
Hingga hari ini, Darren masih belum bisa mendapatkan kembali kepercayaan dan hati Rista. Darren tidak menyerah begitu saja. Dia tahu jika Rista butuh banyak waktu untuk bisa menerimanya kembali.
"Ris, besok aku mau kembali ke kota. Apa aku boleh bawa Duta?"
Rista yang sedang mengaduk adonan kue langsung menoleh pada Darren yang duduk di kursi meja makan. "Tidak. Aku hanya mengizinkanmu untuk menemuinya bukan membawanya"
"Kenapa Ris? Duta juga 'kan anak aku. Kenapa aku tidak membawanya?"
"Iya, Duta adalah anak kamu juga. Tapi, aku tidak bisa jika harus hidup tanpa Duta. Jadi, tolong jangan ambil dia dariku"
Cukup hati dan hidupnya yang telah Darren renggut dengan paksa. Janga Duta juga. Dia adalah satu-satunya harta paling berharga yang di miliki Rista saat ini. "Duta adalah kebahagiaan ku, jadi tolong jangan ambil kebahagiaanku"
Darren menggeleng pelan, menatap Rista dengan nanar. Saking trauma dengan dirinya, dia bahkan takut jika Darren akan merenggut kembali kebahagiaannya. Apa yang Darren lakukan dulu memang tidak termaafkan. Bagaimana dia menyiksa Rista dan menghancurkan segala tujuan dalam hidupnya. Tatapan penuh kebahagiaan dan keceriaan itu langsung redup seketika.
Maafkan aku.
Penyesalan yang tidak akan hilang hanya dengan satu kali kata maaf. Darren benar-benar telah menyesal dengan apa yang pernah dia lakukan pada Rista di masa lalu. Kebodohan yang dia lakukan hanya demi cinta yang semu.
"Kau hanya gadis yang aku manfaatkan untuk memisahkan Om El dan Reina. Kau tahu? Reina yang aku cintai, bukan dirimu!"
Deg..
Rista yang awalnya sangat bingung kenapa Darren membawanya ke sebuah villa terpencil di daerah puncak. Namun kini dia harus di kejutan dengan apa yang di ucapkan pria di depannya. Air mata sudah tidak bisa dia tahan lagi. Mengalir deras di pipinya.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kamu bukannya tidak tahu jika aku mencintaimu sejak dulu 'kan? Kamu hanya sedang memanfaatkan perasaan cintaku ini"
Darren menatap dingin pada Rista, tatapan seseorang yang sangat membencinya. "Iya, kau sudah tahu rupanya. Jadi aku tidak perlu repot-repot menjelaskan lagi"
__ADS_1
"Kau akan menyesal suatu saat nanti Darren"
Hahaha..
Tawa mengerikan itu memenuhi ruangan. Darren bertepuk tangan dengan tatapan sinis pada Rista. "Menyesal? Sampai kapanpun aku tidak akan menyesalinya. Karena aku hanya ingin Reina, bukan dirimu!"
"Itu hanya obsesimu, Darren. Bukan cinta!" teriak Rista yang berakhir dengan tamparan keras di pipinya oleh tangan kekar itu. Berakhir dengan dirinya yang di cumbu kasar di atas ranjang. Dan hari itu adalah awal dari hidup Rista yang menjadi tahanan Darren di villa.
Darren mengusap ujung matanya yang berair. Ingatan masa lalu selalu membuatnya lemah. Perkataan yang berbanding terbalik sekarang. Darren benar-benar menyesal, dan bukan Reina yang Darren inginkan. Hanya Rista yang sekarang Darren inginkan. Benar kata Rista jika cintanya pada Reina hanyalah sebuah obsesi semata.
"Apa tidak ada kesempatan untuk aku Ris?" tanya Darren tiba-tiba membuat gerakan tangan Rista yang sedang memindahkan adonan kue ke dalam loyang terhenti seketika. Tidak berniat menjawab apapun, Rista melanjutkan pekerjaannya. Tidak mau menjawab ucapan Darren. Lebih tepatnya dirinya belum siap untuk menjawabnya.
"Ris..." Sepertinya Darren tidak mau menyerah begitu saja. Dia ingin mendapatkan jawaban Rista saat ini juga. "....Apa tidak ada kesempatan lagi untukku"
Rista memasukan loyang kue ke dalam oven. Menghela nafas berat, dirinya masih membelakangi Darren. "Sudah banyak kesempatan yang aku berikan. Tahukah, betapa aku sangat berharap hari dimana kamu bilang cinta. Tapi tidak terwujud hingga aku memutuskan pergi dan sudah benar-benar menyerah. Tapi, kehadiran Duta tidak bisa membuatku benar-benar lepas darimu. Jadi, manfaatkan saja waktumu bersama Duta. Jangan berfikiran lebih, aku melakukan ini hanya demi Duta. Jadi, biarlah kita tetap seperti ini"
Rista berbalik, menatap Darren dengan lekat. "Kalau begitu, kamu cari saja calon agar bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk Duta. Maaf Darren, hatiku seolah beku untuk menerima lagi cinta. Karena terakhir aku mencintai, hatiku benar-benar hancur. Sekarang aku sedang susah payah untuk bisa benar-benar memperbaikinya, meski tidak sama lagi seperti semula"
Darren menatap Rista, entah apa yang sudah dia lakukan sampai membuat seorang wanita trauma akak cinta. Tuhan apa yang aku lakukan, sampai membuat Rista trauma akan cinta.
"Maafkan aku Ris, jangan seperti ini. Baiklah.. Jika kamu tidak ingin mencintai lagi, biarkan aku yang mencintaimu. Jadikan dirimu sebagai orang yang di cintai tanpa harus mencintai"
Darren rela menjadi budak cintanya Rista tanpa dicintai oleh wanita itu. Darren hanya ingin membuat Rista bahagia dengan cinta yang dia berikan. Tak apa jika dia tidak bisa lagi mencintai dirinya. Darren sadar diri jika dirinya tidak pantas untuk dicintai lagi oleh wanita seperti Rista.
"Tidak, biarkan kita seperti ini saja. Tidak ada cinta lebih baik daripada perasaan cinta yang hanya membuat luka"
Darren menggeleng pelan, dia berlutut di depan Rista dengan air mata yang tidak bisa lagi dia tahan. Mengalir begitu saja di pipinya. "Maafkan aku Ris, jangan menyiksa dirimu dengan cara seperti ini. Biarkan aku mengobati luka hatimu, maafkan aku Rista"
__ADS_1
Rista tentu tidak menyangka dengan yang Darren lakukan. Pria dingin yang selalu bersikap kasar padanya di masa lalu, kini sedang berlutut sambil menangis di depannya. Rista segera membantu Darren berdiri, tapi pria itu menolak. "Ayo bangun, jangan seperti ini"
"Tidak Ris, maafkan aku. Tolong berikan aku maaf mu"
"Darren, ayo berdiri"
Darren menggeleng tegas, dia menatap Rista yang berada di hadapannya. "Maafkan aku atas segala kesalahan di masa lalu. Hukum aku dengan tanganmu, hukum aku dengan kakimu. Jangan dengan mendiamkan aku seperti ini. Aku semakin sakit saat kau mendiamkan ku seperti ini"
"Lalu kau mau apa? Mau aku memukulmu? Mau aku menendangmu seperti yang sering kau lakukan di masa lalu? Iya Hah?" Rista mulai kehilangan kendali untuk dirinya. Dia ikut berlutut di lantai, memukul dada Darren dengan tangisan yang pecah. Memukul bahunya juga.
"Jahat, kamu jahat. Kamu menyia-nyiakan cintaku selama ini. Lalu untuk apa kamu datang lagi? Aku benci kamu Darren, aku benci. Kamu jahat kamu jahat.. Hiks.."
Darren meringis pelan saat pukulan Rista mengenai perutnya. Dia memeluk gadis itu yang masih meronta. Rista terus berteriak jika dirinya jahat, ya memang benar apa yang Rista katakan. Darren memang pria jahat.
"Jahat, Darren jahat. Kenapa tidak mencintaiku? Apa yang aku tidak punya dari Reina, sampai kamu memilih dia daripada aku.. Hiks.."
Darren menggeleng pelan, dia kecup puncak kepala Rista. "Tidak Sayang, tidak ada yang kurang darimu. Aku yang bodoh karena telah menyia-nyiakan cintamu selama ini. Maafkan aku"
Plak....
Arghh..
Rista terkejut saat Darren berteriak kesakitan saat dirinya memukul perutnya. Rista langsung melepaskan pelukannya. Menatap bercak merah di kaos putih yang di pakai Darren.
"Kamu kenapa?"
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5