SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 43 KATAKAN YANG BENAR


__ADS_3

EPS 43 KATAKAN YANG BENAR


Kata-kata sering menimbulkan luka. Ia memiliki sayap tajam yang bisa menyayat setiap hati yang rapuh. Maka jagalah lidahmu, kecuali untuk kebaikan. Senandungkan doa,mengusir segala luka. Lafadzkan dzikir, pertapaan segala jiwa. Bacalah Kitab Suci, menghidupkan hati yang mati. Ucapkanlah hanya yang benar, walau itu menyakitkan. Jagalah lidahmu, dan Alloh akan menjaga auratmu.


Marlon masih berada di kamar mandi, berdiri menyandarkan tubuhnya di pintu yang tertutup. Menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dalam satu alunan yang panjang. Hufffftt…. Sementara Erizal menunggu di luar dengan wajah penasaran dan hati yang dipenuhi dengan tanda tanya.


“Aku harus membuat kebohongan untuk menyelamatkan kang Misman. Tapi kebohongan apa?” batinnya.


Tok! Tok! Tok!


“Marlon, kenapa kau lama sekali di dalam kamar mandi? Kamu baik-baik saja kan?” terdengar suara Erizal di luar dengan nada cemas.


Kriyeet!


Perlahan pintu terbuka. Marlon keluar dari kamar mandi dengan kepala tertunduk. Terlihat sekali kalau dia berusaha keras menghindari beradu pandang dengan Erizal.


“Apa yang terjadi Marlon? Kenapa kau diam saja? Kau masih menganggap aku sebagai sahabatmu kan?” tanya Erizal bertubi-tubi.


Tapi kata-kata itu terasa menusuk hati Marlon. Betapa tulus hati sahabat barunya itu. Bahkan dia tidak menanyakan barang-barang miliknya yang dia bawa berhari-hari.


“Maafkan aku Erizal. Mungkin kau telah menganggapku sahabat yang jahat,” ujar Marlon.

__ADS_1


Erizal tersenyum.


“Mengapa kau begitu rendah memandang persahabatan kita Marlon? Aku percaya padamu dan aku tidak pernah marah padamu.”


Marlon melirik wajah sahabatnya sekilas. Tak nampak ada kemarahan sedikitpun.


“Terimakasih. Kalau begitu aku akan menceriterakan semuanya kepadamu.”


Erizal menganggukkan kepalanya. Marlon memandang ke arah Melin yang sedang duduk bersama komandan polisi di ruang interogasi sekilas. Lalu dia berbisik kepada Erizal, menceriterakan tentang kang Misman dan semua perlakuannya kepadanya. Erizal mengernyitkan keningnya, seperti tak percaya dengan cerita sahabatnya.


“Jadi maksudmu, kang Misman itu perampok yang baik hati?”


“Dia hanya merampok anak-anak orang kaya. Dia salah menilaiku, disangkanya aku anak orang kaya, sehingga dia merampokku. Tapi setelah tahu aku gelandangan yang tidak punya rumah dan uang, dia malah mengajakku untuk tinggal di rumahnya. Walaupun pada awalnya dia memaksaku melakukannya.”


“Lalu apa yang kau lakukan di rumahnya?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya makan dan tidur, serta membersihkan rumahnya. Dia juga jarang menyapaku.”


“Lalu kenapa kau tidak melarikan diri saja?”


“Melarikan diri kemana? Aku berkali-kali ke bandara mencari keberadaanmu, tapi tidak ada. Percuma juga kan aku lari? Aku merasa lebih aman kalau aku tinggal di rumahnya. Apalagi…?”

__ADS_1


Marlon tak melanjutkan kata-katanya. Hatinya sedikit malu untuk meneritakan kepada sahabatnya kalau diam-diam dia telah jatuh hati dengan Melin. Gadis yang ditemuinya di rumah kang Misman.


“Jadi apalagi yang kau inginkan Marlon?” tanya Erizal memecah lamunannya.


“Kau lihat gadis yang bersamaku tadi?” Marlon malah balik bertanya.


Erizal menganggukkan kepalanya.


“Aku bertemu dengannya di rumah Misman. Nasibnya sama denganku. Awalnya dia dirampok, tapi akhirnya dia diajak tinggal di rumah Misman.”


“Terus apa yang terjadi?”


“Misman memperlakukannya dengan sangat baik. Dia menjaga kami dan beberapa gelandangan lainnya. Gadis itu pun sudah menganggapnya sebagai ayah.”


“Jadi?”


“Dia ingin aku menyelamatkan Misman, dengan mengatakan cerita dusta kepada polisi, bahwa Misman bukan merampok tapi menolongku.”


Erizal memandang wajah Marlon dalam-dalam. Dipegangnya kedua bahu sahabatnya itu.


“Katakanlah sesuatu yang benar Marlon, walau kebenaran itu terkadang menyakiti perasaanmu…”

__ADS_1


__ADS_2