
EPS 51 MELANJUTKAN SEKOLAH.
Namanya Karsim. Usianya baru dua belas tahun. Katanya baru lulus SD. Kedua orang tuanya bercerai enam bulan yang lalu. Ibunya pulang ke rumah kakeknya di desa bersama adiknya yang masih berumur tujuh tahun. Sedangkan dia harus ikut ayahnya. Namun dua bulan yang lalu ayah nya menikah lagi dengan seorang janda beranak dua. Dan ibu tirinya tidak menghendakinya tinggal bersama mereka. Akhirnya dengan berat hati, ayahnya pun mengusirnya.
“Tega sekali. Ayah macam apa dia?” geram Marlon.
Semua terdiam. Erizal memandang Melin sejenak. Kedua mata gadis itu memerah, namun dia berusaha menahan perasaannya. Lalu pemuda itu mengalihkan perhatiannya kepada Karsim kembali.
“Jadi, selama ini kau tidur dimana?” tanya Erizal.
“Aku tidur di jalanan kak. Tapi lebih sering di masjid atau mushola yang terbuka. Supaya paginya aku tetap bisa sholat dan membersihkan diri,” jawab Karsim.
Erizal tersenyum. Diusapnya kepala anak kecil itu dengan lembut.
“Hebat. Orang tuamu pasti akan menyesal karena telah menyia-nyiakan anak sholeh sepertimu.”
Melihat kondisinya, akhirnya Melin mengajak Karsim untuk tinggal bersama mereka, menghuni markas Geng Misman. Tentu saja Karsim senang sekali. Apalagi dia diijinkan untuk membantu Melin dan lainnya bekerja di warung makan. Itu artinya dia punya tempat tinggal dan tidak akan kelaparan lagi. Dan hari ini penghuni rumah Misman bertambah satu lagi menjadi empar orang.
“Terimakasih ya semuanya. Kak Melin selain cantik juga baik,” puji Karsim.
Semua jadi tertawa.
“Mulai memuji kak Melin nih. Pasti ada maunya,” canda Marlon.
Karsim menggelengkan kepalanya.
“Aku mujinya tulus kok kak. Dari dalam sini,” ujarnya sambil menempelkan telapak tangan kananya di dada.
“Hehehe….,” semua tertawa lagi.
Ternyata Karsim anak yang periang dan lucu. Dia juga sangat rajin. Hari-hari dia habiskan di warung untuk membantu pekerjaan di dapur. Dia mendapat tugas untuk membersihkan lantai dan mencuci peralatan makan yang baru saja dipakai oleh para pembeli. Hanya saja Melin harus sabar membimbingnya. Dia seperti tidak fokus dan sering lupa apa yang diperintahkan Melin.
“Sim beli gula satu kilo ke toko depan ya?” ujar Melin.
“Ya kak,” sahut Karsim sambil bangkit dari duduknya.
Setelah menerima uang anak itu segera berlari ke toko di seberang warung. Namun tak lama kemudian dia balik lagi.
“Kok cepet banget Sim?” tanya Melin heran.
“Eh, anu..kakak tadi menyuruh aku beli apa?” Karsim malah balik bertanya.
Melin tersenyum.
__ADS_1
“Beli gula satu kilo.”
Karsim segera berbalik dan hampir berlari kembali ketika Erizal memanggilnya kembali.
“Sim!”
Karsim menghentikan langkahnya dan memandang Erizal.
“Coba aku tes. Kak Melin tadi menyuruh kamu beli apa coba?”
Karsim tampak kesal.
“Beli gula satu kilo di toko depan!”
Erizal dan Marlon malah tertawa.
“Bagus. Berarti kamu mendengarkan dengan baik perintah kak Melin,” kata Marlon. “Sudah sana segera berangkat, malah bengong di situ.”
“Huu!” Karsim memonyongkan mulutnya.
Lalu secepatnya berlari ke toko. Tak lama kemudian, dia sudah kembali sambil membawa tas berisi gula.
“Ini kak, gulanya,” katanya kepada Melin.
Gadis itu menerimanya, lalu mengecek isi tas kresek.
“Lho Sim, kembaliannya mana? Kamu kan tadi membawa uang seratus ribuan.”
“Mba Melin!” terdengar suara memanggil.
Melin menoleh. Nampak bu Warto pemilik toko memanggilnya dari seberang jalan.
“Ini uang kembaliannya!” teriaknya.
Rupanya Karsim lupa meminta kembalian. Dia langsung lari saja begitu mendapatkan apa yang dia beli.
“Oh ya kak, aku lupa.”
Karsim segera berlari lagi ke arah toko diiringi gelak tawa Erizal dan Marlon. Hehehe…Karsim, Karsim.
***
Malam sudah larut. Kecuali Karsim, penghuni markas Misman terlihat belum tidur. Mereka nampak asyik berdiskusi, tenggelam dalam perbincangan panjang. Wajah Melin, Erizal dan Marlon terlihat serius. Rupanya mereka sedang membicarakan tentang masa depan mereka, terutama tujuan Marlon dan Erizal pergi dari rumah untuk melanjutkan sekolahnya.
“Minggu depan, pendaftaran sekolah sudah mulai di buka,” ujar Erizal membuka pembicaraan. “Sesuai janjiku pada bundo, aku akan mendaftarkan diri di salah satu SMA.”
“Aku juga. Aku sudah berjanji pada papa Neles dan mama Perpetua untuk mengejar cita-citaku menjadi dokter. Aku akan ikut denganmu Erizal.”
__ADS_1
Erizal menganggukkan kepalanya. Lalu keduanya menatap Melin. Gadis itu hanya memandang wajah kedua sahabatnya dengan tatapan penuh tanya.
“Sekolah? Memang kalian mempunyai uang?”
Erizal dan Marlon menggukkan kepala hampir berbarengan.
“Maaf Melin. Aku masuk ke kamar dulu,” ujar Erizal.
“Aku juga,” sahut Marlon.
Lalu keduanya masuk ke dalam kamar. Hanya beberapa saat kemudian mereka keluar kembali. Erizal membawa celana pendeknya sedangkan Marlon membawa sepatu bututnya. Lalu dengan gunting kecil, Erizal membuka jahitan kantong celana besar-besar yang menempel di celana itu. Dua di depan dan dua di belakang. Lalu dia mengeluarkan isi kantong-kantong itu. Satu kantong berisi uang lima juta rupiah.
“Semuanya dua puluh juta. Wow, banyak sekali Erizal,” seru Melin tak percaya.
“Ibuku memberiku uang ini untuk mendaftar SMA dan membiayai hidupku selama satu tahun. Tentu saja aku harus hemat agar cukup, sampai tahun depan aku bisa pulang ke Padang kembali,” kata Erizal. “Dan aku harus mencari pekerjaan sambilan.”
Melin memandang wajah Erizal tanpa kata-kata.
“Kalau papaku memberikan beberapa butir emas yang di simpan dalam sepatuku. Aku tidak boleh pulang ke Papua sampai aku menjadi dokter,” kata Marlon kemudian.
Marlin membuka sol sepatunya dengan pisau silet. Lalu mengeluarkan sepuluh butir emas sebesar kelereng. Warnanya begitu benderang memantulkan cahaya lampu malam. Membuat kedua mata Melin dan Erizal mengerjap-ngerjap karena silau.Keduanya terlihat terkesiap melihat butiran-butiran emas itu.
“Semua emas ini milikmu Marlon?” tanya Melin tak percaya.
Marlon menganggukkan kepalanya.
“Apa? Kau anak orang kaya Marlon!” seru Erizal.
“Papaku seorang kepala suku dari kelompok-kelompok suku yang ada di lembah Baliem. Dan emas mudah didapatkan di tanah Papua,” sahut Marlon. “Ini semua untuk biaya pendidikan dan biaya hidupku selama aku jauh dari rumah.”
Lalu Erizal dan Marlon mengalihkan perhatiannya kepada Melin. Wajah gadis itu mendadak berubah menjadi sedih. Dia juga ingin melanjutkan sekolah seperti mereka, sayang sekali dia tidak mempunyai uang. Papa dan mamanya tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai sekolahnya.
“Kenapa kau terlihat sedih Melin? Apa kau tidak ingin melanjutkan ke SMA seperti kami?” tanya Erizal.
Melin menggelengkan kepalanya.
“Tentu saja aku ingin sekolah SMA. Tapi itu tidak mungkin…”
“Kenapa?”
“Aku tidak seperti kalian. Aku berasal dari keluarga miskin di pinggiran kota Singkawang. Papaku tidak punya cukup uang untuk mengirimkan aku ke Jawa guna menyelesaikan pendidikan,” sahut Melin.
__ADS_1
Sambil berkata begitu kedua mata Melin nampak berlinang air mata.