
EPS 10 KESEMBUHAN YOHANA
Mereka yang mengikuti petunjuk, akan mendapatkan nikmat. Sedangkan mereka yang lari dari petunjuk hanya akan mendapatkan laknat. Mereka yang duduk bersujud akan mendapatkan petunjuk, sedangkan mereka duduk tertawa, akan mendapatkan siksa. Kebaikan hanya akan datang kepada mereka yang khusyuk meminta. Orang yang baik tidak pernah mati, karena kebaikan lebih kuat dari kematian.
Melihat benda bercahaya keluar dari tebing batu, Marlon dan Marlin jadi penasaran. Mereka mulai memanjat pohon kayu keras itu. Namun karena basah dan berlumut, sulit sekali untuk dipanjat. Hanya dengan kekuatan hati dan semangat baja, akhirnya mereka berhasil mencapai dahan tinggi yang sejajar dengan batu yang memancarkan cahaya keemasan itu. Dan dugaan mereka benar, benda yang menonjol keluar dari bukit itu memang sebongkah emas.
Dan di atas bongkahan emas itu tumbuh pohon anggrek hitam yang menjuntai ke bawah. Menutupi sebagian batu emas itu. Anggrek itu tumbuh menempel pada sebatang kayu mati sebagai parasit. Kedua bocah kembar itu seperti tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Setelah berhari-hari mencari, akhirnya mereka dapat menemukannya. Sebatang pohon anggrek berwarna hitam, dan merah terang.
“Marlin, betulkah apa yang aku lihat? Apakah itu pohon anggrek?” tanya Marlon
“Betul kaka, itulah bunga anggrek emas yang kita cari!” teriak Marlin penuh semangat.
“Ya. Bunga anggrek hitam yang tumbuh menjuntai di atas bongkahan batu emas,” sahut Marlon. “Makanya disebut anggrek hitam emas.”
Tidak seperti jenis anggrek pada umumnya, si mahkota hitam Papua ini begitu susah untuk ditemui. untuk bisa berjumpa dengan bunga ini kita harus menjelajahi kedalaman hutan Papua karena habitatnya memang di situ. Anggrek hitam ini warnanya memang benar-benar gelap. Hampir seluruh kelopaknya berwarna hitam di dalam dan luarnya. Tapi, di bagian tengah, bunga ini memiliki warna yang berbeda. Kadang ungu, kadang agak merah terang.
Alhasil, perpaduan warna ini menimbulkan kombinasi yang elegan sekali.Anggrek hitam sangat susah untuk dibiakkan. Untuk bisa menghasilkan bibit ia harus ditempatkan dalam kondisi dan lingkungan seperti habitat aslinya. Ciri khusus yang dimiliki si anggrek Papua, anggrek hitam ini adalah satu-satunya di dunia.
Dengan sigap Marlin memetik beberapa tangkai anggrek hitam itu. lalu memasukkannya ke dalam kantong yang sudah dipersiapkannya. Wajah kedua bocah kembar itu terlihat bahagia. Mereka yakin penyakit yang saat ini diderita oleh kaka Yohana akan segera sirna. Dan melihat kaka yang cantik akan tersenyum kembali.
Setelah itu mereka segera turun dari atas pohon itu. Menyusuri kembali aliran sungai itu. Kali ini dengan arah sebaliknya, menuju ke hilir. Melewati dua naga serta cerukan batu yang menampung mata air sungai baliem. Memandang sekilas puluhan burung Cendrawasih dari berbagai jenisnya, bertengger di atas dahan tanpa bergerak sama sekali. Lalu melemparkan pandangannya ke arah pepohonan kayu keras raksasa yang mengepung tempat ini.
__ADS_1
“Para papa mengatakan sumber mata air sungai Baliem dihuni para peri dan dijaga dua naga api. Ternyata benar kaka,” ujar Marlin.
Marlon tersenyum sambil mengangguk. Para peri adalah burung-burung cendrawasih dan dua naga adalah kadal duri mata merah raksasa yang mereka temui tadi. Mungkin para tetua sengaja membuat cerita yang menyeramkan, agar tempat ini dianggap keramat sehingga orang takut untuk datang mengunjunginya. Dengan begitu tempat ini tetap asri tanpa tersentuh oleh tangan-tangan manusia.
“Jangan ceritakan tentang ini kepada siapapun Marlin. Kalau cerita ini tersebar, pasti hutan ini akan diratakan dengan tanah, dan bukit batu itu akan habis ditambang karena mengandung cadangan emas yang sangat besar,” pesan Marlon kepada adiknya.
“Iya kaka. Aku paham. Biarlah kegelapan ini abadi. Mereka tetap dapat tinggal, walaupun harus hidup tanpa cahaya,” sahut Marlin.
Setelah beberapa saat memandang akhirnya mereka meninggalkan tempat itu. Batu mustika pemberian Nene Yoteni tiba-tiba padam. Suasana kembali menjadi gelap dan sunyi. Hanya bunyi kecipak air yang terdengar jelas, saat kaki-kaki bocah kembar itu menapak di dasar sungai Baliem yang bening.
***
Akhirnya Marlon dan Marlin kembali ke rumah dengan selamat. Nene Yoteni, Papa Neles, Mama Perpetua, paman Lukas menyambut mereka bagaikan pahlawan yang baru pulang dari medan perang dan meraih kemenangan.
Perpetua memeluk kedua puteranya dengan erat. Dia sangat bersyukur memiliki putera-putera yang baik. Sayang dan bertanggungjawab terhadap keluarga. Namun yang membuat kaget hati mereka adalah hadirnya guru Sekolah Dasar mereka Martinus Marama. Dan dia tidak datang sendiri, melainkan dengan seorang laki-laki berpakaian putih-putih.
“Ini adalah dokter Hendra, temanku. Dia kepala puskesmas di Wamena. Dia mau datang setelah mendengar cerita tentang penyakit yang di derita Yohana hingga merenggut kedua bibinya.,” kata Marama.
“Dokter Hendra baru saja memeriksa tubuh Yohana di luar biliknya,” jawabnya.
“Bagaimana hasilnya dok?”
__ADS_1
“Kaka kalian menderita penyakit Chikungunya akibat gigitan nyamuk. Orang yang tertular penyakit ini akan merasakan panas yang luar biasa, Seluruh sendi terasa kaku dan sakit sehingga sulit untuk digerakkan,” ujar dokter muda itu menjelaskan. “Aku sudah memberinya obat anti virus dan obat lainnya.”
Marlon dan Marlin memandang takjub dokter muda itu. Luar biasa.
‘Sekarang naiklah kalian ke bilik Yohana. Lalu berikan anggrek hitam itu kepadanya,” ujar Nene Yoteni mengingatkan.
Kedua bocah kembar itu menganggukkan kepalanya. Mereka juga sudah tidak sabar menyerahkan setangkai bunga anggrek ini kepada kakak mereka , Yohana. Bergegas mereka menuju Ebei utama dimana tubuh Yohana terbaring lemah. Setelah mengucap salam, mereka segera naik dan masuk ke dalam biliknya. Wajah Yohana langsung memerah melihat kedatangan adik-adiknya. Ingin rasanya dia meluapkan kegembiraan dengan memeluk mereka.
“Kaka, bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Marlon.
Yohana hanya menganggukkan kepalanya sambil menangis. Kedua pipinya yang halus kembali basah karena tetesan air mata.
“Kami membawakan obat untukmu kaka, terimalah,” kata Marlin sambil menyerahkan setangkai anggrek hitam.
Marlon mengambil air panas. Lalu menyeduh anggrek hitam itu dalam sebuah wadah yang terbuat dari tempurung kelapa. Seketika warna airnya berubah menjadi hitam.
“Minumlah kaka,” ujar Marlon sambil menyodorkan gelas spesial itu kepada mulut kakaknya.
Dengan semangat Yohana meminum air ramuan anggrek hitam itu hingga habis. terdengar nafasnya memburu cepat. Wajahnya memerah pertanda aliran darahnya mengalir dengan lancar. Marlon dan Marlin melihatnya dengan harap-harap cemas. Namun mereka kemudian menjadi lega saat melihat senyum kakaknya tersungging di sudut bibirnya. Hampir saja Marlin berteriak karena rasa bahagia.
“Lihat, kaka Yohana sudah bisa tersenyum,” serunya.
__ADS_1
Marlon juga tersenyum sangat bahagia. Entah karena obat yang diberikan oleh dokter Hendra atau pengaruh bunga Anggrek Hitam, yang jelas Yohana sudah bisa menggerakkan tangannya tanpa terasa sakit lagi