
EPS 58 MUTILASI
Siapa menyebar benih, dia akan merasakan panen. Siapa menabur angin akan menuai badai. Dan siapa yang menabur kebaikan, dia akan mudah mendapat kemakmuran.
Tiga hari setelah peristiwa penyergapan kurir narkoba itu, suasana di kota Jogjakarta mulai tenang. Orang mulai melupakan peristiwa itu dan tidak lagi membicarakannya. Di tempat parkir di luar bandara, terlihat orang-orang baru. Ballan dan kawan-kawannya diberi libur selama tiga hari oleh Melin. Selama tiga hari itu pula, dia terus mengawasi secara diam-diam pergerakan Banardi dan Andreas.
Namun dia tidak menemukan hal yang aneh.
Namun siang itu, mendadak keduanya menghilang dari pengawasan Ballan. Saat dia mencari di tempat biasanya tinggal, tidak ada. Begitu juga ketika dia menyambangi tempat-tempat yang biasa mereka gunakan untuk nongkrong dia juga tidak bisa menemukannya. Teman-temannya pun tidak ada yang tahu kemana mereka perginya. Ballan bergegas melaporkan hal itu kepada Melin.
“Maafkan aku ketua, Banardi dan Andreas pergi entah kemana sejak tadi pagi,” ujar Ballan.
Wajah Melin langsung terkesiap. Marlon dan Erizal juga menampakkan keterkejutan yang sama.
“Bagaimana kau bisa gagal menjalankan tugasmu Ballan?” tanya Marlon sambil menahan kemarahan.
Rupanya dia tidak ingin lagi menunjukkan ketidaksukaannya kepada Ballan dihadapan sahabatnya.
“Tadi malam mereka masih ada bersamaku. Kami duduk dan berbincang di warung kopi ‘Mbekayu Siti’ sampai larut. Tengah malam mereka pamit pulang untuk tidur. Aku pun mengikuti secara diam-diam sampai ke rumah mereka. Tidak ada yang aneh.”
“Dan hari ini kau belum bertemu mereka sejak pagi?” tanya Melin.
“Ya, ketua.”
Ballan menundukkan kepalanya. Melin melemparkan pandangannya keluar, lalu melihat keadaan di setiap sudut lingkungan rumah Misman. Entah apa yang dia cari, tapi perasaannya mengatakan akan ada beberapa orang yang datang. Erizal mendekatinya dari belakang, rupanya dia juga merasakan hal yang sama. Sayup-sayup telinganya seperti mendengar suara tangisan seseorang.
“Ada apa Melin?” bisiknya.
“Apa kau juga mendengarnya Zal?” sahut Melin tanpa menoleh.
Erizal terdiam beberapa saat, berusaha menajamkan pendengarannya. Suara tangisan itu masih terdengar walau jauh.
“Maksudmu, … suara tangisan itu?” tanya Erizal ragu.
Melin menganggukkan kepalanya. Dan suara itu semakin keras mendekati mereka. Erizal memandang wajah Marlon dan Ballan.
“Apa kalian mendengar suara orang menangis?”
Marlon dan Ballan mengangguk berbarengan.
“Iya. Suaranya semakin keras, dan menuju ke markas kita.” sahut Marlon.
Tanpa di komando, Erizal, Marlon dan Ballan langsung berdiri di teras rumah dan bersikap waspada. Sementara Melin berdiri di belakang mereka dengan wajah tegang. Suara tangisan seorang laki-laki itu semakin mendekat ke ujung gang mereka. Selain menangis dia juga berbicara sendiri tanpa arti yang jelas. Orang-orang yang melihatnya sepanjang jalan hanya terdiam mendengarnya. Mereka enggan berurusan dengan anak-anak geng Misman.
__ADS_1
“Eh, itu kan suara Andreas?” ujar Balan.
Melin terkesiap, Marlon langsung melompat ke jalan sedangkan Erizal hanya mengerutkan keningnya. Mereka semua memusatkan perhatiannya ke ujung gang.
“Hua…hua,..! Temanku mati…! Temanku mati…huaaa..!”
Lalu di ujung gang muncullah seorang laki-laki tua. Kedua tangannya menarik ujung sebuah gerobak tanpa atap masuk ke dalam gang. Sementara di belakang gerobak terlihat seorang pemuda ikut mendorongnya sambil menangis.
“Hua…hua,..! Temanku mati…! Temanku mati…huaaa..!”
Ballan membelalakkan matanya.
“Andreas!” teriaknya.
Dia langsung berlari menyongsong gerobak itu yang berhenti persis di depan rumah. Andreas langsung duduk menggelosoh di atas tanah. Raungannya semakin keras.
“Ballan…hua..! Banardi…huaaa…Lan!”
Ballan memandang wajah Andreas dengan bingung.
“Banardi?:
“Iya Lan, Banardi sudah mati… huaaa!”
Mendengar kata-kata Andreas, wajah Ballan semakin tegang.
“Apa!? Banardi mati?”
Andreas menganggukkan kepalanya kembali.
“Katakan padaku, dimana Banardi sekarang!” suara Ballan berubah menjadi keras.
“Huaaa …!!”
Bukannya menjawab pertanyaan, suara tangis Andreas malah melengking lebih tinggi. Merasa gemas. Ballan melayangkan telapak tangannya ke pipi Andreas.
“Plok!”
“Auw!”
__ADS_1
Tubuh pemuda Maumere itu terpelintir ke belakang, lalu jatuh terduduk. Sesaat dia masih tertegun sambil merasakan sakit. Dielusnya pipi kanannya perlahan.
“Dimana Banardi sekarang Andreas!!” teriak Ballan.
Andreas memandang wajah Ballan dengan rasa takut. Tapi ujung matanya melirik ke atas gerobak. Diikuti telunjuk jari tangannya. Kedua mata Ballan mengikuti gerakan tangan Andreas yang menunjuk sebuah karung yang terikat di atas gerobag. Karung itu terlihat baru dan terbuat dari bahan yang bagus. Ballan mendekati karung itu. Lalu dengan sekali gerakan, tangannya yang berotot mengangkat karung itu dan diletakkan di atas tanah.
Ballan melirik Andreas sekali lagi. Pemuda itu menganggukkan kepalanya, seolah mengatakan bahwa tubuh Banardi ada di dalam karung itu.
“Sret!”
Ballan mulai membuka tali ikatan karung itu. Ikatannya simple dan mudah di buka. Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Semua perhatian tercurahkan ke karung itu. Hati mereka dipenuhi rasa ingin tahu. Benarkah ada tubuh Banardi di dalam karung itu? Lalu siapa yang berani membunuhnya? Banardi adalah anak buah kang Misman yang cukup disegani. Sejak usia lima tahun, dia sudah digembleng langsung oleh preman legendaris itu.
“Plek!”
Ballan membuka tali itu ke tanah. Lalu dengan tangan gemetar, dia membuka bibir karung itu perlahan. Bagaimanapun Banardi adalah anak buahnya di tempat parkir yang paling dia percaya. Namun begitu karung itu terbuka, dan dia melihat ke dalam untuk mengetahui isinya, wajah Ballan langsung terkesiap. Tubuhnya bergetar hebat seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka tanpa dia sadari.
“Hueeek ! Hueeek!”
Ballan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Matanya melotot merah dan air liurnya mengalir perlahan. Berkali-kali dia membuka mulutnya, tapi sudah tidak ada isinya.
“Apa yang kau lihat Ballan?” tanya Melin.
Marlon melompat dengan sigap. Lalu dia membuka karung itu lebar-lebar dan ditunjukkanya kepada Melin. Kedua matanya ditutup rapat.
“Akh!”
Melin menjerit keras sambil memalingkan mukanya. Erizal yang penasaran, ikut melihat ke dalam karung. Di dalamnya terlihat kepala Banardi dengan senyum menyeringai. Namun kepala itu tidak tersambung dengan tubuhnya. Kepala itu terletak di bagian tertinggi dari tumpukan anggota tubuh Banardi yang dikumpulkan jadi satu. Dan anggota-anggota tubuh itu terikat di dalam plastik yang cukup tebal sehingga tidak berbau.
“Banardi?” tanya Erizal lirih.
Di bawah, tumpukan potongan-potongan anggota tubuh itu tampak tercampur dengan darah yang tercecer disana-sini. Erizal langsung mundur tiga langkah, sebelum jatuh terduduk seperti tak berdaya. Baru sekali ini dalam hidupnya, dia melihat korban pembunuhan. Dan baru kali ini juga dia melihat tubuh manusia yang di potong-potong setelah di bunuh.
“Ketua, tubuh Banardi telah di mutilasi!”
__ADS_1
Melin langsung masuk ke dalam rumah, lalu duduk di atas singgasananya. Gadis itu berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Betapa kerasnya hidup anak-anak jalanan itu. Maut senantiasa mengintai keselamatan para penguasa jalanan di malam hari.