
EPS 17 ROBIN HOOD
Hidup adalah cara atau seni menentukan pilihan. Karena kita selalu dihadapkan pada jalan yang bercabang. jalan yang gelap atau jalan yang bercahaya. Jalan yang lurus atau jalan yang berkerikil tajam. Maka belajarlah. Jika hidup memberimu seratus alasan untuk bersedih dan menangis, tunjukkan pada hidup bahwa kamu memiliki sejuta alasan untuk bahagia dan tertawa.
Erial berjalan kesana kemari. Pandangannya berputar ke setiap sudut bandara Adisucipto, Jogjakarta. Sahabat yang baru diikenalnya, tiba-tiba menghilang entah kemana. Padahal dia meninggalkannya di depan toilet saat dia sedang mandi. Kemana sahabat barunya itu pergi? Apa yang telah terjadi dengan dirinya? Perasaan cemas dan khawatir tiba-tiba menyergap hatinya.
“Jadi kalian baru berkenalan tadi pagi di dalam pesawat?” tanya seorang petugas keamanan bandara.
Erizal menganggukkan kepalanya.
“Dan kau percaya begitu saja menyerahkan barang-barangmu untuk dijaganya?” tanya petugas yang lainnya.
Erizal memandang petugas itu dengan tatapan tak mengerti. Apakah mereka mencurigai Marlon? Tidak, tidak, tidak. Mereka jelas tidak mengenal sahabatnya.
“Iya, pak. Aku mempercayainya,” jawabnya tegas.
Kedua petugas itu malah tertawa, seolah-olah menertawakan kebodohan Erizal yang percaya begitu saja pada orang yang baru dikenalnya.
“Kamu baru saja kena tipu. Banyak orang sekarang pintar main drama gara-gara terlalu banyak nonton sinetron di rumah. Temanmu itu hanya pura-pura baik saja.”
Erizal menggelengkan kepalanya. Tidak, kedua petugas itu salah menilai Marlon. Dia sangat yakin, Marlon adalah sahabat yang baik. Dan dia percaya kepadanya.
“Berapa usiamu?” tanya mereka tiba-tiba.
“Empatbelas tahun pak,” ujar Erizal sambil menundukkan kepalanya.
“Empat belas tahun?”
“Ehm,..maksudku empat bulan lagi umurku akan menjadi limabelas tahun pak,” jawab Erizal polos.
Kedua petugas itu saling berpandangan seperti tak percaya.
“Usiamu belum genap limabelas tahun, dan kau pergi merantau sendirian kemari? Bagaimana mungkin ibumu memberikanmu izin? Kamu minggat ya?”
Apa? Kening Erizal berkerut. Minggat?
“Tidak pak, aku tidak minggat,” sahut Erizal sedikit cemas. “Aku pergi atas kemauanku sendiri dan bundo ku sudah memberiku izin.”
Kedua petugas keamanan bandara itu seperti tidak memperhatikan jawaban Erizal. Mereka malah berbicara sendiri menggunakan bahasa Jawa, yang tidak dia mengerti. Cukup lama kedua petugas itu saling berbicara. Setelah itu mereka saling menganggukkan kepalanya. Salah satu petugas berjongkok di depan bocah itu. Tatapan matanya nampak dingin dan tegas.
“Kamu masih dibawah umur. Bagaimana mungkin kau bisa lolos dari pemeriksaan petugas bandara. Sekarang kau ikut kami,” ujar petugas yang lebih tua.
“Hah? I..ikut kemana pak?” Erizal semakin panik.
__ADS_1
“Kami akan mengantarkanmu ke Dinas Sosial, untuk menjalani rehabilitasi sebelum dipulangkan ke rumah orang tuamu di Padang,” ujar petugas yang muda.
Terlihat petugas yang lebih tua menghubungi seseorang lewat ponselnya.
“Din, ada anak yang tersesat di bandara dan tidak bisa pulang. Tolong kau antar dia ke Dinas Sosial.”
Erizal yang mendengar kata-kata petugas itu menjadi kaget. Dia berusaha meronta, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan diri dari gemggaman tangan petugas keamanan itu. Tanpa terasa air matanya mulai meleleh.
“Jangan pak. Tolong lepaskan aku. Biarkan aku pergi untuk menjalankan amanat dari ibuku di Padang,” suaranya memelas.
Tapi kedua petugas itu tak bergeming. Dia menarik tangan Erizal keluar dari ruangan, kemudian dibawa keluar gedung itu. Sebuah mobil Jeep berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka. Di depan kaca mobil ada tulisan “AIRPORT SECURITY.” Si Supir turun lalu membuka pintu belakang.
“Ayo cepat masuk ke dalam!” bentaknya kepada Erizal.
Remaja malang itu tak kuasa melawan. Akhirnya dia menurut saja waktu dimasukkan ke dalam mobil. Sesaat kemudian, mobil itu melaju. Melesat meninggalkan bandara. Berlari cepat menuju tempat yang belum pernah dikunjungi Erizal sebelumnya. Tempat yang akan memberikan makna dan banyak cerita dalam hidupnya.
***
Marlon sedang membantu Melin mencuci piring di rumah Misman. Ya, preman bandara itu memaksanya untuk bekerja di rumahnya, sebagai ganti rugi karena dia tidak punya uang saat dirampoknya.Ternyata Melin juga senasib dengannya. Dia di rampok oleh Misman saat tersesat di jalanan Jogjakarta, saat baru tiba dari Kalimantan. Dia sudah satu bulan tinggal di rumah ini.
Melin menganggukkan kepalanya.
“Ya. Aku tinggal di Singkawang, Kalimantan Barat.”
Marlon mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merasa seperti katak yang baru saja keluar dari dalam tempurung, lalu melihat dunia yang ternyata begitu luas.
“Kau pernah ke Singkawang Marlon?”
Marlon menggelengkan kepalanya.
“Kalimantan saja aku belum tahu, hanya dengar saja dari guru-guruku.”
“Jadi ini adalah pengalaman pertamamu pergi ke luar Papua?”
“Ehmm..lebih tepatnya keluar dari lembah Baliem.”
Melin tersenyum kembali. Ternyata Marlon lucu juga.
“Melin. kamu sudah berapa hari di sini?”
“Aku tidak ingat. Ya, sekitar satu bulan.”
__ADS_1
“Dan kau juga mengalami nasib yang sama denganku. Di rampok, tapi karena tidak punya uang, lalu dipaksa bekerja disini?”
Melin menganggukkan kepalanya kembali.
“Huh! Jahat sekali mereka,” ucap Marlon mengumpat Misman dan Kimah yang telah menjebaknya. “Apa kau pernah mencoba melarikan diri?”
“Pernah. Tapi aku terpaksa kembali kesini.”
Hah? Marlon memandang wajah Melin tak mengerti. Bagaimana bisa Melin malah kembali ke rumah ini?
“Kenapa kau kembali kemari?”
“Karena aku tidak tahu kemana aku harus berlari. Dan dunia di luar sana jauh lebih berbahaya daripada di rumah ini.”
“A..apa maksudmu?”
“Kang Misman dan Yu Kimah tidak sejahat yang kau pikirkan Marlon. Memang aku dipaksa untuk bekerja di rumah ini. Tapi aku mendapatkan makanan, tempat untuk tidur dan mendapatkan perlindungan. Tidak ada yang berani menyentuh kita, selagi ada disini. Lalu apalagi yang aku butuhkan?”
Marlon tercenung mendengar kata-kata Melin. Benar juga, apalagi Melin adalah seorang anak perempuan. Tentu sangat berbahaya kalau dia tersesat di jalanan sendirian.
“Dan tidak cuma kita Marlon, banyak anak-anak lain yang sudah ditolong Kang Misman. Setelah mampu bekerja, dia membiarkan mereka pergi.”
Hm, mirip cerita Robin Hood? Perampok berhati baik yang membagikan hasil rampasannya kepada orang-orang miskin.
“Kang Misman itu memang pekerjaanya merampok. Pembawaannya juga garang. Tapi dia juga punya rasa kasihan terhadap anak-anak yang hidupnya terlantar di jalanan kota. Seperti kita sekarang,” ujar Melin. “Dia adalah orang yang baik, tapi tidak tahu cara melakukan hal yang baik. Karena sejak kecil dia hidup di jalanan ditempa kerasnya kehidupan yang penuh kejahatan.”
“Lalu Yu Kimah itu siapa? Isterinya?”
“Setahuku mereka bukan suami isteri, walaupun mereka hidup serumah. Bahkan tidurnya pun di kamar yang sama. Tapi Yu Kimah sangat mematuhi kang Misman.”
Marlon mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun sulit baginya untuk mengerti cerita Melin. Perampok berhati baik? Dan itu benar-benar ada?
“Eh, kau belum cerita kenapa kau meninggalkan Singkawang dan bisa ada disini?”
“Panjang ceritanya Marlon.”
“Aku punya banyak waktu untuk mendengar semua ceritamu.”
Melin tersenyum tipis mendengar kata-kata Marlon. Tapi setelah itu, dia menghela nafas panjang. Raut mukanya berubah menjadi sedih.
__ADS_1