RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Keraguan Yang Mulai Hilang


__ADS_3

Pagi tadi Darren sudah berpamitan untuk pergi ke ibu kota. Rista masih bersikap biasa saja, sampai setelah kepergian Darren hatinya merasa hampa. Seolah ada yang berbeda di hatinya, berubah dan tidak ada lagi keceriaan yang ada. Semuanya terasa aneh bagi Rista, dia seolah tidak memiliki lagi semangat saat Darren telah pergi setengah jam yang lalu.


Drett.. Drett....


Dering ponsel membuat Rista memalingkan wajahnya ke arah nakas. Di sana ponselnya berdering, segera dia mengambil ponsel itu. Berharap jika itu adalah telepon dari Darren. Tapi, ternyata yang menghubunginya adalah nomor yang tidak di kenal. Rista malah bingung siapa yang meneleponnya.


Dengan ragu Rista mengangkat telepon itu. "Hallo"


"Maaf apa ini dengan kerabat dari saudara Riko Darrendra?"


"I-iya, ini siapa?" Perasaan Rista mulai tidak tenang dengan adanya telepon ini.


"Nona, pria atas nama Riko Darrendra telah mengalami kecelakaan beberapa menit yang lalu. Ini baru saja sampai di rumah sakit kami" Seseorang di sebrang sana menyebutkan nama rumah sakit yang masih berada di kota Rista. Karena Rista tahu di jam ini pasti Darren belum sampai di ibu kota. Karena jarak yang lumayan saat di tempuh dengan mobil.


Tangan Rista bergetar, kakinya terasa lemas seolah dirinya tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Rista jatuh terduduk di pinggir tempat tidur. Rasanya Rista terlalu terkejut hingga fikirannya tidak bisa berfikir apapun saat ini.


"Da-Darren..." Fikirannya kembali menyadarkan dari semua keterkejutannya. Rista mencoba berdiri dan berlari ke luar kamar. Memberi tahu Xien dan Sesil tentang kecelakaan yang terjadi pada Darren.


"Kakak pergi saja, jangan dulu bawa Duta. Kasihan dia kalau tahu Papanya kecelakaan. Kakak pastikan dulu bagaimana keadaan Kak Darren, semoga baik-baik saja" kata Xien


"Semuanya pasti akan baik-baik saja Kak" Sesil ikut menambahi.


Akhirnya Rista pergi diam-diam saat Duta sedang di ajak bermain oleh Xien di kamarnya. Rista tidak mungkin datang ke rumah sakit bersama anaknya. Duta masih terlalu kecil dan pasti anak itu akan histeris jika melihat keadaan Ayahnya. Rista sampai di rumah sakit, dia segera menemui perawat untuk menanyakan keadaan Darren. Ternyata pria itu sudah di tangani di ruang gawat darurat. Rista menunggu di luar ruangan dengan gelisah. Menunggu Dokter keluar dari dalam sana.


Sampai pintu ruangan yang terbuka membuat Rista segera mendekat. Dokter keluar dari sana.


"Bagaimana keadaannya Dok?"

__ADS_1


"Anda keluarganya?"


Rista mengangguk cepat "Ya, saya...Saya istrinya"


Dokter mengangguk mengerti "Baiklah, keadaan suami anda sudah membaik. Dia sudah melewati masa kritisnya. Sekarang tinggal menunggu sadar dan akan di bawa ke ruang perawatan"


Rista cukup bisa menghela nafas lega, setidaknya Darren sudah tidak lagi dalam keadaan kritis. "Baik Dok, terimakasih"


Dan disinilah Rista sekarang, duduk di kursi samping ranjang perawatan. Menatap Darren yang terbaring lemah dengan kepala yang di perban juga kakinya yang di pasang gifs. Dokter menjelaskan jika kaki Darren ada sedikit retakan sehingga harus di pasang gifs untuk beberapa waktu. Sampai kondisi kakinya benar-benar pulih.


"Sayang.."


Suara lirih dan lemah itu masih terdengar jelas di telinga Rista. Dia segera bangkit dari duduknya dan menatap Darren yang sudah membuka kedua matanya. Pria itu tersenyum lemah saat melihat Rista yang berada di sampingnya.


"Kak, sudah sadar ya. Sebentar biar aku panggilkan Dokter" Rista menekan tombol darurat di dekat ranjang pasien. Beberapa saat kemudian Dokter datang dengan dua orang perawat. Dokter segera memeriksa keadaan Darren, mulai dari mata dan segalanya.


"Semuanya baik, hanya kakinya yang masih harus menggunakan gifs sampai benar-benar pulih"


Rista mengangguk mengerti, dokter berlalu ke luar ruangan. Sementara Rista berjalan mendekati ranjang pasien. Dia menatap Darren dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Hatinya terasa kacau dan gelisah saat mengetahui Darren kecelakaan. Rista takut kehilangan Darren, Rista tidak ingin kehilangan pria itu. Apa mungkin itu artinya karena perasaan cintanya masih tersisa untuk Darren?


"Kakak istirahat saja dulu, nanti dokter akan kembali kesini untuk memeriksa keadaanmu dan memberikan obat untukmu"


Tangan Darren bergerak pelan, meraih tangan Rista yang berpegangan pada sisi ranjang. Membawa tangan wanita itu ke pipinya, menempelkannya dan merasakan kehangatan dari tangan Rista. "Jangan tinggalkan aku ya"


Rista bingung sendiri dengan apa yang Darren katakan. Seharusnya dia yang berkata seperti itu. Pria itu baru saja mengalami kecelakaan dan nyawanya mungkin hampir saja melayang. Tapi kenapa malah Darren duluan yang mengatakannya pada Rista.


"Sudah istirahat saja, aku tidak akan pergi kemana-mana" Rista menarik kursi di samping ranjang pasien, lalu dia duduk disana. Membiarkan Darren beristirahat dengan terus menggenggam tangannya. Sesekali Rista mengelus kepala Darren. Ada bekas luka dia pipi pria itu. Rista meringis sendiri saat mengusap luka itu.

__ADS_1


"Cepat sembuh ya, kalau sudah pulih aku janji akan menerimamu sebagai suamiku" lirih Rista


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Alena dan Rio langsunh datang ke rumah sakit di luar kota saat mengetahui kabar kecelakaan anak mereka. Sampai disana mereka langsung menuju ruang rawat Darren. Saat masuk, pemandangan tidak terduga yang di dapatkan sepasang suami istri ini. Darren sedang duduk menyandar dengan Rista yang menyuapinya makan dengan perlahan.


"Mami, Papi" panggil Darren saat melihat kedua orang tuanya masuk ke dalam ruangan itu. Rista yang posisinya membelakangi pintu, langsung menoleh dan tersenyum juga mengangguk hormat pada kedua orang tua Darren.


Alena dan Rio langsung menghampiri anaknya di ranjang pasien. "Bagaimana keadaanmu Darr?" tanya Papi


"Baik-baik saja Pi, untung saja penyelamat Darren langsung datang. Bidadari Darren"


Rista menunduk saat Darren berkata seperti itu sambil melirik ke arahnya. Rio dan Alena tersenyum melihat itu. Bersyukur karena anaknya tidak mempunyai luka yang serius. Hanya di bagian kakinya saja.


"Lagian gimana ceritanya kamu kok bisa sampai kecelakaan begini?" tanya Alena, dia sudah sangat khawatir dan cemas saat mendengar kabar putranya yang kecelakaan.


"Darren cuma lagi banyak fikiran Mi, belum lagi urusan hati wanitaku yang masih saja ragu. Sampai sekarang masih saja tidak percaya jika aku benar-benar mencintainya"


Rista semakin menunduk, dia tahu jika yang di ucapkan Darren adalah tentang dirinya. Dan hari ini Rista sadar, jika dirinya masih mencintai Darren. Keraguan itu sedikit demi sedikit mengikis dengan seiringnya waktu berjalan. Dengan semua perhatian dan kesungguhan yang Darren tunjukan padanya.


"Sudah kamu tenang saja, kalau kamu terus berusaha pasti nanti juga luluh. Hatimu yang keras kayak batu saja bisa luluh dengan ketulusannya. Jadi kamu juga hanya perlu melakukan yang sama" kata Alena, selalu memberikan semangat pada putranya ketika dia mengeluh tentang kisah cintanya yang terlalu banyak rintangan.


Alena berjalan ke arah Rista, dia merangkul bahu gadis itu. "Sudah jangan di paksa Ris, kamu juga pantas melakukan ini. Karena apa yang di lakukan anak Mami sangat keterlaluan padamu. Tapi, Mami yakin jika kamu adalah yang terbaik untuk Darren. Kamu adalah takdir untuk Darren"


Rista hanya diam.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2