SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 16 KEMANA MARLON?


__ADS_3

EPS 16 KEMANA MARLON?


Persahabatan terjalin karena keyakinan dan harapan. Keyakinan menumbuhkan rasa saling membutuhkan dan saling percaya. Harapan adalah optimisme yang harus ditumbuhkan untuk mencapai tujuan. Maka jalinlah persahabatan, karena tidak ada yang bisa kita lakukan tanpa harapan dan keyakinan.


Siang itu suasana di bandara Adisucipto begitu sibuk. Orang-orang berlalu lalang seperti mesin yang bergerak dengan alur yang tidak beraturan, mereka menyibukkan dirinya tanpa kata-kata. Yang tidak hilir mudikpun hanya duduk diam sambil memainkan jari-jenarinya diatas papan ponselnya. Marlon dan Erizal berdiri terpaku di depan toilet bandara. Hanya pandangan mereka yang berputar-putar mengamati keadaan sekitarnya.


“Marlon, kamu masuk dulu ke kamar mandi. Biar aku jaga barang-barang kita disini,” bisik Erizal.


Marlon mengangguk ragu. Kemudian melangkah masuk ke dalam toilet yang terbagi menjadi beberapa ruangan. Dia masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya terbuka, lalu menguncinya dari dalam. Sementara Erizal menunggu di luar. Duduk di lantai bersandarkan tas rangselnya sendiri. Tak berapa lama kemudian, Marlon sudah keluar dari dalam kamar mandi. Wajahnya terlihat basah dan segar.


“Kamu tidak mandi sekalian?” tanya Erizal.


Marlon menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Aku hanya membasuh kaki dan wajahku.”


Lalu gantian Erizal yang masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara kecipak dan air yang diguyur. Rupanya Erizal sekalian mandi dan membersihkan diri. Cukup lama Erizal berada di dalam kamar mandi, lebih dari limabelas menit. Marlon menunggunya dengan tenang. Mendadak perutnya berbunyi, kriyuk…kriyuk..pertanda minta diisi. Kebetulan sejak turun dari pesawat, mereka belum makan apa-apa.


“Ah, daripada diam menunggu, sebaiknya aku keluar membeli nasi bungkus. Nanti begitu selesai mandi, Erizal tinggal makan bersamaku,” batinnya.


Dengan susah payah dia membawa tas rangsel miliknya dan milik sahabatnya keluar ruang lobi. Lalu menyeberang jalan menuju deretan warung-warung yang ada di situ.


“Warung Nasi Mbekayu Kimah,” batinnya sambil membaca tulisan di luar warung bertenda itu. “Ah aku bisa beli nasi di situ.”


Marlon masuk ke dalam warung tenda itu. Seorang perempuan separuh baya, bertubuh gendut dan rambutnya di sanggul, menyambutnya dengan ramah.


“Bade ngersakne napa, mas?” perempuan itu bertanya dalam bahasa Jawa.


Marlon tidak paham maksud perkatannya, tapi dia menjawab asal saja.


“Ehm..aku mau mencari makan.”


Si ibunya tersenyum.


“Ow, mau makan? Silahkan duduk. Tidak bisa bicara Jawa?”


Marlon menggelengkan kepalanya.


“Ini makanannya mau di bungkus apa dimakan di sini?”


“Dibungkus.”


“Berapa?”


“Dua.”


“Sama ayam apa sapi?”


“Ayam.”


“Mau paha, dada, sayap, kepala apa jeroan?”


Marlon terdiam, berpikir sejenak. Rupanya dia agak bingung.

__ADS_1


“Bagaimana mas? Mau paha, dada, sayap, kepala apa jeroan?”


“Eh, semuanya saja.”


Lagi-lagi si ibu tersenyum.


“Maksudnya lengkap. Kebetulan masih ada satu ayam yang masih utuh. Mau?”


Marlon menganggukkan kepalanya kembali. Si Ibu mengambil kertas minyak berukuran besar. Mengambil ayam goreng utuh, lalu menaruhnya di atas kertas minyak itu.


“Pake parutan kelapa goreng apa pake kremesan?”


“Kremesan.”


“Pedes apa tidak?”


“Tidak.”


Terus ibunya diam. Menganbil nasi, daun kemangi dan irisan mentimun sesuai pesanan. Lalu membungkusnya dengan rapi.


“Mau pesen minum?”


Marlon menganggukkan kepalanya.


“Iya. Es teh manis dua.”


Si ibu memanggil pembantunya.


“Lin, es teh manis dua. Dibungkus!”


Seorang gadis muda membuatkan es teh manis dua gelas, lalu memasukkannya ke dalam plastik kecil.


“Semua berapa bu?” tanya Marlon.


“Seratus tujuh puluh lima ribu rupiah.”


Marlon tersentak, dahinya langsung mengkerut. Tapi dia tidak berani protes. Di ambilnya uang seratus tujuh puluh lima ribu, lalu diberikan kepada si Ibu.


“Itu ayam goreng utuh harganya seratus limapuluh ribu. Nasi dua bungkus sama lalapannya duapuluhlima ribu,” katanya menjelaskan seolah tahu isi hati pemuda kecil itu.


Marlon mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu dia bergegas keluar dari warung tenda itu, berniat kembali ke bandara. Namun beberapa meter dia melangkah, tiba-tiba ada seseorang yang menarik kerah bajunya dari belakang, lalu menyeretnya ke balik sebuah pohon palem botol yang cukup besar. Belum juga hilang rasa kagetnya, tiba-tiba dia merasa ada benda yang dingin menempel di lehernya.


“Jangan bergerak! Turuti perintahku, kalau tidak aku akan menebas lehermu!” bentaknya.


Marlon melirik sekilas benda dingin yang menempel di lehernya, ternyata sebuah celurit yang sangat tajam. Terlihat berkilau terkena sinar matahari. Lalu ujung matanya melihat ke belakang. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan kekar yang mencengkeram dan menyeret tubuhnya. Terlihat juga banyak tato di tubuhnya yang gempal.


“Serahkan semua uang dan barang berharga yang kau bawa kepadaku. Cepat!” bentak laki-laki itu lagi.


Tubuh Marlon bergetar hebat. Rasa takut langsung menggerayangi tubuhnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hanya tangan kanannya yang bergerak reflek masuk kedalam saku bajunya. Lalu menyerahkan sisa uang yang dimilikinya kepada perampok itu. Baru saja uang itu keluar dari sakunya, langsung direbut oleh laki-laki asing itu.


“Kelamaan. Sini!” ujar laki-laki itu.


Direbutnya uang itu dari tangan Marlon, lalu menghitungnya.

__ADS_1


“Apa ini? Dua puluh lima ribu rupiah?” ucapnya kesal. “Kau mau aku membunuhmu sekarang juga?”


Marlon langsung mengangkat kedua tangannya.


“Jangan Bapade. Ampuni aku.”


“Kalau begitu, cepat keluarkan semua uangmu!”


Marlon menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada.”


“Apa!”


“Tidak ada bapade. Uangku sudah habis, hanya ini yang tersisa.”


Wajah laki-laki itu terlihat kesal. Lalu dia memanggil seseorang.


“Kimah! Keluar kamu!”


Perempuan penjual nasi tadi keluar dari tendanya dan bergegas menemui laki-laki itu.


“Iya Kang Misman, ada apa?”


“Geledah tasnya!”


Kimah langsung melaksankan perintahnya. Di bukanya tas milik Marlon dan Erizal, diacak-acak, lalu dikeluarkan isinya.


“Tidak ada apa-apanya. Hanya pakaian lusuh dan jelek.”


“HP?”


“Tidak ada.”


“Duit?”


Kimah menggelengkan kepalanya.


“Kamu sendiri kan yang bilang dia anak orang kaya?”


“Iya kang. Soalnya dia barusan membeli ayam utuh seratus tujuh puluh lima ribu. Dia bayar tunai, padahal biasanya aku jual seratus duapuluh lima ribu.”


Wajah Misman semakin kesal. Dasar perempuan bodoh! umpatnya.


***


Sementara itu Erizal yang baru selesai mandi terlihat kaget saat tak melihat Marlon di tempatnya. Kedua tas mereka juga tidak ada. Pandangannya langsung berputar jauh, mengitari ruang lobi bandara yang sangat luas, mencari-cari tubuh sahabatnya diantara ribuan orang. Namun tak berhasil, dia sama sekali tak melihat Marlon berada di tempat itu. Kemana Marlon, katanya dalam hati. Tidak ada tanda-tanda keberadaanya. Erizal mulai cemas.



“Marlon!” teriaknya. “Marlon!”


__ADS_1


Suaranya yang keras melengking tajam memenuhi ruangan bandara. Sebagian besar orang langsung memperhatikannya. Tapi Erizal tidak perduli. Dia terus saja memanggil - manggil sahabatnya sampai ke jalan raya. Tentu saja suaranya mendapat perhatian dari pihak keamanan. Beberapa polisi langsung menggiringnya ke ruang keamanan.


__ADS_2