
Pagi ini menjadi pagi yang sangat cerah bagi Darren. Pria yang selama ini hanya hidup dalam segala penyesalan. Kini dia bisa merasakan kembali kebahagiaan itu. Darren tidak menyangka jika mencintai wanita yang juga mencintanya jauh lebih indah daripada cinta yang hanya obsesi semata.
Darren menatap wanitanya yang masih terlelap. Padahal matahari di luar sana sudah mulai menunjukan cahayanya dengan malu-malu. Rista terlihat begitu lelah, mungkin karena dirinya yang terlalu bersemangat semalam sampai membuat istrinya kelelahan. Darren tersenyum sendiri mengingat apa yang mereka lakukan semalam.
Rista mulai menggeliat di bawah selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Bulu mata lentik itu mulai mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Rista membuka mata dan melihat pria yang sudah menjadi suaminya sedang tersenyum dengan menatapnya dengan tatapan yang nakal.
"Apa?" sarkas Rista galak, Darren tertawa. Istrinya ini memang berbeda, jika di dalam banyak cerita jika tokoh wanitanya akan menunjukan wajah malu-malu saat bangun di pagi hari setelah melakukan malam pertama. Tapi berbeda dengan Rista, dia malah terlihat santai saja. Toh ini juga bukan yang pertama baginya ataupun Darren.
Rista terbangun dengan menahan selimut di dadany, takut jika selimut itu merosot dan akan menunjukan tubuh polosnya. Bukan karena malu, tapi Rista pasti akan di serang kembali oleh Darren. Dia sudah tahu otak mesum suaminya ini.
"Ambilin baju mandi dong, aku mau mandi dulu"
Darren tertawa melihat tingkah istrinya yang tidak mau membuka selimut tebal yang membalut tubuh polosnya. "Kenapa? Kan bisa langsung jalan saja ke kamar mandi tanpa pakai baju mandi juga"
Rista memukul tangan Darren yang ada di kakinya. "Cepetan ihh, Darren"
Darren langsung melirik tajam, dia tidak suka mendnegar Rista memanggil langsung namanya. "Apa? Darren? Siapa Darren"
Rista terkekeh melihat wajah kesal suaminya. Dia malah ingin semakin menggodanya. "Gak tahu, siapa ya Darren"
"Berani ya..." Darren langsung memeluk Rista dan mencium wajahnya, menggesekan hidungnya di pipi Rista sampai istrinya tertawa geli. "...Berani sekali menggodaku"
"Haha. Apasi? Awas ihh, aku bau belum mandi" Rist mendorong dada Darren agar pria itu menjauh darinya. Tapi sepertinya tenaganya kurang kuat hingga Darren masih menempel di tabuhnya.
"Biarian, bau juga aku tetap cinta"
"Cih, sejak kapan ada cinta karena bau tubuhnya. Itu hanya gombalan receh tau. Nemu darimana kamu?"
__ADS_1
Akhirnya Rista pasrah saja saat Darren malah menyandarkan pipinya di dagunya, mencium beberapa kali pipi Rista dengan gemas. Darren seolah sangat nyaman dengan tubuh istrinya.
"Gak tahu ya, kayak pernah denger aja"
"Dasar raja gombal gak modal, masa gombalin istri sendiri denger dari orang lain, bukan buat sendiri"
Darren hanya tertawa mendengar nada ketus istrinya. Seandainya dari dulu dia menerima Rista sebagai wanitanya, mungkin hidupnya akan secerah sekarang. Darren akan menemukan kenyamanannya seperti saat ini. Akan mendengar nada ketus dan jutek Rista yang selalu membuatnya tertawa. Kenapa Darren dulu malah menyia-nyiakan kebahagiannya ini. Bahagia yang dia cari ada pada Rista. Hanya saja dia yang dulu terlalu bodoh sampai tidak sadar akan ketulusan yang di berikan Rista padanya.
"Awas ihh, cepetan ambilin aku baju mandi Sayang" Rista sudah mulai kesal karena suaminya yang masih saja menempel pada tubuhnya. Padahak Rista sudah sangat gerah dan ingin segera bersih-bersih tubuhnya.
Darren mengecup kuat leher Rista sampai istrinya itu meringis, menyisakan bekas kemarahan disana. Lalu dia melepaskan pelukannya dan mengambilkan Rista baju mandi. Rista segera memakai baju mandi dan menurunkan kedua kakinya ke atas lantai kamar.
"Sayang..." Darren langsung terkejut melihat kaki Rista yang bengkak. Dia berlutut di lantai dan memeriksa kaki istrinya. Rista juga terkejut melihat keadaan kakinya. "...Sayang, ini bengkak sekali. Kita ke dokter ya, ini harus di periksa"
"Iya, tapi aku mau mandi dulu" Rista tahu jika tidak di iyakan maka suaminya akan memeperpanjang masalah ini dan akhirnya Rista tidak akan bisa segera mandi.
"Aku bantu ke kamar mandi ya"
"Tapi itu bengkak Sayang, pasti sakit"
"Kak, ini hanya bengkak dan tidak sakit sama sekali" Hanya sakit sedikit sebenarnya.
Rista segera berlalu ke kamar mandi, sebelum Darren semakin membuat drama yang ingin membantunya ke kamar mandi. Padahal Rista tidak selemah itu. Kakinya bengkak pasti karena kemarin terlalu banyak berdiri dengan sepatu hak tinggi. Dia 'kan tidak biasa dengan sepatu seperti itu. Jadi kakinya tidak bisa beradaptasi dengan sepatu yang di gunakannya. Apalagi dengan Rista yang terlalu banyak berdiri kemarin saat acara pernikahannya.
Beberapa saat kemudian Rista keluar dari kamar mandi setelah cukup lama berendam di air hangat dan membuat tubuhnya sedikit lebih rileks. Rista memakai bajunya, dia tidak menemukan Darren dimanapun. Hanya ada gaun berwarna biru di atas tempat tidur. Mungkin suaminya yang menyiapkan itu. Rista memakainya dan merias diri sebisanya.
Rista duduk di pinggir tempat tidur, meraih ponselnya di atas nakas dan menghubungi nomor suaminya. "Hallo, Kak dimana?"
__ADS_1
"Sudah selesai mandinya, aku sudah siapkan baju untukmu"
"Iya, aku sudah memakai bajunya"
"Yasudah kamu tunggu disana, aku akan segera kembali"
Rista menyimpan kembali ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Beberapa saat kemudian, Darren masuk kembali ke dalam kamar hotel. Namun tidak hanya seorang diri, ada seorang pekerja hotel yang membawa sarapan untuk mereka dan seorang perempuan berjas Dokter. Rista menghela nafas, dia sudah menduga apa yang di lakukan suaminya saat pergi dari kamar hotel tadi. Memanggil Dokter karena kakinya yang bengkak, padahal Rista merasa dirinya baik-baik saja.
"Selamat pagi Nona" Pekerja hotel dan Dokter itu mengangguk hormat pada Rista. Pekerja hotel langsung pergi setelah menjalankan tugasnya. Sementara Dokter yang di bawa oleh Darren, langsung di suruh Darren untuk segera memeriksa keadaan istrinya.
"Berbaringlah"
Darren sudah naik ke atas tempat tidur dan membantu Rista berbaring. Sungguh Rista merasa sangat malu dengan Dokter perempuan itu. Dia pasti merasa aneh dan heran dengan kelakuan Darren satu ini. Padahal kakinya yang bengkak, kenapa Rista sampai harus berbaring.
"Saya periksa ya Nona"
"Baik Dok"
Bukan tidak ingin protes dengan apa yang di lakukan suaminya. Tapi Rista mencoba menahan diri karena tidak mau sampai suaminya kesal dan semuanya akan semakin rumit. Rista memilih untuk menurut saja agar semuanya bisa secepatnya selesai. Pemeriksaan ini.
"Ini hanya karena aliran darah yang tidak lancar, mungkin karena terlalu banyak berdiri"
Benar 'kan dugaan Rista, ini hanya karena terlalu lama berdiri kemarin. Keadaannya tidak seburuk itu. Tapi suaminya saja yang terlalu paranoid.
"Sebaiknya di rendam pakai air hangat saja, saya juga akan memberikan obat pereda nyeri"
"Baik Dok terimakasih"
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5