancur hanya dengan tetesan air. Maka hati Darren pun bisa mencair dengan seiring cinta dan ketulusan yang di berikan Rista padanya.
Darren tidur terlentang di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan bayangan masa lalu yang menyakitkan. Bagaimana prilakunya yang sangat kejam pada Rista. Namun betapa lapang hati wanita itu, sampai mau menerimanya lagi setelah apa yang dia lakukan. Dan Darren tidak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan yang dia dapat ini. Tidak akan lagi dia membuat gadis itu terluka.
"Sayang, lama sekali"
"Iya, berisik deh kamu"
Rista akhirnya keluar dari kamar mandi setelah cukup lama berdiam diri di dalam sana. Darren langsung terbangun dan menatap istrinya yang hanya menggunakan handuk putih yang menutupi bagian dada sampai pertengahan paha. Bukan masalah tubuh Rista yang terlihat begitu menggoda. Tapi tatapan Darren tertuju pada punggung Rista yang terlihat banyak bekas luka, tidak perlu bertanya itu luka bekas apa. Darren ingat sendiri bagaimana dulu dia sering menyiksa Rista dan memukulinya dengan ikat pinggang.
"Arghhhh... Sakit.."
"Sakit hah? Aku tidak peduli rasa sakitmu. Ini hukuman karena kau berani menyebut Reina yang tak lebih baik darimu. Jelas dia lebih baik darimu. Segalanya"
Darren semakin menggila memukuli Rista yang tersungkur di atas lantai dengan ikat pinggangnya. Rintihan dan jeritan kesakitan Rista tidak di dengar oleh Darren. Telinganya seolah menjadi tuli.
"Kau akan menyesalinya suatu saat nanti, Darren. Kau akan tahu jika hanya aku yang mencintaimu dengan tulus. Bukan Reina!"
Bugh..
Tendangan keras dari kaki Darren membuat Rista benar-benar tersungkur dan tidak sadarkan diri.
Tes..
Air mata menetes begitu saja di pipinya, Darren segera menghampusnya dengan kasar. Darren berdiri dan memeluk Rista yang berdiri di depan lemari dan sedang bingung memilih pakaian apa yang akan dia pakai. Karena semua pakaian adalah pakaian tidur transparan. Entah siapa yang menyiapkan semua ini.
__ADS_1
"Sayang, maaf" lirih Darren
Rista mengerutkan keningnya bingung, dia menatap Darren yang memeluknya dengan erat dari pantulan cermin di depannya. "Kamu kenapa? Kok tiba-tiba minta maaf gak jelas"
"Maaf karena...." Darren melerai pelukannya dan mencium bagian bekas luka di punggung Rista. "...Luka ini masih membekas di tubuhmu, bahkan bukan hanya luka di tubuhmu tapi juga luka di hatimu"
Ya, Darren benar. Luka di hatinya jauh lebih membekas daripada luka fisiknya. Tapi, apa Rista bisa membencinya? Tidak! Dia tetap tidak bisa membenci pria itu. Rista hanya kecewa saja, karena dia tahu kenapa Darren seperti itu. Semuanya karena obsesinya pada Reina dan karena pernyataan cinta yang tidak pernah terjawab oleh Reina, dan dia malah mengetahui hal mengejutkan yaitu Reina yang sudah tidur bersama pamannya, Elion yang sebenarnya juga ayah angkat Reina.
Darren membuka lilitan handuk di tubuh Rista, membuat gadis itu terkejut. "Kak, mau ngapain?"
Darren tidak menjawab, dia hanya fokus mencium setiap bekas luka di punggung dan bagian paha Rista. Semuanya terlihat jelas sekali di kulitnya yang putih. Darren tidak bisa menahan lagi tangisannya.
"Semua ini salahku, tubuhmu menjadi rusak seperti ini karena kesalahanku. Maafkan aku Rista, maaf" Darren jatuh terduduk di atas lantai dengan tangisan yang tidak bisa lagi dia tahan. Biarkan saja dia terlihat sangat lemah sekarang, hanya di depan Rista seorang dirinya bisa seperti ini.
Rista segera mengambil handuknya dan melilitkannya kembali di tubuhnya. Rista ikut berjongkok dan memeluk Darren yang menangis. Akhirnya Rista juga tidak bisa menahan tangisannya. Keduanya menangis dengan rasa sakit masing-masing. Bayangan di masa lalu yang sama, namun rasa sakit yang berbeda. Rista yang sakit karena perlakuan Darren, dan melihat bagaimana penyesalan Darren saat ini yang sangat besar. Sementara Darren yang menangis karena hatinya yang begitu sakit atas segala penyesalan yang dia rasakan saat mengingat prilakunya di masa lalu.
"Maafkan aku Rista, maafkan aku"
Kata itu terus terucap lirih dari mulut Darren.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Akhirnya selesai dengan acara tangis menangis dengan berpelukan tadi. Kini Rista telah memakai pakaiannya, meski awalnya sangat enggan untuk memakai pakaian tidur transparan ini. Tapi daripada dia tidak memakai baju, jadi Rsta terpaksa memakainya.
Kini sepasang suami istri ini sedang duduk menyandar di atas tempat tidur. Saling berpelukan hangat dengan Darren terus mencium wajah istrinya.
__ADS_1
"Kak, ini kenapa jadi banyak baju seperti ini si?"
Darren terkekeh, dia menarik ujung gaun tidur yang di kenakan Rista. Sangat tipis bahkan bentuk tubuhnya terlihat jelas oleh Darren. "Tidak papa, aku suka melihatmu memakai ini"
Rista mendengus, tangannya memukul Darren yang mulai nakal. Darren tertawa, dia malah semakin senang mempermainkan istrinya. Tangan nakalnya menarik tali di pinggang istrinya membuat pakaian yang di pakainya langsung terbuka dan menunjukan bagian dada Rista yang memakai pakaian dalam dengan warna senada dengan gaun tidurnya.
Rista segera membenarkan gaun tidurnya, mengikat tali di pinggangnya dengan kencang. Wajahnya sudah memerah karena malu. "Kak apaan si, aku malu"
"Kenapa malu? Kan ini malam pertama kita"
Iya juga ya. gumam Rista tanpa sadar. Tapi 'kan dirinya masih sangat malu untuk hal itu. Meski ini memang bukan yang pertama bagi mereka, tapi karena situasinya berbeda sekarang. Jadi Rista sangat malu.
"Apa kamu tidak akan memberikan hak ku malam ini? Aku mengerti dan bisa menunggu dengan sabar" Darren cukup mengerti situasinya, dulu dia terlalu memaksa Rista sehingga mungkin akaj menjadi trauma mendalam untuk gadis itu.
Rista menghembuskan nafas, dia menatap suaminya lalu mengangguk. "Lakukanlah, aku sudah siap. Dulu saja saat kita melakukan di atas dosa, aku tidak bisa menolak. Lalu kenapa sekarang harus menolak saat semuanya sudah jelas dan tidak lagi akan menjadi sebuah dosa"
Darren tersenyum, merasa tidak percaya dengan ucapan istrinya itu. "Baiklah Sayang, akan aku mulai ya. Jika kamu tidak nyaman, maka bicarakan padaku"
Rista mengangguk.
Darren memulai aksinya dengan mencium kening Rista terlebih dahulu. Lalu mulai turun ke kedua mata, pipi dan berakhir lama di bibirnya. Semuanya dia lakukan dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Akhirnya mereka telah menyatu dalam balutan cinta yang tulus. Tidak ada lagi Rista yang terpaksa melakukannya dan Darren yang memaksa untuk melakukannya.
Mereka melakukan ini dengan kesadaran dan diatas nama cinta.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5