RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Cinta Yang Sangat Besar


__ADS_3

Weekend ini, Darren benar-benar menepati janjinya untuk mengajak istri dan anaknya pergi jalan. Rista yang sudah terkurung selama seminggu lebih akhirnya bisa merasakan kembali suasana kota yang dulu di tinggalinya ini. Sejak 5 tahun lebih, ternyata banyak perubahan juga di kota ini. Membuat Rista senang dan antusias melihat-lihat pemandangan di luar jendela mobilnya.


Darren mencium tangan Rista yang dia genggam sejak tadi. "Kita mau kemana?"


Rista menoleh pada suaminya yang sedang mengemudi. Dia sedikit berpikir ingin pergi kemana dirinya saat ini. Terlalu banyak tempat yang dia ingin kunjungi, setelah beberapa tahun dia tidak tinggal di kota ini. "Emm. Sepertinya ke danau yang ada di sebrang perusahaan kamu deh. Yang taman itu, di sana ada danau buatan"


Darren yang sudah lama mengurus perusahaan itu saja tidak tahu jika ada sebuah danau di dekat taman di sebrang perusahaannya. Karena kesibukannya bekerja sampai dia tidak punya waktu hanya untuk berleha-leha. Datang ke taman itu saja rasanya tidak pernah. Darren memang terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai dia tidak bisa mempunyai waktu untuk sekedar merilekskan fikirannya.


"Sayang, aku malah gak tahu jika ada sebuah danau disana"


Rista sampai menatap tidak percaya pada suaminya. Letak perusahaan dan taman itu hanya terhalang jala raya saja, dengan menyebrang jalan dan berjalan kaki sebentar maka sudah sampai di taman. Tapi bisa-bisanya Darren tidak tahu apa-apa tentang wisata kota itu.


"Kak, jangan terlalu sibuk bekerja. Sesekali kamu juga perlu punya waktu untuk refreshing sejenak. Menenangkan fikiran dari setiap pekerjaan kamu"


Rista tahu bagaimana Darren sangat profesional dalam bekerja. Tapi semuanya juga perlu teratur, Rista tidak mau sampai suaminya tidak bisa menikmati hidup hanya karena semua pekerjaan.


"Pokoknya mulai sekarang, kamu harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan saat bersama keluarga..."Rista mengelus pipi suaminya. "..Aku gak mau kalau kamu sampai sakit"


Darren tersenyum, memang seperti apa yang istrinya bicarakan. Dia selalu lupa waktu jika sudah bekerja, apalagi saat Rista menghilang, Darren hanya melampiaskan semuanya pada pekerjaan. Bekerja bagaikan tidak punya rasa lelah. Namun kini semuanya telah berbeda, sudah ada seorang istri yang akan mengingatkannya tentang kesehatannya. Darren bahagia dengan itu.


"Iya Sayang, mulai sekarang aku akan mengatur waktu kerjaku agar aku masih bisa bersama kalian. Menikmati waktuku saat bersama keluarga"


Mobil terparkir di parkiran taman, Rista segera turun dan membuka pintu belakang mobil untuk Duta turun. Rista berdecak karena Duta sejak tadi asyik dengan ipad yang di belikan Ayahnya. Sampai Rista membukakan pintu mobil saja dia tidak sadar, bahkan tidak terusik sama sekali. Kesal dengan anaknya itu, Rista mengambil paksa ipad yang ada di tangan anaknya.


"Bunda.."


"Apa? Turun, dari tadi main game terus. Belajar aja susah, kamu sudah mau sekolah masa mau main game terus"

__ADS_1


"Papa...."


Duta menatap Ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Darren menghela nafas, dia turun dan membuka pintu mobil belakang menggendong Duta yang sudah mulai terisak. Rista menyimpan ipad Duta di dalam tasnya, lalu dia menutup pintu mobil.


"Sayang, jangan terlalu memanjakan Duta. Lihat saja sekarang sudah tidak mau nurut, sudah jadi anak nakal"


Hua...hua...


Tangisan anak usia 4 tahun itu semakin kencang. Duta paling takut jika Ibunya marah, apalagi kalau sudah mengatainya anak nakal. Dia selalu menangis.


"Sayang, udah dong. Duta juga masih kecil, kamu jangan terlalu keras sama dia"


"Ck. Gini nih kalau di manja terus sama kamu, dia jadi anak manja"


"Sayang, aku gak manjain Duta. Tapi aku hanya memberikan apa yang mampu aku berikan padanya"


"Terserah kamu saja ahh"


Rista menghirup udara yang cukup sejuk dan menenangkan. Memejamkan matanya dan bayangan di masa lalu muncul begitu. Semua kegiatan Rista saat dia bekerja di perusahaan Darren. Selain bekerja, dia juga punya rutinitas mengejar cinta atasannya yang tidak menyangka jika sekarang benar-benar menjadi suaminya.


Masa bekerja dulu, dia juga sering datang ke taman ini bersama teman-temannya untuk sekedar jajan dan membeli minuman. Berfoto dan bercanda ria. Masa-masa itu memang paling menyenangkan, sampai pada akhirnya Rista harus terjebak dengan omongan Darren. Semua kebohongan Darren yang berhasil membuat semuanya hancur dalam sekejap.


Sebuah kecupan di puncak kepalanya membuat Rista membuka kedua matanya. Suaminya datang dengan Duta yang sudah berhenti menangis. Anak itu sudah membawa dua cup eskrim di tangannya. Duta berjalan pelan ke arahnya.


"Bunda maafin Duta ya, jangan marah sama Duta. Kan Duta anak baik Bunda, bukan anak nakal"


Rista ingin tertawa melihat mimik wajah anaknya itu. Memang seperti itu Duta, dia selalu tidak ingin Ibunya marah apalagi sampai mengatainya anak nakal. Hal itu selalu membuat dia langsung meminta maaf pada Rista dan berjanji untuk tidak melakukan lagi apa yang Ibunya tidak suka.

__ADS_1


"Iya, Bunda sudah maafkan Duta. Tapi.." Rista mengelus kepala anaknya dengan lembut, menghapus sisa air mata di sudut mata anaknya. "...Jangan terlalu sering main game. Bunda tidak melarang Duta untuk bermain game karena itu kesenangan Duta, tapi jangan terlalu sering sampai melupakan apapun"


Duta mengangguk, dia memberikan satu cup eskrim pada Bundanya. "Iya Bunda, Duta janji tidak akan bermain game terlalu sering"


Rista tersenyum, dia mengambil cup eskrim yang di berikan anaknya. "Bunda terima eskrimnya, terimakasih"


"Iya Bunda"


Rista langsung memangku Duta dan mendudukannya di atas pangkuannya. Mencium pipi anak itu dengan lembut. "Mau dimakan eskrimnya?"


Duta mengangguk, Rista segera membukakan cup eskrim milik anaknya. "Nih makan sendiri, kan sudah besar"


Duta mengangguk, dia turun dari pangkuan Ibunya dan mulai bermain. Berlarian di sekitar taman. Ada seorang penjuan gelembung sabun yang membuat Duta antusias saat melihat gelembung-gelembung yang beterbangan di udara. Anak itu meloncat-loncat dengan riang. Rista tertawa melihatnya. Darren merasa bahagia melihat anak dan istrinya begitu bahagia. Dia duduk di bangku taman, tepat di samping istrinya. Merangkul bahu Rista, lalu mencium kepalanya.


"Aku mencintaimu"


Rista menoleh dan tertawa saat Darren selalu tiba-tiba mengatakan cinta padanya. Rista bukan lagi seorang gadis abg yang baru mengenal cinta yang akan memerah malu saat seorang pria mengatakan cinta padanya.


"Malah ketawa"


Darren mencubit gemas pipi istrinya yang mulai kembali berisi. Saat pertama kali bertemu dengan Darren, keadaan Rista sangat mengkhawatirkan. Tubuh kurus yang hampir hanya tulang terbalut kulit saja. Wajah yang selalu pucat. Mungkin semua itu karena penyakit yang di deritanya saat itu.


"Aku juga mebcintaimu. Kau bahkan lebih tahu sebesar apa cintaku padamu"


Darren tersenyum, tentu dia tahu. Rista sangat mencintainya sampai dia bisa menerima kembakli dirinya yang berengsek ini, karena apa jika bukan karena cinta yang dia rasakan pada Darren.


"Terimakasih Sayang, karena sudah mencintaiku sebesar ini"

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2