SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 55 BENDA MISTERIUS


__ADS_3

EPS 55 BENDA MISTERIUS


Kepercayaan tidak didapat dari banyaknya kata-kata, tapi singkronisasi antara kata dan perbuatan, kesesuaian antar teori dengan fakta, harmonisasi ajar dengan perilaku serta aktualisasi pikiran dengan kejernihan hati. Kepercayaan tidak dapat diminta, tapi dia tumbuh dari keyakinan orang lain terhadap pribadi kita.


Di ruang dalam rumah Misman, Ballan duduk tertunduk. Tatapan mata Melin yang lembut, malah membuat wajahnya semakin gelisah. Butir-butir keringat memenuhi dahinya, walaupun malam itu cukup dingin. Mengalir satu persatu membasahi wajahnya yang gagah dan tubuhnya yang tegap.


“Katakan Ballan, apa yang membuatmu menjadi gelisah?” tanya Melin.


Ballan masih terdiam. Mungkin sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menceritakan apa yang sedang ada dalam pikirannya.


“Apa kau melihat sesuatu yang aneh di tempat parkir hari ini? Orang asing yang mencurigakan?” tanya Melin memancing kata-kata Ballan.



Anak buahnya memang orang-orang yang kuat dan bernyali singa. Tapi entah mengapa mereka seperti kehilangan kata-kata kalau berhadapan dengannya.


“Betul ketua,” sahut Ballan akhirnya.


Melin mengernyitkan keningnya. Sementara tangan kanannya memberi tanda pada Marlon, yang tidak sabaran. agar tidak berbicara dulu.



“Betul? Apa maksudmu?”


“Tadi siang ada orang asing yang mencurigakan di tempat parkir.”


“Hm, apa yang membuatmu curiga?”


“Mak..maksudku, awalnya sih tidak mencurigakan, tapi setelah peristiwa penyergapan tadi, aku mulai curiga.”



Melin mengangguk-anggukkan kepalanya. Marlon nampak semakin kesal. Sementara Erizal duduk tenang sambil mengamati keadaan sekitar.


“Sekarang ceritakan dengan tenang, orang yang kau curigai itu. Apa yang dia lakukan di tempat parkir?”



Ballan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dalam alunan yang panjang.


“Dia menitipkan sebuah benda yang di bungkus dengan rapi kepadaku. Katanya akan ada teman yang akan mengambilnya. Tapi aku menolaknya, aku hanya menyuruhnya meletakkan bungkusan itu di tempat yang mudah terlihat. Biar aku tidak lupa.”



Merlin terkesiap. Dia menatap Marlon dan Erizal bergantian.


“Apakah temannya sudah datang mengambil barang itu?” tanya Marlon.


Ballan menggelengkan kepalanya.


“Lalu aku mendengar suara letusan senjata api. Terjadi keributan beberapa saat. Tapi setelah itu tidak ada orang yang datang mengambil bungkusan itu, padahal aku sudah menunggunya sampai sore.”



“Apa bungkusan itu kau ambil?” tanya Marlon lagi.


Ballan menggelengkan kepalanya kembali.


“Tidak. Sebenarnya tadi mau disimpan sama Andreas, tapi aku melarangnya. Aku pikir orangnya mungkin akan mengambil bungkusan itu setelah kami pulang.”


__ADS_1


Marlon mengalihkan pandangannya kepada Melin. Beberapa saat mereka terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing.


“Apakah orang yang menitipkan barang kepadamu berpakaian hitam-hitam? Maksudku, memakai celana, kaos dan jaket kulit berwarna hitam?” tanya Erizal kemudian.


Kali ini Ballan menganggukkan kepalanya.


“Benar. Orangnya tinggi kurus, penampilannya cukup bersih.”



Erizal mengalihkan perhatiannya kepada Melin.


“Ketua. Kemungkinan orang itu adalah terduga kurir narkoba yang tewas ditembak polisi dalam peristiwa penyergapan tadi siang.”



Suasana tegang semakin menggelayuti hati dan pikiran mereka.


“Apa saranmu, Erizal?” tanya Melin.


“Kita beritahu AKP Wildan peristiwa ini. Setelah itu, kita harus bergerak cepat ke tempat parkir sebelum barang itu diambil orang,” sahut Erizal.



Melin langsung mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi perwira polisi dari Polres Kulonprogo. Setelah itu mereka segera bergerak cepat menuju lokasi parkir bandara. Sesampainya di tempat itu sudah ada beberapa intel polisi yang mengamankan tempat itu. Rupanya mereka langsung bergerak cepat, begitu ada informasi yang mencurigakan. Garis polisi terpasang di sepanjang tempat itu, sehingga mereka tidak bisa masuk ke dalam.



“Bagaimana pak? Apakah barangnya masih ada?” tanya Melin pada salah satu penjaga.


“Belum di temukan. Kita sudah cari di setiap sudut tempat ini, tapi hasilnya nol.”


Lalu ada polisi lainnya yang berjalan menghampiri mereka.


“Saya pak.”


“Kamu diizinkan masuk ke dalam.”



Ballan berjalan masuk diiringi tatapan cemas Melin dan sahabat-sahabatnya. Sampai tubuh pemuda itu hilang dari pandangan karena suasana malam yang masih gelap, gadis itu tidak bisa menghilangkan kecemasannya. Berkali-kali pandangannya berputar, mencari sosok AKP Wildan, komandan satuan narkoba yang dikenalnya.


***


Polisi muda itu membawa Ballan menghadap komandannya, Aipda Erwin.


“Hei, kamu yang namanya Ballan,” Erwin menyapa ramah sambil tersenyum lebar.


“Iya kak. Namaku Ballan,” sahut pemuda asli Maluku itu.



Perwira muda itu mengajak Ballan duduk, lalu memberinya sebungkus rokok. Salah satu anak buahnya menyuguhkan secangkir kopi panas.


“Coba kau ceritakan peristiwa tadi siang. Aku ingin mendengarnya langsung dari bibirmu.”



Ballan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menceriterakan peristiwa siang tadi dari awal hingga akhir. Lalu Aipda Erwin menanyakan berbagai macam hal kepadanya. Anehnya, perwira muda itu tidak hanya menanyakan masalah yang terjadi di tempat parkir tadi siang, tapi juga teman-temanya di geng Misman.


__ADS_1


“Jadi sekarang yang memegang pucuk pimpinan adalah Melin. Wakilnya adalah Marlon?” tanya Erwin seperti ingin menegaskan.


Ballan menganggukkan kepalanya.


“Lalu yang tadi siang berjaga di tempat parkir siapa saja?”


“Aku, Banardi, Upe dan Andreas.”



“Apa ada jam kerjanya?”


“Ya. Dari jam setengah lima pagi sampai jam setengah lima sore.”


“Setelah itu?”


“Biasanya sih anggota lain yang parkir malam. Cuma…”


“Apa?”


“Setelah peristiwa penyergapan tadi siang, malamnya semua anggota dikumpulkan dan semua tempat parkir ditutup.”


“Maksudmu, hanya malam ini tempat parkir kalian tutup?”


Ballan menganggukkan kepalanya.



“Saat kau pulang tadi, apa kau memperhatikan ada orang asing yang datang kemari?”


“Tidak ada. Kebetulan aku sedang menunggu orang yang akan datang mengambil bungkusan itu, makanya sengaja aku pulang paling akhir setelah teman-temanku.”



“Baiklah. Pertanyaan terakhir Ballan, diantara ketiga orang temanmu tadi, siapa yang paling kau tidak percayai?”


Ballan terdiam, wajahnya nampak bingung. Rupanya dia belum paham maksud pertanyaan itu.


“Apa maksudmu kak?”


“Hm, begini. Di antara Banardi, Upe dan Andreas, siapa yang kau anggap kerjanya paling baik dan bisa kau percaya?”



Ballan masih terdiam, kali ini wajahnya berkerut seperti sedang mengingat sesuatu.


“Yang paling baik kerjanya dan paling aku percaya ..hm..Banardi.”


“Oke. Terus yang kerjanya jelek dan tidak dapat kau percaya?”


“Yang paling malas itu Upe, tapi yang paling tidak aku percaya adalah Andreas.”



Erwin terihat tersenyum mendengar jawaban Ballan. Wajahnya begitu senang seperti anak kecil yang baru saja menemukan kembali mainannya yang hilang.


“Baiklah. Kau boleh kembali Ballan. Terimakasih atas kerjasamanya, kamu anak yang baik,” ujar Aipda Erwin sambil menepuk-nepuk punggungnya.



“Ayo, aku antar kembali ke teman-temanmu,” ujar polisi yang tadi membawanya masuk.

__ADS_1



Ballan meninggalkan tempat itu dengan berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Kenapa komandan polisi itu terlihat begitu senang setelah dia menyebut nama Andreas? Pemuda itu sering bercerita kalau sebenarnya dia adalah anak orang kaya yang diculik lalu dibuang ke Jogjakarta, walaupun ayahnya sudah membayar uang tebusan yang mencapai dua ratus juta rupiah. Dan Ballan hanya menganggap kalau Andreas sedang membual.


__ADS_2