
EPS 44 RUANG INTEROGASI
Wahai jiwa-jiwa yang tenang jangan sekali-kali kamu mencoba jadi Tuhan dengan mengadili dan menghakimi. Bahwasanya kamu memang tak punya daya dan upaya serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yg sejati.Bukankah kita memang tercipta laki laki dan wanita. Dan menjadi suku suku dan bangsa bangsa yang pasti berbeda. Bukankah kita memang harus saling mengenal dan menghormati. Bukan untuk saling menyakiti.
Ruangan interogasi itu begitu lengang, bahkan mungkin agak mencekam. Marlon duduk tenang di hadapan dua orang petugas penyidik kepolisian. Setelah tadi mereka selesai menanyai Melin, kini giliran Marlon yang akan dimintai keterangan tentang kang Misman. Walaupun sampai saat ini kang Misman belum tertangkap, tapi para penyidik tetap meminta keterangan terhadap orang-orang yang tinggal serumah dengannya.
“Berdasarkan rekaman CCTV bandara, terlihat saudara Misman mendekatimu begitu kau keluar dari warungnya Yu Kimah. Benarkah dia sedang merampokmu?” tanya Bripda Santo.
Marlon menganggukkan kepalanya.
“Benar pak. Kang Misman memang telah merampokku.”
“Barang-barang apa saja yang dia rampas darimu?”
“Tidak ada pak.”
Bripka Santo mengernyitkan keningnya.
“Tidak ada? Apa maksudmu?”
“Karena aku tidak memiliki apa-apa untuk di rampok, kecuali…”
__ADS_1
Marlon menghentikan kata-katanya. Kedua polisi muda didepannya terlihat penasaran.
“Kecuali apa?”
“Kecuali hatiku. Ya, kang Misman telah merampok hatiku dengan segala kebaikannya.”
Kedua polisi itu terkejut mendengar kata-kata Marlon. Ada semburat warna merah di wajah mereka, mungkin karena jengkel merasa dipermainkan.
“Hei, kamu jangan main-main dengan hukum ya. Bisa-bisa nanti kamu yang dimasukkan ke penjara,” ujar Bripka Santo.
“Ceritakan yang kau tahu dengan sejujurnya, tak perlu kau menutupinya,” sambung Bripka Yono.
Kedua polisi itu tertegun. Terlihat jelas kedua mata Marlon yang memerah dan mengeluarkan air mata. Nampaknya kekagumannya kepada Misman betul-betul suara hatinya. Dia tidak sedang berdusta, atau mengarang sebuah cerita untuk melindungi Misman.
“Apakah dia sering mengancam atau mempengaruhimu?”
Marlon menggeleng tegas.
“Bahkan selama aku tinggal di rumahnya, hampir sepuluh hari, dia belum pernah sekalipun mengajakku bicara.”
“Lalu mengapa kau begitu mengaguminya?”
__ADS_1
“Kebaikan itu bukan berasal dari kata-kata pak, atau cara dia bertutur kata. Tapi dari sikap dia, dan perasaanku sendiri yang merasa nyaman berada di sekitarnya.”
Kedua polisi itu terdiam, tercenung mendengar kata-kata bijak yang muncul dari bibir remaja belasan tahun yang berasal dari Papua itu. Lalu keduanya saling berpandangan. Informasi tentang Misman yang mereka dapat dari saksi sebelumnya, yaitu Melin, hampir sama. Pada garis besarnya mereka mebenarkan kalau Misman adalah seorang perampok yang baik dan suka menolong korbannya yang tidak punya uang.
“Apakah ada orang lain di rumah itu selain kau, Melin dan Kimah?” tanya Bripka Yono.
Marlon menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada pak.”
“Apakah ada orang asing yang sering datang ke rumahnya?”
“Banyak pak, sebagian besar adalah orang-orang yang bekerja di daerah sekitar bandara. Ada juru parkir, petugas kebersihan, jasa pengamanan dan lain-lain.”
“Kau kenal mereka?”
Marlon menganggukkan kepalanya.
“Sebagian besar berasal dari berbagai daerah dan suku di Indonesia, yang datang mengadu nasib ke pulau Jawa, sebelum akhirnya bertemu dan ditolong oleh kang Misman.”
Marlon pun menceriterakan tentang orang-orang Madura, Batak, Dayak, Bugis dan Maluku yang bekerja di sekitar bandara dan menjadi anak buah Misman. Dengan kebaikan dan ketegasannya, kang Misman berhasil menyatukan orang-orang berwatak keras itu dibawah kendalinya.
__ADS_1