
EPS 26 GADIS BERBAJU PUTIH
Jagalah lidahmu. Letakkan dia dibelakang hatimu. Biar setiap kata yang terucap, adalah untaian mutiara makna yang penuh arti. Bila kata hampa makna, maka diamlah dalam fikirmu. Jadikan senyum menghiasi wajahmu. Bila kau pernah menyesal karena telah diam satu kali. Sungguh, kau akan lebih menyesal karena telah berucap berulang kali. Jagalah lidahmu, kecuali untuk kebaikan.
Melin hampir saja beranjak pergi, saat seseorang datang dari kejauhan menghampiri mereka. Seorang perempuan setengah baya, memakai caping dan menggendong bakul di punggungnya. Sambil berjalan bergegas, perempuan itu berteriak memanggil laki-laki di depannya. Laki-laki itu tersenyum sambil melambaikan tangannya, mungkin mereka adalah sepasang suami isteri.
“Bu, cepatlah kemari!”
“Ya, pak sebentar!”
Perempuan itu mempercepat langkahnya. Setelah sampai di tempat itu, dia malah menatap Melin dengan wajah heran. Lalu dia bertanya.
“Eh, ada neng geulis. Siapa atuh pak?”
“Dia gadis dari desa sebelah. Katanya mau pergi ke Bandung tapi tersesat kemari,” jelas suaminya.
Perempuan itu mengernyitkan keningnya. Dia menatap tubuh Melin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu menjadi salah tingkah. Dia cemas ibu itu mencurigai keberadaannya di hutan itu. Untunglah dia sudah banyak belajar, bahwa segala sesuatu harus dihadapi dengan tenang dan berpikir jernih. Dalam diamnya dia berpikir, sementara senyumnya tersungging manis di sudut bibirnya.
“Aku sudah menjelaskannya bu. Aku minta dia untuk turun terus ke sungai, nanti menyeberang dengan rakit atau perahu. Setelah itu dia bisa pergi ke terminal atau stasiun kereta.” ujar suaminya.
Ibu itu masih berdiri mematung. Tubuhnya sedikit gemetar. Entah apa yang dilihatnya, dia seperti sedikit takut melihat Melin.
__ADS_1
“Oh ya bu, apa kau membawa minum? Gadis ini katanya haus,” ujar suaminya lagi.
Lalu dia membantu isterinya menurunkan bakul yang ada di dalam gendongannya. Setelah menemukan botol minuman, dia segera memberikannya kepada Melin.
“Ambillah botol ini dan bawa buat bekal perjalananmu,” katanya sambil menyertakan beberapa potong singkong dan pisang rebus.
Melin menerima pemberian itu dengan senang hati. Setelah minum dan memakan singkong rebusnya, dia segera berpamitan kepada mereka. Suaminya tertawa senang karena sudah membantu gadis itu, tapi isterinya masih diam mematung. Menatap setiap langkah Melin menyusuri jalan setapak menuju sungai. Suaminya hanya menatap heran perilaku isterinya itu. Sampai Melin hilang dari pandangan, barulah dia bertanya.
“Ada apa bu? Kau tidak menyukai gadis itu?” tanya suaminya sambil menyentuh bahu isterinya.
“Hah!” isterinya seperti tersadar dari lamunan yang dalam. “Apa pak?”
“Perilakumu terlihat aneh. Kau tidak sedang cemburu kepada anak kecil itu kan?”
“Ih, bapak mirip anak baru gede saja, ngomong cemburu-cemburu. Ingat umur pak, kita nih sudah tua.”
“Lalu kenapa kau dari tadi hanya terdiam, tubuhmu gemetar seperti habis melihat hantu.”
“Eh, apa bapak tidak memperhatikan gadis itu memakai baju putih?”
Si bapak menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Memang bajunya berwarna putih. Lalu apa hubungannya?”
“Apa kau juga melihat wajah gadis itu cantik sekali?”
Bapak itu terdiam, mengingat-ingat sebentar. Ah, rasanya dia tidak begitu memperhatikan wajah gadis itu. Tapi kalau dipikir-pikir gadis itu memang terlalu cantik untuk ukuran orang desa seperti isterinya.
“Ya, kau benar, gadis itu memang cantik. Terus?”
“Kau tadi bilang kalau gadis itu berasal dari desa di pedalaman hutan kan?”
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
“Apa kau lupa kalau di dalam hutan tidak pernah ada satu desa pun?”
Si bapak menepuk jidatnya sendiri.
“Kau benar. Memang tidak ada satu desa pun di hutan sebelah.”
“Itu artinya gadis berbaju putih tadi pasti bukan manusia biasa.”
“Apa? Maksudmu gadis itu adalah hantu?” tanya si bapak.
__ADS_1
Perempuan itu menganggukkan kepalanya, sedang suaminya tertawa terbahak bahak. Tahyul di percaya, hahaha..