
EPS 36 PREMAN BERHATI LEMBUT
Di dalam dirimu tersimpan seribu tanya, seribu sapa. Kehadiranmu telah menggoda setiap hati yang menatapmu berbeban harap. Padamu telah tercipta, denyut getaran hidup yang seirama bias dunia. Membentuk fatamorgana yang menyilaukan mata. Mungkin kau belum merasa gelisah dan terbelenggu rasa ragu. Dan pada akhirnya kau akan menyerah dibawah tatap tajam kedua mataku.
Suara langkah kaki Darsim begitu terburu dan penuh kekesalan.Dari raut wajahnya jelas terbaca kalau hantinya sedang diliputi kemarahan dan kegelisahan. Dan bisa ditebak, rupanya Darsim belum menemukan pembeli yang cocok buat Melin, gadis yang baru saja diculiknya dari stasiun kereta api. Itu artinya dia tidak akan bisa tidur tenang malam ini, karena keberadaan Melin akan menjadi beban baginya malam ini.
“Sudah kang biar aku yang membelinya,” kata Misman. “Berapa yang kau butuhkan?”
Darsim tercengang mendengar kata-kata adiknya.
“Apa? Kau berniat membeli gadis ini? Untuk apa?”
Misman menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia yakin, gadis ini akan banyak memberikan keberuntungan dalam hidupnya.
“Ya. Sebutkan nominalnya, aku bayar tunai.”
__ADS_1
Melihat wajah adiknya yang begitu serius, Darsim menjadi curiga. Jangan-jangan Misman akan menjual gadis itu ke orang lain.
“Tenang saja kang, aku tidak akan menjualnya. Kau tahu kan, walaupun aku juga pelaku kriminal, tapi aku belum pernah memperdagangkan manusia,” kata Misman seolah bisa membaca isi hati kakaknya.
Darsim tercenung. Kata-kata itu menohok ulu hatinya. Tapi dia malah tersenyum.
“Kenapa kau begitu menginginkannya Misman? Apa alasanmu?”
“Aku ingin membawanya pulang ke rumahku. Dia akan tinggal di rumahku untuk membantu Kimah berjualan di warungnya.”
“Baiklah. Kalau alasanmu adalah untuk membahagiakan perempuanmu itu, aku rela melepasnya kepadamu.”
Misman tersenyum senang.
“Baik. Kalau begitu berapa uang yang harus aku bayar untuk mendapatkannya?”
__ADS_1
“Hari ini gratis, besok bayar,” sahut Darsim diplomatis.
Itu artinya Misman tidak perlu mengeluarkan uang seperakpun. Darsim menyerahkan Melin kepadanya tanpa syarat apapun.
“Terimakasih kang.”
Kata Misman sambil mengangkat tubuh Melin dengan kedua tangannya. Lalu tubuh ramping itu dibaringkan di bahu kanannya.
“Aku pulang dulu.”
Darsim hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap kepergian adiknya. Ah, betapa bahagianya Misman, karena dia sudah memiliki tambatan hati. Walaupun belum menikah secara resmi, tapi adiknya itu sudah tinggal serumah dengan perempuan pilihannya. Berbeda dengan dirinya yang sampai saat ini belum pernah merasakan cinta sejati. Hingga banyak orang yang menjulukinya degan nama yang aneh-aneh. Jablay, jomblo akut atau pengemis cinta, hehe…
***
Dan sejak itulah Melin hidup di rumah Misman. Tugasnya adalah membantu Kimah membersihkan rumah dan membantunya di warung makannya. Dan sudah beberapa hari ini dia berkenalan dengan Marlon. Pemuda asing dari Papua yang juga diculk bersama dengan tas dan isinya.
“Kang Misman dan Yu Kimah tidak sejahat yang kau pikirkan Marlon. Memang aku dipaksa untuk bekerja di rumah ini. Tapi aku mendapatkan makanan, tempat untuk tidur dan mendapatkan perlindungan. Tidak ada yang berani menyentuh kita, selagi ada disini. Lalu apalagi yang aku butuhkan?”
__ADS_1
Marlon tercenung mendengar kata-kata Melin. Benar juga, apalagi Melin adalah seorang anak perempuan. Di dalam hatinya perlahan tumbuh simpati kepada Misman.