RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Darren Yang Berbeda Dari Masa Lalu


__ADS_3

Akhirnya Rista kembali ke kotanya, meski melewati drama yang cukup panjang. Alena tidak semudah itu langsung mengizinkannya pulang. Dia masih merindukan Duta sebagai cucunya. Rista cukup terkejut dengan reaksi Alena dan Rio yang ternyata begitu menerima kehadirannya dan juga Duta. Meski Rio terlihat lebih cuek, tapi dia tetap menyayangi Duta. Bahkan Rio membelikan beberapa mainan untuk Duta, yang sudah pasti harganya cukup lumayan.


"Aku sudah mencari orang untuk membantu kamu di toko"


"Loh, kan udah ada Xien juga. Kenapa harus mempekerjakan orang lagi? Toko kue ini hanya toko kue kecil, aku tidak akan sanggup membayar gajinya. Xien aja Om El yang membayarnya"


"Ya, kalau yang ini aku saja yang membayarnya"


"Tapi Kak.."


"Udah, gak usah membantah. Aku tidak mau kamu kecapean dan kalau aku bawa kamu ke kota, kamu tidak akan menjadikan toko kue ini sebagai alasan untuk bisa segera pulang"


Dih, dia masih sama seperti dulu. Pemaksa dan tidak mau keinginannya di bantah.


"Yaudah terserah kamu aja deh, yang kerjanya cewek atau cowok?"


Darren langsung menatap Rista dengan tajam. "Maksudnya apa tanya seperti itu? Ya jelas perempuan, mana mungkin aku mau mempekerjakan pria disini. Enak saja, kau bisa saja langsung berpaling padanya"


Dih. Apaan si maksudnya. Dasar aneh.


Rista berjalan ke arah lemari es, melewati Darren yang duduk di kursi meja makan. Rista membuka lemari es dan mengambil bahan yang dia butuhkan. "Apaan si, aku hanya bertanya saja. Kenapa Kakak malah berfikir kesitu"


"Ya, pokoknya aku tidak suka kalau kau dekat-dekat dengan pria lain"


Rista kembali ke depan meja kompor untuk menyelesaikan masakannya. "Pria mana? Aku saja lagi mencoba mengobati trauma di hatiku, mana bisa aku berdekatan dengan pria dengan perasaan yang lebih dari sekedar teman biasa"


"Kamu trauma karena aku, jadi biarkan aku juga yang akan mengobati trauma itu"


Rista mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. Dia masih saja fokus pada masakan di atas wajan. "Terserah kamu saja deh, Kak"


Rista akhirnya menyelesaikan masakannya. Dia menata semua hasil masakannya di atas meja makan. Lalu dia berlalu ke luar dari dapur untuk mengajak Duta dan Xien yang berada di toko.


"Xien, Duta ayo makan siang dulu"


Duta yang sedang duduk di sofa tunggal yang ada di toko, langsung turun dan berlari menghampiri Ibunya. "Bunda, Papa mana?"


Rista mengelus kepala anaknya. "Papa ada di dapur, lagi nunggu Dua untuk makan siang. Xie, ayo cepetan makan siang dulu. Mumpung toko lagi sepi, belum ada pengunjung"

__ADS_1


"Iya Kak"


Mereka pun makan bersama dengan tenang. Darren merasa telah menjadi suami Rista saat gadis itu mengambilkan makanan untuknya. Darren merasa di layani oleh istri sendiri. Semoga saja dia bisa benar-benar meyakinkan hati Rista dan mengobati luka hati dan traumanya.


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Setelah hubungan mereka yang naik satu level menjadi pacaran. Darren semakin menunjukan kebucinannya pada Rista. Inginnya dia bisa terus berada di dekat Rista, namun tuntutan pekerjaannya tidak bisa dia tinggalkan terlalu lama. Jadi sudah dua hari ini dia harus tinggal jauh terpisah dari kekasih hatinya. Dan hampir setiap ada waktu luang dia selalu menelepon Rista bahkan melakukan panggilan video. Terkadang selalu membuat Rista kesal. Seperti saat ini, Rista sedang sibuk dengan beberapa pelanggan tokonya, tapi Darren malah meneleponnya bahkan hanya berselang satu jam saja sejak dia terakhir kali menelepon Rista.


"Ada apalagi? Aku lagi sibuk, lagi banyak pelanggan. Kasihan Xien"


"Yaudah kamu tunggu sebentar, aku akan panggil orang yang akan aku pekerjakan di tokomu"


"Ehh.. Tunggu dulu..."


Tut..tut..tut..


Rista menatap kesal ponselnya, Darren langsung memutuskan sambungan telepon saat dirinya belum selesai berbicara. Rista kembali memasukan ponselnya ke dalam apron yang dia gunakan, dia kembali melayani pelanggan.


"Bunda ada tamu" teriak Duta yang muncul di balik pintu.


Rista berjalan keluar dari toko dan menemui tamu yang Duta katakan tadi. Dia melihat wanita yang berdiri di depan rumahnya. "Maaf cari siapa ya?"


"Benar ini dengan ReinaRista Bakery?"


"Ya, benar"


Dia mengangguk hormat pada Rista, membuat Rista tidak nyaman dengan itu. "Perkenalkan Nona, saya Seril. Saya yang di suruh Tuan Darren untuk membantu Nona di toko kue"


Saat Rista akan membuka mulutnya, tapi suara dering ponsel membuatnya menghela nafas kasar. Dia mengambil ponselnya yang dia letakan di dalam saku apron yang di pakainya. Sudah dia duga siapa yang meneleponnya. Siapa lagi jika bukan Darren.


"Yasudah, kamu bisa pergi ke toko dan bantu Xien melayani pelanggan. Jika ada yang tidak kamu tahu dan mengerti, tanyakan saja pada Xien" Rista melepas apron yang di pakaiannya dan memberikannya pada Seril. Lalu dia segera mengangkat telepon dari Darren yang tidak berhenti berdering. Dia duduk di kursi yang ada di teras depan.


"Hallo, ada apalagi?"


"Sudah bisa bicara sama aku 'kan? Apa dia sudah datang?"


Rista memutar bola mata malas, bisa-bisanya Darren yang dulu dia kenal kejam dan dingin. Kini bisa bersikap layaknya kucing manis yang tidak bisa jauh dari induknya. "Sudah. Kamu kenapa si suruh pegawai baru lagi. Padahal aku sudah menolaknya"

__ADS_1


"Karena aku tidak mau kamu yang terlalu kecapean dan repot. Jadi, mulai sekarang kamu bisa lebih tenang dan santai. Sudah ada dua pekerja di toko kue kamu itu"


"Iya tahu, tapikan..."


"Sudahlah, masalah yang bayar gaji mereka itu urusan aku. Kamu hanya perlu diam dan tidak melupakan ku. Bisa menerima telepon dariku kapan saja tanpa harus banyak alasan karena sibuk di toko kue"


Dih. Apaan si dia ini.


"Yaudah, sekarang nelpon aku itu ada apa?"


"Tidak ada, aku hanya merindukanmu"


"Ya ampun, ini baru dua hari saja. Apa kau lupa? Kenapa sudah seperti berpisah bertahun-tahun saja"


"Karena selama 5 tahun kau pergi meninggalkan aku, dan saat ini aku sedang mengobati segala kerinduanku selama itu"


Rista tidak terlalu menanggapi ucapan Darren. Dia masih tidak habis fikir dengan pria itu yang tiba-tiba bisa berubah drastis seperti ini. Padahal Darren yang Rista kenal dulu, adalah pria yang dingin dan kejam. Bahkan sangat kejam, Darren bahkan bisa memukul dan menendang Rista tanpa rasa kasihan sedikit pun.


Bugh.. Plak..


Arghhhh...


Rista menjerit kesakitan saat Darren lagi-lagi memukul pipinya dan menendang perutnya. Kesalahan Rista kali ini hanya karena dia yang bicara jika dirinya ingin pergi dari sini. Rista tidak tahan lagi terus-terusan tinggal di tempat yang bagaikan neraka baginya.


"Kau mau pergi dari sini? Iya Hah?" Darren mendekatkan wajahnya pada Rista yang tergeletak di lantai, tak berdaya. Dia mencengkram dagu gadis itu dengan kuat. "Jangan mimpi! Kau sudah menjadi tahananku. Jadi akan selamanya menjadi tahanan ku!"


Rista menatap Darren dengan air mata yang mengalir deras. "Aku hanya ingin pergi. Aku tidak mau terus disini, kau cari saja wanita yang kamu cintai itu dan kamu jadikan dia tahanan kalau kau bisa"


"Berani kau!"


Bugh.. Plak...Plak..


Suara pukulan dan jeritan kesakitan kembali memenuhi ruangan itu.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2