
EPS 57 TERBAKAR CEMBURU
Cemburu mematikan logika. Cemburu membuat gelap mata. Karena cemburu jadi melupakan adab dan tata karma. Namun cemburu juga dibutuhkan para pecinta. Sebagai pupuk untuk memperkuat akar cinta. Dan sebagai bumbu dalam sebuah drama yang penuh dengan Romantika.
Kukuruyuuk…!
Terdengar kokok ayam jantan dari kejauhan, pertanda malam sudah menjelang pagi. Hawa terasa semakin dingin menusuk kulit. Tapi tidak juga mengurangi ketegangan yang terjadi. Semua perhatian tertuju kepada Erizal. Bahkan kedua mata Ballan nampak melebar, seolah tak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Erizal.
“Apa? Kau menuduh Banardi, Zal?” ujar Ballan hampir berteriak.
Erizal menggeleng cepat.
“Tidak! Aku sedang tidak menuduh ataupun mencurigai Banardi. Ini hanya semacam dugaan atau istilahnya apa sih… ehm analisis begitu.”
Melin menyentuh lengan Ballan yang akan berbicara lagi. Pemuda Maluku itu langsung terdiam.
“Kita tidak sedang saling tuduh Ballan! Tapi kita sedang berbicara, untuk membantumu juga,” ujar Melin.
Entah mengapa, Marlon mendengus kesal untuk kesekian kalinya.
“Lanjutkan kata-katamu Erizal,” sambung Melin.
“Banardi adalah seorang pekerja keras, dan sangat di percaya oleh Ballan, iya kan? Nah seorang yang suka bekerja keras pasti dia memiliki tujuan. Ingin menjadi orang yang sukses dalam hidupnya. kasarnya mereka ingin menjadi orang kaya,” sahut Erizal.
Melin, Ballan dan Marlon terdiam menyimak kata-kata Erizal.
“Masalahnya ada diantara mereka yang kurang sabar dan kurang tekun. Begitu melihat ada kesempatan, mereka berusaha memanfaatkannya walaupun dengan cara-cara yang curang.”
Melin dan Marlon mengangguk-anggukkan kepalanya. Pikiran mereka yang cerdas mampu menangkap maksud Erizal. Hanya Ballan yang belum mengerti, wajahnya terlihat bingung.
“Mengapa kata-katamu bercabang-cabang Erizal. Katakan saja dengan jelas,” sungutnya.
“Maksudnya, Banardi itu kepengin cepat kaya, nah melihat ada kesempatan itu, dia langsung mengambil bungkusan berisi narkotika itu untuk dijualnya sendiri,” kata Marlon.
Ballan mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Banardi adalah teman baikmu kan?” tanya Melin.
“Tidak. Di tempat parkir dia adalah anak buahku. Dan aku memperlakukan anak buahku sama saja, tidak membeda-bedakan,” sahut Balan. “Hanya saja, Banardi memang anak buahku yang paling giat, cekatan rajin dan rapih.”
“Apa dia pernah menceriterakan keinginannya kepadamu?” tanya Erizal.
Ballan menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Banardi adalah anak yang pendiam, jarang bercerita masalah pribadi. Tapi dia sangat peduli dengan teman-temannya. Setiap jam istirahat, dialah yang selalu membuatkan kopi untuk kami.”
“Itulah mengapa kau begitu percaya kepadanya,” sahut Marlon.
Semua memandang Marlon. Entah kenapa malam ini Marlon bersikap begitu aneh, terang-terangan menunjukkan kejengkelannya pada Ballan.
“Kalau begitu kesimpulannya, ada dua orang anak buahmu yang memiliki kemungkinan sebagai pengkhianat, Andreas yang paling tidak kau percaya dan Banardi yang paling kau percaya,” sambung Marlon.
“Ingat kawan, itu semua baru dugaan kita berdasarkan kata-kata polisi. Kita tidak sedang menuduh siapapun,” ujar Erizal.
Melin menghela nafas dalam-dalam.
“Kalau begitu kita hentikan pembicaraan kita sampai di sini. Kita lihat perekembangannya besok pagi,” katanya.
“Apa perlu aku ceritakan tentang Banardi ini ke polisi, Ketua?” tanya Ballan.
“Lagipula aku yakin polisi pasti sudah mengembangkan berbagai kemungkinan untuk mengungkap kasus ini,” ujar Erizal.
Ballan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Kalau begitu, aku mohon pamit pulang ketua.”
Melin menganggukkan kepalanya.
“Baik. Berhati-hatilah Ballan. Kau aku beri libur selama tiga hari untuk menenangkan pikiranmu. Urusan parkir nanti biar Erizal yang akan mencari pengganti sementara.”
Ballan membungkukkan tubuhnya di depan Melin. Setelah itu dia berbalik dan bergegas keluar dari rumah Misman. Dalam sekejap tubuhnya sudah hilang di telan kegelapan malam. Melin pun segera beranjak menuju tempat peraduannya untuk bersemayam menuju dunia mimpinya. Apa yang terjadi hari ini benar-benar membuat tubuh dan pikirannya terasa penat. Dan dia butuh waktu untuk istirahat walau untuk sesaat.
***
“Uaahh!”
Marlon menguap lebar. Begitu melihat Melin menutup pintu kamarnya. dia juga berjalan menuju kamar tidurnya, disusul Erizal di belakangnya. Begitu masuk kamar, Marlon segera membalikkan tubuhnya. Di belakangnya Erizal sedang berdiri sambil memandangnya dengan tatapan yang aneh.
“Kenapa kau mengikutiku kawan? Kau salah kamar atau kau sangat mengantuk sehingga lupa jalan menuju kamarmu sendiri?” tanya Marlon.
__ADS_1
Erizal hanya berdiri terdiam sambil memandangnya. Marlon sampai merinding melihat tatapan matanya yang aneh.
“Kau tidak sedang kerasukan kan Zal? Kenapa wajahmu aneh begitu?” tanya Marlon.
Erizal menggelengkan kepalanya.
“Bukan aku yang kerasukan. Aku pikir kamulah yang sedang kerasukan setan.”
Marlon mengernyitkan keningnya.
“Hah? Aku kerasukan? Apa maksudmu?”
“Ya. Kau sedang kerasukan karena sikapmu aneh sekali malam ini.”
“Aku? Aneh? Memangnya apa yang sudah aku perbuat kawan?”
“Sikapmu kepada Ballan malam ini aneh. Kau terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukamu kepadanya.”
Marlon seperti tersentak mendengar kata-kata Erizal.
“Ap..apa? Aku biasa saja kok. Aku tidak marah kepada Ballan.”
Erizal memandang Marlon dengan tajam.
“Kau mungkin bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku.”
Marlon menundukkan kepalanya. Ah, dia tak mugkin mengelak lagi. Benar kata Erizal, dia orang yang tidak pandai menyembunyikan kebohongan di depan sahabatnya sendiri.
“Sekarang ceritakan kepadaku dengan jujur. Apa yang terjadi antara kau dengan Ballan,” kata Erizal.
“Emh..aku tidak suka melihat dia …” Marlon memotong kata-katanya.
Kepalanya semakin tertunduk. Entah mengapa dia merasa malu untuk mengakui kalau sebenarnya dia cemburu melihat perhatian Melin kepada Ballan.
“Kenapa berhenti Marlon?”
“A..aku tidak sanggup menceriterakannya kepadamu Erizal. Ini terlalu pribadi.”
Erizal tertegun menatap wajah sahabatnya. Baru kali ini dia melihat wajah itu begitu memelas. Rupanya Marlon benar-benar tidak sanggup untuk mengungkapkan rahasia itu kepadanya.
“Baik kawan. Kalau kau memang berkeberatan menceriterakan rahasia ini, aku juga tidak akan memaksa,” ujar Erizal.
Lalu keduanya terdiam, bermain dengan pikirannya sendiri. Mendadak Marlon merasa bersalah telah menyimpan rahasianya kepada Erizal. Tapi untuk membuka semua isi hatinya, dia juga belum sanggup. Sementara Erizal sedang menebak-nebak apa sebenarnya yang sedang terjadi antara Ballan dan Marlon. Ah, semoga persoalan ini tidak berlarut-larut dan menimbulkan persoalan baru bagi geng Misman.
“Kalau begitu istirahatlah kawan, tenangkan pikiranmu,” pesan Erizal. “Aku juga mau tidur.”
Erizal membalikkan tubuhnya dan langsung melangkah keluar kamar. Namun baru saja langkahnya sampai di pintu, Marlon memanggilnya kembali.
“Erizal…”
Erizal menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Marlon.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Maafkan aku ya?”
Begitu singkat kata-kata Marlon tapi maknanya begitu dalam. Erizal mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Tanpa mengeluarkan kata-kata, Erizal mengacungkan dua jempolnya. Begitulah sahabat sejati. saling mengerti dan saling memahami hati dan pikiran masing-masing.