
EPS 52 RESTU IBU
Gelap malam meninggalkan jejak keraguan. Merasa kosong saat sepi begitu terasa. Tak ada yang bisa menunjukkan arah kemana harus melangkah. Apalagi pekat begitu menutupi pandangan. Menyelubungi hati yang penuh dengan ketidakpastian. Dan aku begitu rapuh, tanpa kau disisiku memandu jalanku.
Melin tak kuasa membendung air matanya. Hatinya tiba-tiba begitu sedih melihat Marlon dan Erizal begitu bersemangat bercerita tentang rencana dan cita-cita mereka. Kedua pemuda itu langsung tertegun saat air mata itu mengalir membasahi pipi gadis cantik itu. Keduanya jadi merasa bersalah sekaligus iba merasakan kesedihan Melin. Lalu Erizal berucap lirih.
“Jangan bersediah Melin, aku a…”
“Benar Melin, Kau tidak perlu sedih begitu. Aku akan membantumu.”
Belum selesai dia bicara tiba-tiba Marlon sudah memotongnya. Dilihatnya sahabatnya itu menggeser tempat duduknya mendekati Melin.
“Aku akan menjual beberapa butir emas milikku. Lalu uangnya akan aku gunakan untuk membiayai sekolahku dan sekolahmu,” sambung Marlon lagi.
Erizal memandang polah sahabatnya dengan wajah datar. Entah mengapa, tiba-tiba dia tidak menyukai cara-cara Marlon mendekati Melin. Mungkinkah ada rasa cemburu di hatinya?
“Tidak Marlon,” sahut Melin sambil menggelengkan kepalanya. “Emas itu adalah bekal dari ayahmu untuk biaya pendidikanmu sampai kau menjadi dokter. Aku tidak ingin kau gagal meraih cita-cita dan harapan papamu karena aku.”
“Jangan khawatir. Butir-butir emas ini nilainya lebih dari cukup kalau hanya untuk membiayai kuliahku menjadi dokter. Lagipula, aku juga akan bekerja mencari uang bersama Erizal, kau dan yang lainnya,” jawab Marlon lugas, seolah sedang meyakinkan Melin kalau semuanya akan baik-baik saja.
Lalu dia mengalihkan pandangannya kepada Erizal.
“Kau juga setuju kan Zal, kalau aku membantu biaya sekolah Melin?”
Erizal tergagap mendengar pertanyaan Marlon.
“Oh, eh…hmm tentu saja akan sangat menyenangkan bila kita bisa melanjutkan sekolah bersama-sama,” sahut Erizal kemudian.
Melin menatap wajah Erizal sekejap. Rupanya hatinya masih diliputi keraguan. Bagimanapun dia tidak mau berhutang budi dengan siapapun, meskipun itu sahabatnya sendiri.
“Kita sudah terlanjur hidup bersama Melin. Persahabatan kita begitu dekat. Bagaimana mungkin aku dan Marlon membiarkanmu tidak melanjutkan sekolah, sementara aku dan Marlon melakukannya?” ujar Erizal kemudian.
__ADS_1
“Tuh, dengarkan kata-kata Erizal. Kita adalah sahabat. Aku ingin membantumu setulus hatiku. Buanglah rasa ragu di dalam hatimu Melin,” sambung Marlon.
Melin mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangan kanannya memegang tangan Erizal, sedang tangan kirinya memegang tangan Marlon.
“Baiklah, kalau kalian memaksaku. Tapi ingat, aku tidak akan menerima bantuan kalian begitu saja. Anggaplah ini adalah hutang. Dan aku akan mengembalikannya suatu saat nanti.”
“Tapi..” Marlon hampir saja membantah kata-kata Melin, tapi gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Itu adalah syarat wajib Marlon. Kalau kau tidak setuju, aku juga tidak akan mau menerima bantuanmu,” ucapnya tegas.
Heehhh..Marlon menghela nafas panjang sambil tersenyum. Bagaimanapun dia harus menerima persyaratan yang diajukan gadis yang diam-diam disukainya itu.
“Baiklah, kalau itu maumu ketua,” kata Marlon akhirnya.
Erizal tertawa mendengar kata-kata Marlon, sementara Melin hanya menjulurkan lidahnya.
“Kalau begitu sekarang kita tidur. Besok kita ke Lapas menjenguk ibu. Bagaimanapun kita harus meminta izin dan restunya, agar rencana kita bisa terlaksana dengan baik,” kata Melin sambil melepaskan pegangan tangannya.
Gadis cantik itu berdiri, melepaskan senyum terakhirnya, sebelum berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sementara kedua sahabatnya masih berdiri tertegun, merasakan desiran-desiran halus yang masih tersisa dari pegangan tangan Melin tadi. Pandangan mata mereka terpaku pada pintu kamar yang telah tertutup rapat terkunci dari dalam. Dan gonggongan suara anjing di kejauhan menyadarkan mereka kalau hari sudah terlalu larut bagi mereka untuk terus terjaga.
***
Perempuan separuh baya itu memeluk tubuh Melin, dan membenamkannya ke dalam tubuhnya yang tambun. Nampak sekali rasa keibuan yang terpancar dari wajahnya.
“Tidak Melin. Apa kalian lupa, baru saja menjenguk ibu tujuh hari yang lalu.”
“Kami tidak lupa. Biasanya kami menjenguk ibu paling lama lima hari sekali,” ujar Marlon.
Yu Kimah tersenyum.
“Tidak apa-apa. Sekarang ceritakan pada ibu apa yang terjadi dengan rumah kita.”
__ADS_1
Melin kemudian menceriterakan tentang ketegangan yang terjadi diantara anak buah kang Misman sepeninggal Yu Kimah di penjara. Mereka mempersoalkan kedudukan Marlon sebagai wakil ketua geng Misman. Di antara mereka ada yang menguji kepantasan Marlon menjadi petinggi geng Misman. Melalui pertarungan satu lawan satu, Marlon berhasil membuktikan kekuatannya.
“Setelah peristiwa itu, mereka semua saling berikrar untuk menjaga persatuan sebagai keluarga besar geng Misman,” ujar Erizal.
Yu Kimah kembali tersenyum. Dia sudah memahami watak masing-masing anak buahnya. Mereka memang berwatak keras, tapi ksatria. Tidak memandam rasa dendam meski dikalahkan dalam pertarungan yang adil.
“Melin. Kau adalah pemimpin mereka sekarang. Berlaku adil dan mengayomi adalah tugasmu agar mereka tetap bersatu. Karena bahaya selalu datang dari kelompok-kelompok luar yang ingin menguasai wilayah yang telah ditaklukkan kang Misman.”
Melin mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu tugasnya dan memahami tanggung jawabnya. Meski berat tapi dia mau belajar tentang dunia preman sedikit demi sedikit. Setelah itu dia menunjukkan pembukuan keuangan organisasi dan warung makan yang dipercayakan Yu Kimah kepadanya. Wajah perempuan itu terlihat takjub dan terperangah melihat angka nominal yang tertera di dalam buku itu.
“Sepuluh juta? Bulan ini kau berhasil mencatatkan keuntungan bersih sepuluh juta Melin,” ujar yu Kimah dengan tatapan tak percaya.
“Kenapa ibu?” tanya Melin cemas. “Apa aku melakukan kesalahan.”
“Apa? Kesalahan? Kau bahkan telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Belum pernah warung kita memiliki keuntungan sebanyak ini,” sahut yu Kimah dengan suara bergetar.
Melin dan kedua sahabatnya saling berpandang-pandangan. Hati mereka terasa lega, tadinya mereka takut kalau yu Kimah akan memarahi mereka.
“Kalian sungguh luar biasa. Ibu hanya bisa mengucapkan terimakasih.”
“Kamilah yang mengucapkan terimakasih kepada ibu dan bapak. Karena telah mengijinkan kami tinggal dan menetap di rumah ibu,” kata Marlon.
Kimah memeluk ketiga anak angkatnya. Lalu ketiganya duduk sambil bersenda gurau. Tenggelam dalam perbincangan yang panjang. Melin juga menceriterakan tentang penghuni baru yang bernama Karsim. Yu Kimah sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar kisah Karsim, anak kecil yang kalau di perintah suka lupa. Lalu Erizal juga menceriterakan tentang rencana mereka untuk melanjutkan sekolah.
“Tapi itu semua hanya akan kami lakukan kalau sudah ada izin dan restu dari ibu,” kata Melin.
__ADS_1
Di luar dugaan, ternyata yu Kimah sangat menyetujui rencana mereka untuk melanjutkan sekolah sesuai tujuan mereka datang ke Jogjakarta. Bahkan dia membolehkan Melin menggunakan uang milik warung makan untuk membiayai sekolahnya.
“Gunakan saja uang warung untuk biaya sekolahmu Melin. Ajak juga si Karsim untuk melanjutkan sekolahnya ke SMP.”