SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 20 KEPUTUSAN MELIN


__ADS_3

EPS 20 KEPUTUSAN MELIN


Kutemukan sekuntum bunga, di taman hatiku. Wanginya semerbak seharum nafasmu. Membawaku pada mimpi yang tak bertepi. Meraihmu dan mendekapmu, menciummu dan mengendusmu. Menyelimutimu dengan doa-doa, agar selalu tumbuh dan berkembang. Segala cinta yang ingin kutautkan bersamamu.



Plak!



Melin terhenyak. Di depan matanya sendiri, papa yang dikenalnya sedikit pendiam dan jarang marah-marah, tiba-tiba menampar wajah mamanya. Tangan yang terayun dari sebuah gerakan reflek di luar kesadaran. Tangan yang baru saja terlepas dari himpitan hutang yang membebaninya beberapa hari ini. Dan tiba-tiba mama hendak melemparkan kembali beban itu kepadanya?



“Papa!” teriak mama sambil memegangi pipi kirinya.



Ditatapnya wajah laki-laki yang dicintainya itu beberapa saat, tanpa kata-kata. Pandangannya jelas tak percaya apa yang baru saja menimpanya. Namun, perlahan kemudian kedua matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, menahan kekecewaan. Mungkin tamparan papa tidak begitu keras, tapi rasa sakitnya sungguh luar biasa. Baru sekali ini dalam hidupnya, dia ditampar oleh suaminya.



Lalu tubuh perempuan setengah baya itu bangkit dari duduknya, lari ke dalam kamar. Menangis. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Sebagai seorang isteri, dia memang bukan pemegang keputusan tertinggi, tapi apa salahnya kalau dia ingin suara hatinya juga dihargai? Paling tidak didengarkan sebelum suaminya mengambil keputusan? Apalagi ini menyangkut masa depan puterinya.



Di sudut ruangan, Melin hanya bisa memandang apa yang baru saja terjadi. Dia duduk terdiam menyaksikan mamanya meneteskan air mata, lalu berlari masuk ke dalam kamar dan menangis terisak. Suaranya terdengar lirih tapi menyayat hati. Sementara Papanya masih terduduk di kursi reyotnya dengan wajah tertunduk seperti menyesali diri. Melin tahu Papa sangat menyayangi mama.



“Aku harus bersikap,” batinnya.



Gadis yang beranjak remaja itu bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan mendekati papa. Dipeluknya tubuh papanya dari belakang, seolah sedang memberi kekuatan disaat papanya sedang terpuruk. Tapi papanya sama sekali tidak bereaksi. Wajahnya tetap tertunduk, bibirnya juga tetap terkatup.



“Pa…,” bisik Melin.


Papa menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dalam alunan penuh kegelisahan.


“Maafkan papa Lin,” ujar papa.


“Iya, pa. Melin baik-baik saja. Apapaun keputusan papa, Melin akan taati,” ujarnya.



Perlahan papa mengangkat kepalanya. Dipandanginya wajah Melin dalam-dalam. Dia baru sadar ternyata puterinya memiliki wajah yang sangat cantik.

__ADS_1


“Tidak Lin,” ujar papa sambil menggelengkan kepalanya. “Ini semua kesalahan papa. Tidak seharusnya aku membebankan kesalahanku pada puteriku sendiri.”



Melin terdiam mencoba memahami kata-kata papa. Di dalam kamar, isak tangis mamanya juga sudah tak terdengar lagi.


“Benar kata-kata Mama. Kau tidak boleh pergi kemana-mana. Kita akan selalu bersama. Papa adalah pemimpin keluarga, jadi ini adalah tanggung jawab papa.”



Melin mengernyitkan dahinya.


“Apa maksud papa?”


“Aku akan mengembalikan uang ini kepada Teddy. Dan besok malam, aku akan menyerahkan rumah ini kepada Baba Ig Yan untuk dibayar sekalian sesuai nilainya.” ujarnya dengan suara tegas.



Melin membelalakkan matanya.


“Apa? Lalu kita akan tinggal dimana?”


Papa menggelengkan kepalanya.


“Aku juga belum tahu. Besok papa akan ke pasar, mencari informasi rumah kontrakkan kepada teman-teman papa.”




“Kita harus kuat Melin. Kamu harus sekolah. Sisa hasil penjualan rumah bisa papa gunakan untuk membiayai sekolahmu sampai SMA.”



Melin menyentuk kedua bahu papanya. Lalu dipijit-pijitnya bahu itu perlahan. Ah, bahu papa yang dulu keras dan kuat, sekarang sedikit lemah dan berkeriput. Usaha apa yang akan papa jalani, setelah beberapa kali gagal membangun bisnis? Perasaan tak tega perlahan menguasai hatinya. Pikirannya terus bekerja, bagaimana mencari cara terbaik untuk membatalkan keputusan papa dan meluluhkan hati mama.



“Bagaimana kalau Melin berpikir sebaliknya pa?” ujarnya.


Papa tidak langsung menjawab, tapi malah balik bertanya.


“Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?”


Melin menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, ucapkan saja. Biar papa dan mamamu mendengarkan.”


__ADS_1


Melin tersenyum, mecoba menenangkan hatinya yang tiba-tiba bergemuruh.


“Emh..Bagaimana kalau Melin menuruti ajakan koko Teddy untuk pergi ke Jakarta?”



“Apa!?”



Bagai mendengar suara petir di siang bolong, papa hampir terloncat mendengar kata-kata puterinya. Melin ingin pergi ke Jakarta?


“Melin sudah besar, sudah bisa menjaga diri. Sudah saatnya aku bekerja membantu papa dan mama serta menyekolahkan adik-adik. Nanti aku akan menabung. Kalau sudah banyak, aku akan pulang, untuk menyelesaikan sekolahku. Papa tidak perlu menjual rumah. Bayarlah utang ke Baba Ig Yan dengan uang dari Ko Teddy. Nanti biar Melin yang melunasinya ke Ko Teddy.”



Melin menjelaskan panjang lebar alasan-alasan serta keuntungannya kalau dia bekerja di Jakarta. Papa dan mamanya hanya bisa saling memandang sambil meneteskan air mata. Puteri mereka yang baru beranjak remaja harus hidup di belantara Jakarta yang tidak dikenalnya? Entah apa yang ada di dalam pikiran Melin, mereka tidak tahu. Seperti juga mereka tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka sendiri saat itu.


***


Pagi itu lumayan dingin. Melin sudah siap pergi menunggu mobil jemputan yang akan datang sesuai arahan Teddy. Gadis itu terlihat cantik dengan syal warna hijau muda melingkar di lehernya. Walaupun semua apa yang melekat di tubuhnya adalah pemberian teman-temannya tapi dia tetap percaya diri. Celana hitam yang sedikit kebesaran, kaos bergaris serta sepatu berleher tinggi yang menjepit kaki.



Jaket yang menutupi tubuhnya terlihat sangat ketinggalan jaman, berwarna hijau tua milik paman Han saat masih bujangan. Ada kantung penutup kepala yang talinya pengencangnya sudah hilang, sehingga selalu terbang tertiup angin. Walaupun begitu tidak mengurangi pesonanya sebagai amoy muda yang sedang mulai mekar kuncupnya.



“Ciiit!”



Tiba-tiba sebuah mobil minibus warna putih berdiri persis di depannya. Lalu kaca jendelanya terlihat bergerak turun. Seorang laki-laki berwajah menyeramkan tersembul di kursi paling depan. Raut wajahnya sama sekali tidak menampakkan keramahan. Tanpa melihat kemana-mana dia menatap tubuh Melin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Papa dan Han segera menghampiri mobil itu. Tapi orang itu sama sekali tak menghiraukannya.



“Kamu Melin ya?” ucapnya.



Melin menganggukkan kepalanya. Orang itu lalu membuka pintu dan turun dari mobil. Badannua yang gempal, terlihat tinggi menjulang bagaikan tugu beton yang kokoh. Lalu dia bergerak membuka pintu belakang.



“Masuklah!”



Melin masih berdiri. Ada rasa takut dan ragu menggerayangi hatinya. Benarkah keputusannya sudah benar? Meninggalkan Papa dan Mamanya untuk bekerja di Ibukota yang jauh dari bayangannya?

__ADS_1


__ADS_2