RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Alasan Soni Menghilang


__ADS_3

Malam ini Xien sulit untuk tidur, dia hanya berguling kesana kemari di atas tempat tidurnya. Xien terus memikirkan kemana perginya Soni sampai pria itu tidak datang beberapa hari ini. Bahkan dia juga tidak memberinya kabar apapun. Saat dering ponselnya berbunyi, Xien langsung mengambilnya dan berharap itu adalah Soni. Tapi, ternyata itu hanya seorang pelanggan yang memesan kue untuk minggu depan.


"Baik Mbak, akan saya kirim tepat waktu"


Xien kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Xien kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Xien merasa kecewa untuk kedua kalinya jika saat ini Soni benar-benar hanya memanfaatkannya saja. Soni hanya melakukan ini semua karena paksaan dari orang tuanya saja. Hal itu tentu akan membuat Xien lebih terluka lagi. Tanpa sadar, Xien terlelap setelah dia menangis sesenggukan di atas tempat tidurnya.


Pagi ini dia bangun dengan kepala sedikit berat. Mungkin karena semalaman menangis, Xien menatap pantulan wajahnya di cermin meja rias. Mata yang sembab dan bibir yang pucat. Sungguh penampilan yang sangat kacau.


"Ya ampun Xie, kamu kenapa?" Seril langsung menghampiri Xien saat dia melihat wanita itu keluar dari dalam kamar. Wajahnya yang pucat dengan mata sembab. Xien benar-benar kacau pagi ini.


"Gak papa Ril, aku hanya sedikit sakit kepala saja. Aku mau mandi dulu ya biar lebih segar" Xien berlalu ke kamar mandi dengan berjalan sedikit sempoyongan.


Seril menatapa punggung sahabatnya itu dengan sedih. "Xien pasti terlalu memikirkan pacarnya yang kembali menghilang setelah Xien memberikan dia kesempatan. Aku benar-benar tidak akan diam saja jika dia kembali menyakiti sahabatku"


Pagi inj semuanya berjalan seperti biasanya. Meski Xien merasa tidak cukup vit, tapi dia tetap melakukan pekerjaan seperti biasanya. Suara ketukan pintu membuat Xien menoleh, dia baru saja selesai menata kue dan roti yang sudah matang di rak kaca.


"Siapa yang datang pagi-pagi begini? Toko juga belum di buka, lagian tidak ada pesanan kue untuk pagi ini. Seril.. Ada tamu itu, kamu bukain deh"


"Aku lagi di kamar mandi"


Xien menghela nafas, akhirnya dia berjalan ke arah pintu dan membukanya saat ketukan pintu di iringi dengan suara bell yang di tekan membuat Xien mempercepat langkahnya. "Siapa si, gak sabaran banget deh"


Ceklek..

__ADS_1


Pintu terbuka dan Xien mematung saat orang itu tiba-tiba memeluknya dengan erat. "Maaf Sayang, aku tidak menemuimu beberapa hari ini"


Xien mendorong tubuh Soni sampai pria itu melepaskan pelukannya. Xien menatapnya dengan datar. Dia merasa di permainkan oleh pria di depannya ini. "Setelah aku memberikan kesempatan kedua untukmu. Kau bisa pergi begitu saja, mengacuhkan aku karena apa yang kau inginkan sudah terwujud. Jujur saja jika saat ini kau juga hanya terpaksa melakukannya. Bukan karena tulus dari hatimu"


"Gak gitu Sayang, dengerin aku dulu..." Soni meraih kedua tangan Xien, tapi langsung di tepis kasar oleh gadis itu. "...Aku ada kerjaan di luar kota yang sangat mendadak. Disana susah sinyal sampai aku tidak bisa menghubungimu. Ini aku baru sampai pagi ini dan langsung kesini untuk menemuimu. Maaf ya, aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengacuhkanmu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba begini ada pekerjaan di luar kota"


Xien menatap manik coklat milik Soni dengan lekat. Tidak ada kebohongan disana, mungkin memang benar apa yang Soni katakan barusan. "Kenapa tidak memberi tahuku sebelum kamu berangkat. Jadi aku tidak akan salah faham seperti ini"


"Iya Sayang, aku minta maaf..." Soni menggenggam kedua tang Xien, kali ini tidak ada penolakan dari gadis itu. "...Kamu jangan terlalu berfikiran yang tidak-tidak tentang aku. Asal kamu tahu, selama disana aku benar-benar merindukanmu dan mengkhawatirkan keadaanmu disini. Benar saja kekhawatiran ku ini. Kamu benar-benar salah faham padaku"


"Gimana aku tidak salah faham, kamu menghilang setelah aku memberikan kesempatan untuk kita memulai dari awal lagi. Aku berfikir kalau kamu hanya main-main saja denganku. Kamu hanys terpaksa melakukan itu"


Soni menggeleng pelan, dia menarik tangan Xien hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Soni memeluknya dengan erat. "Enggak Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa melepaskan kamu lagi. Aku sadar jika hatiku sudah menjadi milikmu seutuhnya"


"Aduh, kalian ini malah merusak kesucian mataku"


Xien segera mendorong dada Soni agar pria itu melepaskan tautan bibir mereka. Xien menoleh ke arah Seril yang baru saja datang. "Hehe. Ril, ayo buka toko sudah jam 9 ini"


Seril hanya mendengus, lalu dia pergi ke toko kue. Xien menatap Soni. "Aku mau kerja dulu, kamu kalau mau istirahat di dalam saja. Atau lebih baik kamu pergi saja dulu dan istirahat di hotel"


"Iya Sayang, aku juga sedikit lelah hari ini.." Soni menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan, terdengar suara khas tulang yang pegal. Dia memang sangat lelah setelah menyelesaikan pekerjaan di luar kota juga perjalanan cukup jauh hari ini. Soni kekurangan waktu Istirahatanya. "...Aku sewa apartemen selama disini. Jadi aku pulang dulu ke sana ya. Nanti aku kembali kesini. Gak usah masak untuk makan malam, nanti kita makan di luar saja malam ini"


Xien mengangguk dan mengiyakan saja. Soni langsung memberikan kecupan hangat di kening Xien sebelum dia pergi darisana.

__ADS_1


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Reina datang ke rumah Rista dengan antusias. Apalagi setelah dia mendengar kabar kehamilan sahabatnya ini. Reina langsung memeluk Rista.


"Selamat ya, lo udah duluin gue kasih adik buat Duta"


Rista tertawa mendengarnya, dia mengelus punggung Reina yang memeluknya itu. "Cepetan dong, biar Rion juga punya adik. Kan biar rumah lo rame sama bocah nantinya"


"Iya gue juga maunya si cepetan kasih Rion adik, biar makin rame di rumah. Abisnya Rion udah gede, udah gak bisa gue uyel-uyel lagi"


Rista tertawa kecil mendengarnya. Keluhan seorang Ibu memang seperti itu. Saat anaknya sudah mulai besar, maka dia mulai bisa mandiri dan tidak terlalu membutuhkan Ibunya lagi. "Sama Rein, Duta juga. Kalau gue cium pipinya, suka gak mau katanya Duta udah besar Bunda. Padahal 'kan dia anak gue yang menurut gue masih terlalu kecil"


Ya, begitulah seorang ibu. Anaknya akan selalu menjadi anak kecil hingga berapa pun usianya. Seorang Ibu selalu menganggapnya anak kecil dan ingin selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Memperhatikannya setiap saat.


"Wahh Om, sepertinya sudah ada kode keras tuh dari Reina. Dia ingin segera memberikan Rion adik" goda Darren pada pamannya itu.


"Iya El, kamu harus segera membuat Reina hamil agar Rion tidak kesepian di rumah" Mami Alena ikut meledek adiknya itu. Rasanya dia sangat bahagia melihat Keluarganya yang kembali berkumpul seperti ini. Meski kedua orang tuanya telah tiada, setidaknya hubungan Alena dan Elion sudah kembali baik setelah kesalah fahaman di masa lalu.


Elion hanya memutar bola mata malas, baru Rion saja dia sudah merasa Reina lebih memperhatikan anaknya daripada dia. Bukannya Elion tidak sayang pada anaknya, tapi untuk apa dia membayar seorang pengasuh jika Reina masih saja mengabaikannya saat dia bersama Rion. Si suami posesif yang bahkan dengan anak sendiri merasa cemburu. Semuanya ada di judul Daddy Is My Husband.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2