
EPS 50 AKU LAPAR
Begitulah hidup, memberi peran kepada setiap orang dimana cerita itu bermula. Kadang kita memiliki peran antagonis, di kisah hidup orang lain. Seringkali kita mendapatkan peran yang menyedihkan di kisah kita sendiri. Namun semua warna itu akan memberikan kita kebaikan. Karena pada hakekatnya, hidup adalah proses yang membangun karakter kita melewati episode demi episode kehidupan sampai kita mengenal diri kita sendiri.
Dibawah sinar purnama, anggota Geng Misman masih duduk melingkar. Suasana cukup hening. Perhatian mereka terpusat ke tengah arena dimana Marlon dan Santo masih berpelukan, setelah melakukan pertarungan hebat. Erizal mendekati Marlon dan menyentuh bahunya dari belakang.
“Kau tidak terluka Marlon?” bisiknya.
Marlon menoleh. Lalu tersenyum melihat Erizal yang mencemaskannya. Digelengkannya kepalanya, menandakan kalau dia dalam keadaan baik-baik saja. Di rangkulnya tubuh sahabatnya itu, lalu ditarik ke depan. Pandangannya memutar ke arah orang-orang yang duduk memenuhi tanah lapang.
“Oh, ya hampir aku terlupa. Perkenalkan, ini adalah sahabatku, namanya Erizal. Mulai hari ini, dia menyatakan diri untuk bergabung dengan kita. Kerua kita sudah memberikan persetujuannya,” katanya.
Orang-orang mengalihkan pandangannya kepada Melin sekejap. Setelah gadis itu menganggukkan kepalanya, mereka kembali memandang Marlon dan Erizal.
“Apakah ada yang ingin mengujinya?” katanya.
Orang-orang masih terdiam. Rupanya mereka mulai mengakui ketangguhan Marlon. Mereka cukup segan untuk menanggapi tantangan pemuda Papua itu. Meskipun dalam pikiran mereka Erizal tak setangguh Marlon, tapi mereka tetap tidak bereaksi. Mungkin mereka juga sudah menerima pemuda Sumatera itu menjadi bagian dari geng Misman.
Setelah itu mereka duduk kembali. Paing memberi tanda kepada semua anggota untuk merapikan tempat duduknya. Setelah itu dia mendekati Melin dan memintanya untuk berdiri.
“Monggo mba Melin, silahkan menyampaikan kata-kata semangat untuk anak-anak semua,” katanya.
Melin menganggukkan kepala. Perlahan dia bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah ke tengah arena. Semua orang menatapnya. Semua pandangan terpana. Semua hati terpesona. Di bawah guyuran sinar rembulan, wajah Melin begitu cantik bak bidadari yang baru saja turun dari warna pelangi. Ah, baru sekali ini mereka melihat ketua geng jalanan yang begitu cantik.
“Teman-teman semua, terimakasih sudah hadir. Aku hanya akan menyampaikan kata-kata dan pesan dari bunda kita, yu Kimah, untuk kita semua.”
Melin berhenti sejenak, lalu menghela nafas panjang. Orang-orang terdiam menunggu.
“Pesan ibu, kita harus tetap bersatu, menjaga kerukunan sebagai satu keluarga. Tempat ini adalah wilayah kita mencari makan dan menjamin kehidupan kita. Banyak orang-orang atau kelompok yang setiap saat mengancam untuk merebut wilayah kekuasaan kita. Apalagi setelah perginya ayah Misman, mereka semakin berani mengganggu keberadaan kita. Bekerjasama dan saling mengawasi satu sama lain. Bersikap waspada dan hindari pengkhianatan.”
__ADS_1
Melin kembali menghentikan kata-katanya. Tatapan matanya berputar melihat satu persatu wajah-wajah anak buahnya. Tatapan yang begitu teduh dan menyejukkan.
“Berjanjilah kalian untuk setia.”
Ucapannya singkat menutup kata-katanya malam itu. Ucapan sederhana yang terasa begitu hangat mengisi relung hati setiap orang yang mendengarnya. Suasana masih terasa hening. Lalu Paing berdiri dan melangkah ke tengah arena. Tangan kananya diangkat tinggi, lalu dia berteriak menyuruh semua orang menirukan kata-katanya.
“Kami yang duduk dibawah terangnya sinar rembulan, disaksikan bintang-bintang. Bersumpah setia, menjaga nama besar geng Misman dan tunduk dibawah kepemimpinan Melin!”
Terdengar suara gemuruh saat mereka menirukan kata-kata Paing. Suara gemuruh yang menggetarkan segenap jiwa. Suara gemuruh yang membuat rasa keakuan luruh dan runtuh, lalu larut dalam rasa kebersamaan dalam satu keluarga besar geng Misman.
***
Suasana di warung Yu Kimah terlihat ramai. Libur panjang membuat bandara menjadi sibuk. Banyak orang dari luar kota yang berkunjung ke Jogjakarta. Sebagian besar dari mereka adalah wisatawan, tapi ada juga para pendatang yang ingin mengadu nasib di kota pelajar itu.
Melin dan Marlon sering tertawa sendiri kalau mendengarnya. Berkat Erizal, sekarang menu makanan di warung Yu Kimah bertambah banyak. Ada beberapa makanan khas Padang yang di sajikan, seperti rendang, gulai ayam, terong balado dan telur goreng krispi. Dan kehadiran menu baru itu di sambut antusias pembeli yang kelaparan. Mereka terlihat puas, apalagi Erizal juga ternyata pandai memasak.
“Miss, boleh saya dibungkusin nasi sama rendang, buat bawa ke hotel,” ujar seorang turis asing yang keenakan setelah makan rendang.
Melin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu mengambil kertas minyak dan membungkus nasi serta rendang, sayur daun singkong dan sambel cabe hijau. Lalu disiram santan berbumbu pedas berwarna coklat kekuningan. Dari aromanya saja sudah membuat perut keroncongan.
“Marlon, kau lihat anak kecil berkaos putih itu?” bisik Erizal kepada Marlon.
Marlon menganggukkan kepalanya.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Dari tadi dia berdiri di situ sambil memandang gambar makanan di warung kita. Kelihatannya dia ingin makan tapi tidak berani masuk.”
Marlon menajamkan pandangannya. Memang benar, di depan warung ada anak kecil berkaos putih berdiri sambil memegang perutnya. Pasti anak itu kelaparan, bisiknya.
__ADS_1
“Kau benar Erizal. Datangi anak itu, tawari untuk masuk dan makan. Tanyakan juga orang tuanya ada dimana. Jangan-jangan dia terpisah dari keluarganya.”
Erizal menganggukkan kepalanya. Lalu bergegas berjalan keluar menghampiri anak itu. Namun belum juga dia sampai, tiba-tiba anak itu jatuh tertelungkup diatas trotoar.
Brug!
“Hai!” Erizal yang terkejut, reflek melompat. “Kau kenapa?”
Tidak ada jawaban. Erizal segera mengangkat tubuh kecil itu dan dibaliknya. Ternyata anak itu pingsan. Orang-orang sempat memperhatikannya. Lalu Erizal membawanya masuk ke dalam warung.
“Kenapa Zal?” tanya Marlon.
Melin juga ikut menghampirinya.
“Ada apa Erizal? Anak siapa ini?”
Erizal menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja anak ini pingsan di depan warung kita.”
Melin terlihat panik. Dia mengambil kain bersih dari dalam bilik dan digelar diatas kursi panjang. Ditaruhnya bantal kecil di atasnya.
“Kalau begitu, baringkan dia di sini. Kepalanya di bawah, kakinya diatas bantal.”
Erizal meletakkan tubuh anak itu di atas kursi panjang. Lalu Melin membawa segelas teh manis hangat. Sedikit demi sedikit diteteskannya air teh itu di atas bibir anak itu dengan sendok kecil. Perlahan-lahan anak itu menggerakkan tangannya. Lalu kedua matanya terbuka. SEmakin lama semakin lebar. Bola matanya berputar, mengamati wajah-wajah asing yang mengelilinginya.
“Eh, kau sudah sadar?” tanya Melin.
Anak itu masih diam. Rupanya dia belum sadar sepenuhnya dan masih bingung karena berada di tempat yang terasa asing. Melin menyuapi air teh manis itu sekali lagi, tapi anak itu menggelengkan kepalanya. Sambil memegangi perutnya dia berbisik lirih.
“Aku lapar.”
__ADS_1