
EPS 35 DIBELI MISMAN
Ketika jiwa-jiwa yang kosong merasuk ke dalam. Menggonggong membelah sunyi menegakkan bulu roma. Meliuk di bawah guyuran sinar rembulan pada puncak purnama. Dan pertarungan itu telah dimulai. Membenturkan kemarahan dan ego pemilik kuasa. Lalu siapa yang berani meraup wajah bulan, bula ada matahari di belakangnya?
Traang!
Suara gesekan logam dan bebatuan terdengar keras ketika ujung pedang katana milik Misman menyentuh permukaan lantai. Diselingi percikan api yang timbul akibat gesekan itu, membuat suasana semakin menegangkan. Narno sudah pasrah kepada nasibnya. Dia mencoba mempersiapkan diri untuk menghembuskan nafas terakhirnya. Bukan saja karena takut tapi dia tahun batasan dirinya. Dia tak mungkin menang bertarung dengan preman bandara itu.
“Maafkan aku kang..” ujarnya terisak.
Pada akhirnya dia memasrahkan dirinya. Duduk bersujud di depan Misman yang sudah siap menebas lehernya. Keringat dingin seketika mengalir membasahi tubuhnya. Detik-detik kematian itu terasa begitu dekat. Dan dia baru teringat, betapa banyak dosa-dosa yang telah diperbuat selama hidupnya.
Heyaa…!
Misman mengangkat pedang samurainya. Nampak kilat cahaya yang membias dari logam cahaya yang terkena temaram cahaya bulan. Narno memejamkan matanya.
__ADS_1
Tolong!
Teriakan itu sangat keras. Konsentrasi Misman langsung goyah. Sabetan samurainya meleset beberapa sentimeter dari kepala Narno.
Trang!
Misman menoleh ke belakang. Teriakan keras itu bukan berasal dari mulut Narno, tapi muncul dari bibir Melin. Tiba-tiba gadis itu bangun dari pingsannya dan duduk dengan tegak. Tapi matanya masih terpejam. Misman menatapnya tajam, lalu melompat dengan cepat, Tangannya menggapai kepala Melin yang jatuh kembali ke belakang. Menghindarkan benturan yang bisa menyebabkan luka. Dan gadis itu tertidur kembali.
‘Hah? masih utuh. Baru kali ini sabetan samurainya meleset,’ batinnya penuh rasa lega.
“Pergi kamu!” perintah Misman. “Kali ini aku mengampunimu!”
Narno langsung menggunakan kesempatan ini untuk mengambil langkah seribu. Dalam hatinya dia bersumpah, dia tidak akan kembali lagi ke tempat ini. Tidak akan kembali ke dunia hitam, dan mencari jalan hidup yang lebih terang.
Misman mencopot jaketnya. Lalu digunakan sebagai alas dan meletakkan kepala Melin di atasnya. Ditatapnya wajah gadis itu dalam-dalam. Ah, gadis ini masih terlalu muda, paling usianya sekitar anak SMP, batinnya. Sisi malaikat di dalam dirinya menyuruhnya untuk menyelamatkan gadis ini. Dan dia berharap kakaknya gagal mendapatkan pembeli untuk gadis bermata sipit dan berwajah oriental itu.
“Aku akan membawanya pulang. Kimah pasti senang kalau ada orang yang menemaninya di warung dan di rumah,” batinnya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara kaki di luar rumah. Misman mengenalinya, itu adalah langkah kaki Darsim, kakaknya sendiri. Pasti dia akan datang untuk menjemput Melin dan membawanya ke pembeli langganannya. Begitu masuk ke dalam ruangan, Darsim langsung membuang puntung rokoknya yang masih panjang. Wajahnya terlihat begitu marah dan kesal.
“Huh! Jancuuk! Sontoloyo!” umpatnya.
"Ada apa kang?" tanya Misman.
“Pembeliku sedang pergi ke luar kota. Dia tidak bisa membeli gadis ini sekarang. Artinya aku gagal mendapatkan uang malam ini!”
Misman malah tertawa.
“Sudah kang biar aku yang membelinya,” katanya. “Berapa yang kau butuhkan?”
Darsim tercengang mendengar kata-kata adiknya.
“Apa? Kau berniat membeli gadis ini?”
Misman menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia yakin, gadis ini akan banyak memberikan keberuntungan dalam hidupnya.
“Ya. Sebutkan nominalnya, aku bayar tunai.”
__ADS_1