SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 30 PENGALAMAN BERHARGA


__ADS_3

EPS 30 PENGALAMAN BERHARGA


Hari Sabtu siang di stasiun kereta api. Melin sudah berada di dalam kereta Argo Lawu. Melin duduk berhadapan dengan seorang laki-laki tua. Di sampingnya duduk seorang wanita muda. Dari bentuk perutnya nampak kalau dia sedang hamil tua. Sedangkan di samping lelaki tua itu adalah seorang lelaki muda. Tubuhnya tegap, tinggi, berkacamata dan berkulit bersih.


Anehnya, laki-laki muda itu dari tadi terus memperhatikan wanita hamil di samping gadis itu. Seperti ada rasa cemas di wajahnya. Padahal Melin tahu laki-laki di depan itu bukan suaminya. Disamping mereka datang sendiri-sendiri, Mereka juga tidak kelihatan seperti suami isteri. Hmm..Melin jadi curiga laki-laki itu memiliki niat jahat kepada wanita hamil itu.



“Maaf nak. diminum dulu obat anti maboknya sebelum kereta berangkat,” kata laki-laki tua itu sambil mengulurkan obat anti mabok kepadanya..



Wajah laki-laki tua itu terlihat begitu ramah. Melin segera mengambil obat anti mabuk itu dan menelannya. Lalu diam menunggu kereta berangkat. Sesekali dia melirik laki-laki muda di depan itu. Dan dia masih memandangi wanita hamil disampingnya. Melin semakin curiga. Nalurinya mengatakan ada bahaya yang mengancam, dan dia ingin memberitahu laki-laki tua itu, tapi tak dia lakukan.



Kruuung! Jegejegjegjeg!



Tak lama kemudian kereta pun berangkat, meninggalkan kepulan asap di belakangnya. Suaranya terdengar bergemuruh dan semakin lama melaju semakin cepat. Makin lama semakin jauh meninggalkan stasiun. Kereta bergerak semakin cepat melewati jalur persawahan dan menembus kegelapan sebuah terowongan.



Sekian lama kereta berjalan, Melin masih mengamati lelaki muda itu. Di saat hampir semua penumpang sedang terkantuk-kantuk, mendadak wanita muda disampingnya mengaduh kesakitan. Dia memegangi perutnya sambil berguling ke kesana sini.


__ADS_1


“Adduh! Sakiit! Tolooong, sakiit,” rintihnya.


Melin dan lelaki tua itu saling berpandangan. Tapi laki-laki muda yang duduk didepannya bergerak cepat. Dia meminta Melin berdiri dan membaringkan wanita itu di kursi mereka. Lalu dia meminta tolong laki-laki tua itu untuk membantu menenangkan wanita itu



“Dik, tolong beritahu petugas kereta ada wanita yang akan melahirkan,”katanya kepada Melin.


Hah? Melin terperanjat. Segera dia mencari petugas kereta, memberitahu kalau ada wanita yang mau melahirkan. Petugas itu segera menghubungi tim medis untuk menanganinya. Tim medis kereta segera menuju ke tempat duduknya.



“Lho, sudah lahir ya pak?” kata salah satu petugas medis.


“Alhamdulillah, sudah pak,” jawab laki-laki tua.



Diserahkannya bayi mungil dan ibunya kepada tim medis kereta untuk penanganan lebih lanjut. Sejenak dia berbicara dengan tim medis dan mereka mengangguk-angguk.



“Untung ada dokter Ryan. Dia adalah Dokter Kandungan,” kata laki-laki tua itu.


Dokter kandungan? Melin hampir tak percaya mendengarnya. Pantas dia memperhatikan wanita itu terus. Mungkin dia merasa kalau wanita itu akan melahirkan.


__ADS_1


Setelah membersihkan diri, dokter Ryan kembali duduk dihadapannya. Dia tersenyum padanya dan mengatakan kalau Melin adalah gadis yang pemberani. Ternyata orangnya ramah. Sebentar saja mereka sudah akrab. Melin banyak bertanya tentang dunia kedokteran, dan dia dengan senang hati menjawabnya.



“Tega sekali suaminya membiarkan isterinya bepergian jauh sendirian,”ujar si bapak.


“Suaminya seorang tentara pak, lagi dinas di Papua,” sahut dokter Ryan.


Ow, si bapak mengangguk-anggukkan kepalanya. Melin jadi merasa bersalah.



“Maafkan saya ya dok,” katanya.


“Kenapa kamu meminta maaf?” tanya dokter Ryan heran.


“Saya sudah mencurigai dokter akan berbuat jahat. Habis dari tadi dokter mengamati wanita hamil ituu terus,” jawabnya polos.



Si bapak dan dokter Ryan tertawa.


“Itu kan malahan bagus. Kamu berarti anak yang waspada dan pemberani,” jawab dokter Ryan sambil mengelus elus rambutnya.



Melin kagum. Dokter Ryan benar-benar dokter kandungan yang bertanggung jawab dengan profesinya.

__ADS_1


__ADS_2