
Darren menatap istrinya yang sedang antusias dengan makanan yang dia beli di sebrang kantor. Makanan yang terbuat dari tepung aci yang di bentuk bulat dengan berbagai macam isian. Biasanya bumbunya menggunakan bumbu kacang atau saos kecap saja sudah enak. Rista yang duduk di atas sofa dengan makanannya sedikit melirik ke arah suaminya yang duduk di kursi kebenarannya.
"Kak mau?"
Darren menggeleng, dia tersenyum dan merasa senang saja saat istrinya terlihat bahagia hanya dengan jajanan pinggir jalan seperti itu. "Tidak, kamu habiskan saja"
Rista mengangguk, dia menusuk makanannya dan memasukannya ke dalam mulut. Kenyal-kenyal gurih terasa di dalam mulut. "Enak loh Sayang, masa kamu gak mau cobain sedikit saja"
"Kamu tahu kalau perutku tidak sensitif apalagi dengan makanan pedas seperti itu"
Rista mengangguk kecil, tentu saja dia tahu bagaimana suaminya ini. Dia sudah menyelidikinya sejak dulu, sejak dirinya jatuh cinta pada Darren dan bertekad untuk mendapatkan cinta suaminya itu.
"Yaudah kamu fokus kerja lagi aja, aku mau makan cilok ini dulu"
Darren tersenyum dan dia kembali memakai kacamata bacanya lalu mulai mengecek beberapa berkas yang sudah berada di atas meja kerjanya. Hingga dia tidak sadar jika sudah terlalu lama berkutat dengan pekerjaannya ini. Darren meregangkan otot-otot tangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Dia menoleh ke arah sofa dan mendapati istrinya yang sudah tertidur meringkuk di atas sofa.
Darren berjalan ke arah istrinya, dia berjongkok di depan sofa dan menatap wajah istrinya yang terlihat sangat tenang dalam tidurnya. Tangannya merapikan rambut yang sedikit menutupi wajah Rista. Cup.. Darren mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Bayangan bagaimana dulu dia menyiksa wanita ini. Menjamah tubuhnya tapi dengan beberapa pukulan di tubuhnya. Hingga meninggalkan bekas sampai sekarang. Rasanya Darren tidak akan kuat jika harus terus memikirkan masa lalu yang sudah terjadi. Terlalu menyakitkan untuknya. Penyesalan besar yang kini mulai menggerogoti hatinya hingga tak bisa membuat Darren untuk lupa dengan apa yang dia lakukan di masa lalu kepada istrinya ini.
Tapi, semuanya masih saja bisa dia kendalikan saat Rista selalu meyakinkannya jika semuanya telah berlalu dan biarkan saja berlalu.
Sepertinya elusan tangan Darren di wajah dan kepalanya membuat tidur Rista terganggu. Dia menggeliat pelan dan mulai membuka kedua matanya. Tersenyum saat mendapati suaminya yang berada di depan wajahnya. "Kak sudah selesai kerjanya? Apa kita bisa pulang sekarang?"
Darren berdiri, dia mengelus kepala istrinya yang sudah bangun dan terduduk di atas sofa. "Maaf Sayang karena aku terlalu fokus bekerja hingga lupa kalau ada kamu disini. Jadi ketiduran disini deh"
__ADS_1
"Gak papa kok, aku nyaman tidur disini"
Darren sedikit membungkukkan tubuhnya, dia menggendong Rista dengan secepat kilat hingga membuat istrinya begitu terkejut dengan apa yang di lakukan Darren. Dia menatap wajah suaminya dengan bingung. "Kamu mau apa Kak?"
"Istirahat sebentar di kamar"
Kamar? Kamar yang mana?
Darren menekan sebuah tombol di dinding, lalu dinding itu langsung bergeser dan memperlihatkan ruangan yang seperti kamar pribadi. Lengkap dengan ruang ganti dan kamar mandi disana.
Rista sampai membuka mulutnya saking terkejut dan juga takjub dengan apa yang di lihatnya saat ini. "Wahh.. Kamu jadi punya kamar diruang kerja kamu. Tapi kok bisa tidak terlihat seperti itu ya. Keren sekali"
"Semua itu sengaja aku buat seperti itu, karena jika sedang lelah dengan pekerjaan aku bisa istirahat disini dan aku tidak mau di ganggu oleh siapapun jika sedang istirahat"
Rista mengangguk mengerti, dia menatal ke sekelilingnya. Sangat rapi dan nyaman. Darren merebahkan pelan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Tatapan Darren justru malah membuat Rista takut. Ini bukan untuk istirahat mereka masuk ke dalam ruangan ini. Tapi jelas untuk hal lain.
"Tidak bisa Sayang, aku sudah tidak kuat dan ingin sekarang melakukannya"
"Ishh. Apaan si Kak, jangan buka dulu hey.."
"Kenapa memangnya, aku sudah melihat semuanya"
"Matiin dulu lampunya, aku malu"
Dan lampu kamar benar-benar temaram setelah itu entah apa yang mereka berdua lakukan. Sekretaris Darren yang masuk ke dalam ruangannya langsung menutup kembali pintu tanpa berniat masuk setelah tahu apa yang saat ini sedang terjadi.
__ADS_1
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Di tempat yang berbeda, Xien mulai merasa terganggu dengan kedatangan Soni yang hampir setiap hari. Meski hatinya memang masih mencintai pria itu. Tapi, Xien tetap sudah merasa jika dirinya tidak lagi untuk bersama Soni, pria yang sudah membuat hatinya hancur karena kepura-puraan yang dia lakukan atas cinta.
"Aku janji aku akan berubah, kali ini aku benar-benar mencintaimu Xien. Bukan hanya pura-pura. Aku benar-benar mencintaimu"
"Maaf, hatiku sudah terlanjur sakit dengan semua kebohongan yang kamu lakukan selama ini" Xien siap masuk ke dalam rumahnya, namun ucapan Soni benar-benar membuat langkahnya terhenti dan tubuhnya bergetar begitu saja.
"Kau tidak takut hamil, malam itu aku melakukannya tanpa pengaman"
Deg..
Xien mematung mendengarnya. Kali ini dirinya merasa sangat bodoh karena mau menyerahkan tubuhnya begitu saja pada pria yang baru berstatus menjadi kekasihnya. Bodoh! Xien benar-benar mengatai dirinya sendiri bodoh setelah apa yang dia berikan pada pria itu. Tapi semua itu terjadi semalam sebelum Xien mengetahui perasan Soni sebenarnya.
"Jangan membuatnya sebagai alasan, jika aku hamil aku bisa menggugurkan kehamilanku" Bohong! Xien tentu tidak akan seberani itu untuk membunuh anaknya sendiri jika benar kalau benih Soni telah tumbuh di rahimnya.
Soni langsung mencengkram tangan dan menariknya Xien hingga tubuh wanita itu berbalik seketika ke arahnya. Menatapnya dengan tajam. "Kau berani melakukan itu maka aku tidak akan segan-segan untuk melakukan hal di luar batas padamu. Aku bisa menikahimu secara paksa saat ini juga!"
Xien sedikit bergetar dengan tatapan dingin dan tajam Soni. Dia jelas tidak akan seberani itu untuk melakukan hal itu. Dia mengatakan itu hanya untuk memberikan sedikit peringatan pada Soni, jika dirinya tidak akan luluh hanya dengan ancaman pria itu.
"Dengar ya!" Soni menatap Xien dengan tajam, dia benar-benar tidak suka dengan apa yang Xien ucapkan barusan. ".. Jika kau berani melakukan itu, maka aku tidak akan diam saja. Aku tidak akan pernah menyerah untuk menaklukan hatimu"
Xien menunduk, dia tidak bisa menahan air matanya saat ini. Hingga suara isakan terdengar begitu menyakitkan. "Hatiku memang sudah menjadi milikmu sejak awal. Hanya saja kau sendiri yang menginginkan aku melupakan semuanya tentangmu dan melupakan cinta yang aku rasakan padamu. Aku sedang mencoba menghapus semua cintaku padamu"
Soni menggeleng, bahkan dia saja tidak bisa menahan air mata yang menetes begitu saja di pipinya. "Tidak Xie, jangan hilangkan semua perasaan cintamu padaku. Aku tidak akan menyerah untuk meyakikanmu jika aku sangat mencintaimu"
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5