SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 28 STASIUN KERETA


__ADS_3

EPS 28 STASIUN KERETA


Kurasakan segala damai datang mengisi ruang rindu. Mendekap mimpi saat bidadari hatiku, datang menyentuh sisi riangku.. Kurasakan lagi sejuk dan wangi tubuhmu. Dalam pelukan titah gemulai pesonamu. Seteiap helai tutur kata lembut yang tercipta, selalu bermakna sama. Mengundang naluriku untuk menyandarkan rasa letih yang mendera. Dan aku selalu mencerna cinta di tatap matamu.



Melin berdiri sendiri, di tepi jalan yang sunyi. Mungkin ini bukan kota yang begitu besar. Setiap mobil angkutan umum yang lewat sepuluh menit sekali dia baca dengan seksama. Tapi dia belum menemukan mobil dengan jalur ke arah stasiun kereta atau terminal bus. Dia meraba tas kecilnya lalu membukanya. Ah, dia masih punya beberapa lembar uang ratusan ribu. Pasti cukup untuk pergi secepatnya dari kota ini.



“Kau sebenarnya mau kemana dik?” tanya seseorang.


Melin menoleh dan terperanjat. Pemuda cerewet yang tadi bersamanya di perahu penyeberangan, telah berdiri di belakangnya. Pemuda itu seperti hantu, bahkan dia tidak mendengar langkah kakinya.



“Eh, ehm, anu… aku mau ke stasiun kereta,” jawabnya terbata-bata.


“Stasiun kereta? Sampai malam pun kau tidak akan menemukan angkutan umum yang menuju stasiun kereta kalau kau menunggu di sini,” ujar pemuda itu.


Melin terdiam tak mengerti.


“Pergilah kau ke pasar kota. Dari sana kau akan menemukan angkot yang menuju ke stasiun kereta,” sambung laki-laki itu.


__ADS_1


Melin masih terdiam. Tapi dia sudah mengerti maksud pemuda itu.


“Pasarnya tidak terlalu jauh, tapi kalau ditempuh dengan jalan kaki, terasa capai juga.”


“Jadi bagaimana kak?” sahut Melin akhirnya.


Pemuda itu tersenyum.


“Naiklah angkot jurusan pasar, atau kau bisa menghubungi taksi online.”



Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Terimakasih ya kak,” ucap Melin setelah beberapa saat.


“Ya,” sahut pemuda itu. “Aku tahu kau takut kepadaku. Tapi aku hanya ingin menolongmu.”


Mendengar kata-kata itu, Melin jadi tersipu.


“Aku hanya teringat adik perempuanku yang meninggal setahun yang lalu. Dan dia sama cantiknya denganmu,” ujar pemuda itu dengan wajah sedih.


Melin menjadi merasa serba salah, karena dia telah mencurigai pemuda yang bermaksud menolongnya.


“Maaf,” ucapnya lirih.

__ADS_1


Pemuda itu menganggukkan kepalanya.


“Siapa namamu?”


“Melin.”


“Hm, nama yang bagus. Aku Yoga.”



Lalu mereka terdiam lagi. Beberapa saat kemudian, Yoga melambaikan tangannya ke arah jalan raya/ Terlihat sebuah mobil angkot berwarna oranye berhenti di depan mereka.


“Ini mobilmu Melin. Dia akan membawamu ke pasar. Ingat sampai di pasar, kau harus mencari angkot yang menuju stasiun atau terminal. Menurutku sih sebaiknya kamu naik kereta saja,” ucap Yoga.


“Iya kak. Sekali lagi terimakasih dan minta maaf,” ucap Melin.



Yoga hanya tersenyum. Lalu Melin melangkahkan kakinya masuk ke dalam angkot yang pintunya sudah terbuka. Setelah itu mobil kecil itu meluncur tenang menyusuri jalan aspal menuju pasar kota.


***


Pukul 10 pagi.


Saat itu Melin sudah berada di stasiun kereta. Seorang supir angkot menurunkannya di stasiun, membekalinya petunjuk untuk naik kereta dengan benar. Tentu saja setelah dia bertanya kepada sang supir yang sering mengantar penumpang ke stasiun. Setelah membeli tiket, dia berjalan perlahan membaca setiap tulisan yang terpampang. Semua terasa asing gelap membingungkan dan mengancam. Lalu sebuah pengumuman terdengar keras melalui pengeras suara stasiun.

__ADS_1


__ADS_2