SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 46 ALASAN TERBESAR


__ADS_3

EPS 46 ALASAN TERBESAR


Tiba-tiba saja rasa itu datang. Aku juga tak bisa menebaknya. Yang aku tahu aku merasa bahagia saat berada di dekatmu. Apa ini yang namanya cinta? Aku tidak tahu, dan aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Jadi hirup saja aromanya dan rasakan saat jiwamu larut dalam khayal yang tak pernah kau rasakan sebelumnya.


“Apa? Kau akan menjadi ketua geng jalanan yang pernah merampokmu?” tanya Erizal dengan nada keras. “Dan kau menerimanya begitu saja.”


Ditatapnya wajah sahabatnya dengan pandangan tak mengerti. Marlon hanya mengangguk penuh keraguan.


“Jangan salah mengerti kawan, kang Misman tidak pernah merampokku. Dia bahkan menolongku saat tahu kalau aku adalah pengembara yang tidak memiliki uang,” sahut Marlon.


Erizal membelalakkan matanya.


“Kau membelanya? Apa bedanya Marlon? Coba kalau saat itu kau memiliki uang, dia pasti akan merampokmu kan?”


Marlon terdiam. Erizal kembali mencecarnya.


“Tidak Marlon, kau harus menolaknya. Ingat niat awal kau datang ke tempat ini. Ingat pesan papa dan para tetua sukumu, yang merelakan kau pergi untuk belajar. Mereka pasti mengharapkan kau menjadi orang sukses dan menjadi dokter!”



Erizal terus memberondongnya dengan kata-kata yang cukup keras. Marlon masih terdiam, kebimbangan menyelimuti hatinya. Tiba-tiba pikiranya teringat dengan papa Neles Ibo, mama Perpetua, nenek Yoteni, kakak Yohana, paman Lukas dan teman-temannya di Papua. Mereka semua mengharapkan dia menjadi dokter dan memajukan tanah Papua. Tentu mereka akan sangat marah, kalau tahu dia menjadi ketua geng jalanan.

__ADS_1



“Tinggalkan rumah itu dan ikutlah denganku. Kita akan tinggal di panti milik dinas sosial, lalu kita melanjutkan belajar sesuai rencana kita sebelumnya,” sambung Erizal.



Marlon hampir saja menganggukkan kepalanya, saat matanya terbentur pada sosok Melin yang baru saja keluar dari ruang kunjungan. Sama dengan dirinya. gadis itu juga dipenuhi rasa bimbang. Dia berjalan menunduk lalu berdiri bersandar di dinding ruangan. Pandangannya dibuang ke langit-langit, seperti sedang mengeja bayang-bayang masa depannya disana. Dan hati Marlon seketika berubah kembali.



“Semua kata-katamu benar kawan. Tapi aku tidak bisa menolak begitu saja, setelah banyak kebaikan yang kuterima dari kang Misman dan yu Kimah. Ini lebih dari sekedar tanggung jawab, tapi ini adalah amanah,” jawabnya dengar bibir bergetar.



“Apa? Kau baru tinggal satu minggu di rumah itu. Kebaikan apa yang telah mereka berikan kepadamu, sehingga kau begitu merasa berhutang budi pada mereka?”


“Banyak sekali pengalaman hidup yang aku dapatkan selama aku tinggal bersama mereka. Dan aku tidak bisa menghitungnya.”



“Kau salah Marlon. Orang-orang seperti Misman dan Kimah hanya butuh uang. Aku bisa membayarnya untuk kebebasanmu.”

__ADS_1


Marlon menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Jangan kau lakukan itu. Uang itu adalah biaya untuk pendidikanmu, sahabatku. Dan lagipula bukan itu maksudku. Yang jelas aku tidak bisa pergi dari rumah itu untuk saat ini.”



Erizal masih menatap wajah Marlon dengan tajam. Apa yang membuat sahabatnya begiu berkeras hati untuk tinggal di rumah itu? Pasti bukan hanya masalah balas budi. Mungkin ada sesuatu yang lain yang membuat Marlon enggan pergi dari sana.



“Aku tidak mengerti Marlon. Keputusanmu itu menjadi tanda tanya besar bagiku. Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?” tanya Erizal penuh selidik.


Marlon tergagap.


“Ap..apa maksudmu?”


“Apa ada alasan lainnya yang mampu merubah hatimu Marlon?”


Marlon kembsli menggelengkan kepalanya. Dipegangnya tangan sahabatnya itu erat-erat, seolah memberi keyakinan kalau dia baik-baik saja.


“Tidak ada alasan apapun kawan. Percayalah kepadaku.”

__ADS_1



Marlon mengerlingkan pandangannya ke arah Melin sekejap. Ah, dia tidak mungkin menceriterakan kepada Erizal kalau Melin adalah alasan terbesarnya untuk menerima tawaran Kimah mendampingi Melin sebagai ketua geng Misman. Aku tidak mungkin meninggalkannya.


__ADS_2