
EPS 40 PENASARAN
Kurasakan gejolak yang berbeda saat ku tatap wajahmu. Sentuhanmu begitu lembut menyapu wajah dan pikiranku. Menciptakan fatamorgana dalam ku diam terpaku. Detik-detil yang terlewati tanpa bayangmu melayang-layang dalam anganku. Apakah ini yang disebut terpesona pada pandangan pertama?
Selesai sholat shubuh, Erizal duduk menunggu di ruang tamu. Sesuai cerita bu Lina tadi malam, pagi ini dia akan dijemput oleh aparat kepolisian untuk dipertemukan dengan Marlon setelah polisi berhasil menangkap penculiknya. Hampir saja dia tidak bisa tidur memikirkan peristiwa yang akan terjadi. Rasa gelisah karena ingin segera bertemu dengan Marlon membuat kedua matanya sulit untuk dipejamkan.
Tok! Tok! Tok!
Assalamu’alaikum!
Terdengar pintu di ketuk dan orang mengucapkan salam. Bu Lina yang sedari tadi masih berada di dalam kamarnya kemudian keluar dan membuka pintu.
Wa’alaikumsalam!
Tampak kang Peno berdiri di depan pintu. Di belakangnya ada beberapa orang berjaket hitam. Tubuh mereka tinggi besar. Ah, mereka pasti orang-orang dari kepolisiian, batin Erizal.
“Maaf bu Lina, tamunya sudah datang,” ujar kang Peno.
“Ya. Di persilahkan masuk pak Peno,” sahut bu Lina.
__ADS_1
Satu per satu orang-orang berjaket hitam itu masuk ke dalam ruangan. Hanya pak Peno yang keluar lagi untuk menyiapkan minum.
“Selamat pagi!” kata komandan mereka.
“Selamat pagi pak,” sahut bu Lina. “Silahkan duduk.”
Setelah berbasa-basi beberapa saat, akhirnya komandan polisi menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk menjemput Erizal dan dibawa ke kantor polisi untuk bertemu saksi-saksi lainnya.
“Apakah pelakunya sudah tertangkap pak?” tanya bu Lina.
“Kami melakukan operasi penangkapan ke TKP tadi pagi sekitar jam tiga dinihari. Menurut informasi intelijen, terduga pelaku penculikan baru pulang ke rumahnya.”
“Sayang sekali pelaku berhasil meloloskan siri. Orang yang kami sangka sebagai terduga ternyata adalah orang lain yang diancam pelaku untuk pulang ke rumahnya dengan menyamar. Rupanya si terduga sudah mencium kedatangan kami.”
“Bagaimana dengan Marlon pak?” tanya Erizal sudah tidak sabar.
“Di tempat kejadian perkara kami menemukan beberapa orang dan anak-anak remaja seusia kalian. Yang satu perempuan namanya Melin, yang satunya laki-laki bernama Marlon Isier dari Papua.”
“Alhamdulillah,” ucap Erizal lega.
“Untuk itulah kami membutuhkan kehadiranmu di kantor polisi untuk memastikan bahwa anak itu adalah Marlon yang kemaksud sebagai sahabatmu.”
__ADS_1
Erizal mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Siap Pak!”
***
Pagi yang sibuk di kantor polisi. Terlihat beberapa orang sudah bekerja di cuaca yang sedikit mendung ini. Mereka harus bekerja keras untuk menemukan terduga pelaku penculikan yang lolos dari penyergapan polisi. Apalagi si pelaku adalah resiidivis kelas kakap yang bolak-balik masuk ke dalam penjara.
Seorang polisi mengajak Erizal masuk ke dalam ruang yang lebih dalam. Suasana cukup lengang dan tidak ada siapapun didalam sana. Hanya ada seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sedang duduk terpekur. Dari bentuk tubuhnya Erizal langsung mengenali kalau laki-laki itu adalah sahabatnya Marlon.
“Hai Marlon!”
Pemuda berambut keriting itu langsung menoleh. Terihat ada rasa terkejut saat melihat kedatangan rombongan Erizal dan kawan kawan.
“Erizal!”
Marlon langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Erizal lalu memeluknya erat-erat.
“Bagaimana keadaanmu? dan dimana kau tinggal?” berondong Erizal.
“Sabar dong Zal. Biarkan aku pipis dulu,” ujar Marlon..
__ADS_1
Erizal semakin penasaran. Kenapa Marlon sepertinya santai saja seperti tidak terjadi apa-apa? batinnya.