
EPS 9 ANGGREK HITAM EMAS
Dalam angan, meninggalkan tempat yang dingin dan beku, terbang ke tempat yang akrab dengan hatiku. Semburat warna biru, putih dan hijau terbayang silih berganti. Matahari yang bersinar hangat, padang hijau yang membentang, rumah-rumah yang berdiri diatas pepohonan, lembah hitam yang penuh lika-liku sungai-sungai kecil. Terhampar rimba luas yang begitu aku rindukan, hutan hujan Papua.
Setelah menyusuri aliran sungai Baliem yang licin dan berbatu, Marlon dan Marlin sampailah pada tempat yang baru pertama kali mereka lihat. Sebuah cerukan di dalam bukit batu yang cukup luas di pedalaman hutan yang paling gelap. Saat itulah batu mustika pemberian Iles Mowa yang di sampaikan Nene Yoteni menyala dengan terang. Membuat terlihat jelas segala yang tersembunyi. Mengungkap kegelapan tidak lagi menjadi misteri.
“Wow! Sungguh luar biasa batu yang diberikan Nene. Benar-benar bisa menyala dalam gelap,” seru Marlin hampir berteriak.
“Sstt!” Marlon meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi tanda agar Marlin menjaga kata-kata.
Marlin langsung menutup mulutnya. Pandangannya berputar ke setiap sudut.
“Ini adalah batu fosfor terbaik,” bisik Marlon. “Batu ini bisa menyimpan cahaya. Saat kau membawanya ke dalam gelap maka batu itu akan memancarkan cahaya, sehingga ruangan ini terang benderang”
“Iya kaka, aku bisa melihat semuanya,” sahut Marlin sambil berbisik juga.
Pohon-pohon kayu keras yang menjulang tinggi mengepung mereka. Dan apa yang mereka lihat di depan mereka sungguh sangat mengagetkan. Mata kedua bocah kembar itu sampai terbelalak takjub melihatnya. Di atas dahan-dahan pohon-pohon raksasa itu bertengger puluhan burung asli Papua yang berbulu indah. Ada cendrawasih gagak, cendrawasih kuning kecil, Bidadari Halmahera, cendrawasih kerah hingga Cendrawasih merah.
“Lihatlah burung-burung itu kak, indah sekali,” ujar Marlin.
“Cantik sekali. Bagaikan para peri penunggu danau ini,” sahut Marlon.
Kedua bocah kembar itu seperti terpesona. Mereka biasa melihat burung cendrawasih, tapi baru kali ini mereka melihat ada puluhan burung nirwana itu berkumpul menjadi satu. Dan begitu merasakan kehadiran manusia, burung-burung yang tadinya terdiam itu, tiba-tiba bergerak seperti sedang berdansa. Sayap dan ekornya mengembang, lalu melompat ke kanan dan ke kiri sambil mengeluarkan suara yang melengking tinggi.
“Wuiiiik! Wuiiik! Wuiiik!”
__ADS_1
Seketika suasana menjadi gaduh dan riuh. Suara kepak sayap, langkah kaki dan lengkingan suara itu benar-benar membuat kedua bocah itu melompat mundur ke belakang. Marlon menatap dengan seksama. Anehnya semua burung itu bergerak dengan mata terpejam. Seperti sedang tidur. Lalu kenapa mereka bisa mengetahui kedatangan mereka?
“Kenapa mata mereka terpejam kaka?” tanya Marlin lagi.
“Kelihatannya mereka memang buta. Mungkin karena sejak kecil mereka hidup dalam dunia gelap tanpa cahaya,” sahut Marlon.
Marlon bergerak mendekali cerukan batu itu, diikuti Marlin di belakangnya. Marlon memegang erat ujung kayu kapak batu miliknya, sementara Marlin mempersiapkan busur beserta anak panahnya. Cerukan itu berisi air yang berwarna biru, berpadu dengan warna coklat lumpur di tepiannya. Air dari cerukan itu mengalir melalui lubang-lubang dan celah-celah batu. Ada bangkai seekor kodok raksasa yang terjebak diantara bebatuan.
“Rupanya bangkai ini yang menimbulkan bau busuk. Tubuhnya sudah penuh dengan belatung,” bisik Marlon kepada adiknya.
Marlin hanya mengangguk sambil menutup hidung. Lalu kedua bocah kembar itu naik ke atas cerukan dan berjalan memutar mengitari danau lewat tepiannya. Di ujung cerukan, tumbuh dua pohon trembesi raksasa yang menjulang tinggi. Lalu diantara keduanya tumbuh pohon-pohon yang lebih kecil dan semak belukar yang sangat lebat menutupi pandangan. Namun dibawah lebatnya dedaunan itu terlihat air yang mengalir mengisi cerukan.
“Mungkin kau benar. Tapi sejauh ini aku belum melihat tanda-tanda keberadaan Anggrek hitam keemasan,” sahut Marlon.
Marlin berdiri tegak diantara dua batang pohon raksasa itu.
“Kita masuk saja menerabas dedaunan itu kaka.”
Marlon segera melangkah maju. Lalu bersiap mengayunkan kapak batunya untuk membabat dedaunan dan semak belukar yang menutupi jalan yang akan mereka lewati.
“Zrrrd! Zrrrd!”
Mendadak dua buah benda berwarna merah terjulur dan hampir mengenai tubuh mereka. Keduanya reflek melompat ke belakang. Lalu dia buah kepala makhluk raksasa muncul dari balik semak-semak itu. Menjulur-julurkan lidahnya seperti sedang membaui kedua manusia di depannya. Bola matanya hitam mengkilat, di balut warna merah api di sekitarnya. Tubunya penuh duri seperti buaya dan besarnya juga seperti tubuh buaya.
__ADS_1
“Itu kadal naga mata merah, kenapa tubuhnya besar sekali?” seru Marlin sambil membidik dengan panahnya.
“Tenang Marlin. Kadal naga mata merah bukan binatang berbahaya. Keluarkan sisa bekal kita, lalu berikan kepada mereka,” ujar Marlon.
Marlin mengeluarkan dua potong daging bakar, lalu dilemparkan ke arah kadal-kadal raksasa itu. Mereka langsung menangkap dengan lidah dan langsung melahapnya. Kadal duri mata merah memang suka hidup di sekitar aliran air karena mereka sangat menyukai habitat dengan kelembaban yang tinggi. Bentuknya memang menyeramkan seperti naga, tapi sesungguhnya mereka tidak berbahaya.
Dengan hati-hati mereka berjalan melewati kedua kadal naga dan menyibak kerimbunan pohon. Seperti jalan yang tak berujung, mereka terus berjalan menyusuri aliran air dan menyibak dedaunan yang semakin rapat. Sepertinya hampir saju jam berjalan mereka belum juga menemukan ujung mata air itu. Sampai mereka mendengar gemericik air yang jatuh di atas bebatuan dan menyiprat kemana-mana. Marlon menyibak dedaunan terakhir.
“Ini ujungnya Marlin. Dan air ini berasal dari atas sana,” ujar Marlon sambil menunjuk ke atas.
Ternyata ujung aliran air itu adalah sebuah tebing yang cukup tinggi. Mungkin mata air sungai baliem berada di atas bukit. Bukit batu berwarna hitam itu menjulang tegak lurus. Tapi di atas mereka melihat benda yang menonjol keluar dari bebatuan. Bentuknya seperti batu bulat, tapi memancarkan cahaya emas. Lagi-lagi Marlon dan Marlin terpesona dan tanpa sadar bibir mereka terbuka.
“Wow! Batu apa itu kaka? Apa itu batu emas yang menonjol keluar dari bukit batu?” tanya Marlin.
“Agar tidak penasaran, kita harus memanjatnya,” sahut Marlon.
Marlin mengedarkan pandangannya, dia melihat sebuah pohon damar yang tumbuh menjelang di dekat bukit batu itu.
“Kita naik pohon itu saja kaka.”
Marlon menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Ayo kita naik. Siapa tahu anggrek hitam itu ada di atas bukit.”
Marlon dan Marlin mulai memanjat pohon kayu keras itu. Namun karena basah dan berlumut, mereka kesulitan untuk memanjatnya. Hanya dengan kekuatan hati dan semangat baja, akhirnya mereka berhasil mencapai dahan tinggi yang sejajar dengan batu emas itu. Dan dugaan mereka benar, benda yang menonjol keluar dari bukit batu hitam itu memang sebongkah emas. Dan di atas bongkahan emas itu tumbuh pohon anggrek hitam yang menjuntai ke bawah. Anggrek itu tumbuh menempel pada sebuah kayu yang sudah mati.
__ADS_1
“Kaka, itulah bunga anggrek emas yang kita cari!” teriak Marlin penuh semangat.