SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 1 AWAL PERSAHABATAN


__ADS_3

EPS 1 AWAL PERSAHABATAN


“Di suatu malam, aku bermimpi menjadi seekor burung. Terbang dengan kedua sayapku yang kuat, menguasai angkasa, menaklukkan gunung-gunung dan menjelajahi tujuh samudera. Di batas cakrawala aku berhenti, melukis awan dengan berbagai cerita. Tentang keindahan langit yang seperti kubah pelindung, atau tentang keindahan bumi bagaikan hamparan permadani. Tentang hujan dan matahari, atau harum warna-warni bunga dengan aneka keindahannya. Tentang para petani yang menanam ubi, para papa yang berburu babi serta para mama yang ikut bekerja di ladang,” ujar Marlon sambil membuang pandangannya lewat jendela pesawat.


“Dan sekarang kau sudah berhasil mewujudkan mimpimu. Maka mulailah untuk melukis awan yang kau lewati dengan kisah-kisahmu,” sahut Erizal yang duduk di sampingnya.


Marlon Isier adalah anak Papua. Papanya bernama Neles Ibo, salah seorang ketua suku Dani yang menghuni salah satu sudut lembah Baliem. Setelah lulus Sekolah Menengah Pertama, dia dikirim papanya ke pulau Jawa untuk belajar. Tujuan utamanya adalah Yogjakarta. Karena papanya banyak mendengar legenda kota itu sebagai kota pelajar. Di samping itu banyak juga anak-anak Papua yang menuntut ilmu di sana. Papanya ingin Maron menjadi dokter, agar bisa mengobati orang-orang Papua yang sakit.


“Pergilah kau ke Jawa. Belajar yang baik. Jangan kembali sebelum kau menjadi dokter,’ pesan papa waktu mengantar puteranya di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong.


Tak lupa menyusupkan beberapa butir emas yang dijahit di ujung sepatunya. Dia juga berpesan agar Marlon harus membawa sepatunya kemanapun dia pergi.


“Iya papa, aku janji akan memenuhi harapan papa. Juga doa mama Pepertua, serta adik, kakak dan nenek juga.”


Marlon memeluk papa, mama, dua orang adik dan kakaknya serta nenek sebelum naik ke dalam pesawat yang membawanya ke Jakarta.


Sedangkan Erizal Hasibuan adalah anak Minang, Sumatera Barat. Ayahnya sudah meninggal dunia saat dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sejak kecil dia bermimpi untuk merantau ke tanah Jawa. Sayangnya, ibunya tak mengizinkannya. Namun selepas lulus Sekolah Menengah Pertama, keinginannya untuk pergi semakin menggebu-gebu. Akhirnya ibunya tak kuasa lagi menahan keinginan puteranya untuk pergi ke tanah Jawa.


“Pergilah nak, raihlah cita-citamu. Bundo hanya bisa mendoakanmu,” kata ibunya sambil memeluk putera kecilnya itu.


Ibunya menyelipkan uang yang cukup banyak yang dijahit rapat di celana pendek yang dipakainya. Lalu dilapisinya dengan celana panjang agar lebih aman. Erizal akan dikirim ke Pondok Pesantren Gontor di Jawa Timur. Ibunya ingin dia memperdalam ilmu agama bersama para kyai dan ulama di sana.


“Itu uang tabungan Bundo selama bertahun-tahun. Gunakan sehemat mungkin,” pesan ibunya.


Erizal mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum membalas pelukan ibunya. Tak ada kerabat lain yang mengantarnya, karena dia adalah putera satu-satunya. Sebelum naik ke dalam pesawat yang akan membawanya dari Padang ke Jakarta, dia masih sempat melihat wajah ibunya yang basah oleh air mata. Sebenarnya dia tidak tega, tapi hatinya sudah bulat meninggalkan ranah Minang untuk mencari pengalaman baru di tanah Jawa..


Dan akhirnya kedua anak bangsa itu di pertemukan di dalam pesawat yang akan membawa mereka ke Jogjakarta. Mereka mendapatkan tempat duduk berdampingan.


“Hai! Assalamu’alaikum,” sapa Erizal terlebih dahulu, sambil menjulurkan tangannya mengajak bersalaman. “Aku Erizal.”


“Hai!” sahut Marlon menyambut uluran tangan Erizal.”Aku Marlon.”


“Aku dari Padang, Sumatera Barat. Kamu dari mana?”


“Aku anak Papua, jauh dari pedalaman hutan.”


Setelah itu mereka duduk, tenggelam dalam perbincangan yang panjang. Seperti menemukan sumber air di tengah padang pasir, keduanya sangat senang sekali. Sebenarnya mereka sedang sama-sama kebingungan karena ini adalah penerbangan pertama ke pulau Jawa. Mereka belum pernah ke Jogjakarta, hanya sering mendengar ceritanya saja.

__ADS_1


“Kebetulan aku ketemu kamu. Ini adalah perjalanan pertamaku ke pulau Jawa,” ujar Marlon. “Aku lagi bingung.”


Erizal malah tertawa.


“Hahaha..aku juga sebenarnya sedang bingung. Soalnya aku juga belum tahu Jogjakarta seperti apa.”


Akhirnya mereka tertawa bersama. Mungkin karena persamaan nasib dan sama-sama membutuhkan teman, membuat mereka menjadi cepat akrab.


“Eh sebenarnya tujuanmu mau kemana, Zal?” tanya Marlon.


Erizal mengeluarkan buku kecil yang berisi catatan ibunya.


“Setelah pesawat turun di Jogjakarta, aku akan pergi ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.”


“Kenapa kau harus turun di Jogja?”


“Karena tidak ada penerbangan jurusan Jakarta-Ponorogo. Kita harus turun di Bandara Adisucipto, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Ponorogo.”


“Naik bus?”


Erizal menggelengkan kepalanya.


Marlon mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya terlihat sedikit gelisah.


“Kamu sendiri mau kemana Lon?” tanya Erizal.


“Aku ya mau ke Jogjakarta. Papaku menyuruhku aku belajar di kota itu sampai aku menjadi dokter.”


Erizal terdiam. Ditatapnya wajah sahabatnya itu. Terlihat keningnya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Bagaimana kalau kau ikut aku saja ke Gontor?” tanya Erizal tiba-tiba.


“Apa?” Marlon balik bertanya. “Bagaimana aku bisa menjadi dokter kalau aku pergi ke Gontor?”


Erizal tersenyum.


“Apa kau lupa kalau kau butuh ijazah SMA untuk kuliah di kedokteran?”

__ADS_1


Marlon menggelengkan kepalanya.


“Tentu saja tidak,” katanya. “Tapi apa di Gontor kita bisa mendapat ijazah?”


“Ya. Karena di sana ada kurikulum SMA nya juga. Bahkan kita bisa sambil mengaji.”


“Tapi rasanya aku bukan orang muslim Zal.”


“Apa agamamu?”


“Aku juga tidak tahu.”


“Apa kau punya kartu identitas?”


Marlon malah tertawa.


“Tentu saja tidak. Aku baru berusia limabelas tahun. Mana ada kartu indentitas.”


Erizal menepuk dahinya, lalu ikut tertawa. Namun setelah itu mereka terdiam, tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Tiba-tiba Marlon jadi teringat kampung halamannya. Indahnya lembah Baliem dan lagu-lagu pujian untuk roh suci leluhur pelindung mereka.


“Rasanya papaku hanya mengenalkanku pada Atou,” gumam Marlon.


“Atou? Siapa itu?”


“Hmm..semacam roh suci pelindung kami dari segala marabahaya. Itulah kepercayaan sebagian suku Dani yang tinggal di lembah Baliem.”


“Lembah Baliem? Apa kampungmu ada di sana?”


Marlon menganggukkan kepalanya.


***


Malam semakin larut di lembah Baliem. Hawa dingin begitu terasa membuat warga suku Dani di tanah Papua enggan untuk keluar rumah. Hanya hewan-hewan malam yang masih memperdengarkan nyanyiannya. Di sebuah Ebei, rumah khusus perempuan suku Dani, sebagian besar penghuninya sudah terlelap. Hanya beberapa orang saja yang masih terjaga. Rupanya mereka sedang menunggui seorang anak yang sedang sakit.


Kampung mereka memang sedang terkena musibah. Suatu penyakit aneh tiba-tiba menyerang penghuni suku yang tinggal di tengah belantara Papua itu. Penyakit yang menyerang mereka adalah penyakit yang sangat kuat. Bukan penyakit biasa yang dapat disembuhkan lewat doa-doa kepala suku. Berbagai persembahan dan upacara telah mereka lakukan tapi masih saja korban berjatuhan karenanya.


“Tolong Ma, tubuh Yohana terasa sakit semua,” bisik seorang anak perempuan dari dalam Ebei.

__ADS_1


Ibunya tersenyum sambil membelai lembut rambut puterinya.


“Sabarlah nak, ayahmu sedang berdoa agar Atou segera membebaskan kutukannya kepada kampung kita. Hanya Atou yang bisa menolong kita.”


__ADS_2