
EPS 22 SUMBER UANG
Seperti sebuah kutukan yang selalu bersenandung di tiap kehidupan, kekerasan seperti rumput liar yang tidak akan mati walaupun mengalami kemarau yang panjang. Jiwanya terus hidup karena gejolak dalam api perseteruan. Ketika kenikmatan di anugerahkan secara terus menerus, maka keangkuhan akan menenggelamkannya. Bahkan pada cinta yang tumbuh di diantara dua hati yang saling membenci.
Rumah itu terletak di tengah rumah penduduk yang cukup padat di batasi jalan yang cukup sempit untuk dua mobil yang berpapasan. Di kelilingi dua lapis dinding pembatas dengan kawat berduri di atasnya. Pada dinding luarnya ada tulisan besar yang terpampang dengan jelas “CV. ANHATEXT” penyedia bahan-bahan kaos sablon. Tidak ada yang tahu aktivitas di dalam bangunan yang cukup besar kecuali orang-orang yang bekerja di dalamnya.
“Hai! Buka matamu dan bangunlah! Aku tahu kau hanya pura-pura tidur kan?” bentak laki-laki sangar itu kepada Melin.
Tubuhnya masih meringkuk di atas tempat tidur dengan mata tertutup.
“Kalau tidak, aku akan menyiram tubuhmu dengan seember air!”
Perlahan Melin membuka matanya. Wajahnya begitu pucat karena rasa takut yang begitu menghantuinya. Dia sama sekali tak mengenal laki-laki itu, dia juga tidak tahu sekarang berada di mana. Kamar dimana dia tertidur sekarang begitu besar dan bagus, jauh lebih bagus dari kamarnya di kampung. Tapi hawanya begitu dingin dan menakutkan. Pandangan matanya di buang ke arah samping, tak mau menatap wajah laki-laki itu.
Bret!
Auh!
Gadis yang baru saja menginjak remaja itu menjerit ketika lakban yang menutup mulutnya ditarik dengan paksa. Tapi laki-laki di depannya sama sekali tak bereaksi. Setelah membuang potongan lakban itu ke tempat sampah, dia membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Melin. Lalu menarik tubuh ramping gadis itu sehingga duduk di tepi tempat tidur. Setelah itu rambut panjang Melin dicengkeram ke bawah, hingga wajahnya mendongak.
“Hai! Dengar baik-baik! Kamu akan tinggal di rumah ini selama beberapa hari, sampai kau siap untuk bekerja. Jangan berbuat macam-macam. Kalau kau baik, aku juga akan bersikap baik kepadamu. Tapi kalau kau berani macam-macam, aku tidak akan segan mencekik dan mematahkan batang lehermu. Paham?”
Mendadak dua tangan kokoh itu beralih ke leher Melin dan mencekiknya dengan kuat. Gadis malang itu tak sempat berteriak, tahu-tahu napasnya berhenti. Paru-parunya terasa sesak dan hampir meledak. Kedua tangan gadis itu melambai-lambai ke segela arah. Matanya melotot dan lidahnya terjulur. Raut wajahnya langsung memucat karena aliran darah yang tersumbat.
“Afft..hakft!”
__ADS_1
Lalu di detik-detik akhir hidupnya, laki-laki itu melepaskan kedua tangan yang mencekik lehernya itu. Melin langsung terguling sambil memegangi lehernya.
“Ourggh..! Hrr..hrrr..!”
Perlahan-lahan dia mencoba menarik nafas. Rasanya perutnya begitu mual dan ingin muntah, tapi tak mengeluarkan apa-apa. Akhirnya dia duduk kembali di tepi ranjang. Satu per satu nafasnya mengalun pelan. Dia menghapus air mata yang membasahi kelopak dan hidungnya. Rona merah juga kembali menghiasai wajahnya yang cantik. Namun rasa takut semakin mencengkeram hatinya.
“Apa kau paham?” bentak laki-laki itu.
Melin langsung mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya dia takut, laki-laki itu akan mencekiknya kembali.
“Bagus! Kalau begitu aku akan meninggalkanmu di sini. Jangan pernah keluar dari kamar ini. Sebentar lagi ada orang yang akan datang dan memberitahumu apa saja yang harus kamu lakukan di sini.”
Melin hanya diam menunduk. Pikirannya mulai mencerna apa yang sedang dia alami sekarang. Perlahan memorinya mengingat kembali slide demi slide peristiwa yang menimpanya. Entah sudah berapa hari sejak dia melihat papa dan mamanya terakhir kali. Gadis itu sangat sedih berpisah dengan mamanya. Dia takut sekali tinggal di dalam kamar yang asing ini sendirian. Apalagi ruangannya besar dan begitu dingin.
“Mama…” rintihnya.
“Apa yang harus aku lakukan?” batinnya berulang-ulang. “Papa dan mama pasti sedang kebingungan mencariku.”
“Mama..,” bisiknya lagi dengan suara yang sangat pelan.
Lalu dia diam menunggu. Tapi ibunya tak juga datang menghampirinya. Mendadak semuanya berubah. Ruangan kamarnya yang luas dan besar berubah menjadi hutan yang gelap dengan pepohonan yang tinggi. Tidak ada cahaya, tidak ada suara manusia. Hanya suara-suara binatang malam yang bersahut-sahutan. Burung, monyet, babi hutan, anjing liar, bahkan harimau yang mengaum.
“Mama…aku takut,” bisiknya semakin lirih.
Gadis kecil itu terus menangis semalaman sampai air matanya habis. Dia berlari-lari kesana kemari dan dan berteriak memanggil mamanya sampai tenggorokannya kering. Keadaan disekelilingnya masih begitu gelap. Tidak ada cahaya yang tertangkap matanya. Yang ada hanya hitam dan kegelapan yang menakutkan. Tangannya meraba-raba kian kemari. Lalu duduk di atas tanah.
“Mama…tolong aku, mama aku takut”, katanya sambil memeluk kedua lututnya.
__ADS_1
Bola matanya berputar ke atas dan ke bawah melihat pepohonan yang menjulang tinggi. Tidak ada semak belukar. Hanya pohon perdu yang merambat di beberapa dahannya. Lalu pandangannya ditebarkan, mengamati keadaan sekitarnya.
“Rasanya aku belum pernah ke tempat ini,” pikirnya.
Beberapa saat dia duduk diam tidak tahu harus berbuat apa. Lalu terdengar suara langkah kaki yang diseret di atas lantai.
“Srek! srek! srek!”
Lalu ada tangan halus yang menggoyangkan bahunya.
“Bangun anak cantik. Sudah pagi,” suaranya begitu lembut.
“Mama..?” ucapnya.
Perlahan dia membuka matanya. Wajah perempuan muda yang cantik tersenyum kepadanya. Tangannya yang halus juga meraba dahinya.
“Ayo bangun sayang. Hm, badanmu sedikit panas. Pasti kau demam dan masuk angin setelah perjalanan jauh,” ucapnya sambil tersenyum.
Melin mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengembalikan kesadarannya. Ah, rupanya dia tadi bermimpi tersesat di tengah hutan. Dan wajah perempuan ramah itu, jelas bukan wajah mamanya. Perempuan ini jauh lebih muda dan pakaiannya juga jauh lebih bagus. Memakai setelah kaus hitam dan celana hitam, ditutup blazer berwarna putih tulang, perempuan itu kelihatan berkelas.
“Panggil dokter Sam untuk memeriksa kondisi kesehatan gadis ini,” katanya kepada laki-laki sangar yang berjalan di belakangnya.
“Baik Nyonya,” sahut laki-laki itu.
Laki-laki sangar itu membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar Melin. Meninggalkan nyonya mudanya yang masih tersenyum sambil menatap wajah Melin dalam-dalam.
‘Hm, gadis ini cantik sekali. Wajahnya tirus, bola matanya bulat, dan bulu mata yang lentik alami. Kulitnya halus seperti batu pualam. Sangat mempesona. Dia pasti bisa menjadi sumber uang bagiku,’ batinnya dengan seringai penuh kemenangan.
__ADS_1