SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 2 ATOU


__ADS_3

EPS 2 ATOU


Mutiara tetaplah mutiara, walau tersembunyi jauh di dalam lumpur hitam sekalipun. Keindahannya tidak akan terkikis atau hilang ditelan waktu. Maka jika kau menemukannya, ambillah dia. Cukup siram dengan air dan gosok dengan kain yang lembut, maka sinarnya akan terpancar menerangi wajahmu. Dan menambah nilai cantikmu.


Malam semakin larut di lembah Baliem. Hawa dingin begitu terasa membuat warga suku Dani di tanah Papua enggan untuk keluar rumah. Hanya hewan-hewan malam yang masih memperdengarkan nyanyiannya. Di sebuah Ebei, rumah khusus perempuan suku Dani, sebagian besar penghuninya sudah terlelap. Hanya beberapa orang saja yang masih terjaga. Rupanya mereka sedang menunggui seorang anak yang sedang sakit.


Kampung mereka memang sedang terkena musibah. Suatu penyakit aneh tiba-tiba menyerang penghuni suku yang tinggal di tengah belantara Papua itu. Penyakit yang menyerang mereka adalah penyakit yang sangat kuat. Bukan penyakit biasa yang dapat disembuhkan lewat doa-doa kepala suku. Berbagai persembahan dan upacara telah mereka lakukan tapi masih saja korban berjatuhan karenanya.


Di dalam sebuah bilik, Perpetua membelai rambut putrinya yang terbaring dalam bilik di Ebei dengan penuh kasih sayang. Jari-jarinya yang terus berkurang jumlah ruasnya terus membelai rambut keriting putrinya (dalam adat suku Dani, seorang ibu harus memotong satu ruas jarinya setiap ada saudaranya yang meninggal). Dia berharap belaian tangannya dapat meredakan rasa sakit yang sedang diderita puterinya.


“Tolong Ma, tubuh Yohana terasa sakit semua,” bisik puterinya.


Pepertua hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dengan sepenuh kemampuan dia berusaha menahan air matanya agar tidak meleleh. Seminggu yang lalu adik perempuannya baru saja meninggalkannya karea penyakit yang sama. Dalam hatinya perempuan setengah baya itu sangat khawatir jika hal yang menimpa adik-adiknya juga menimpa putrinya. Ah, semoga puterinya cepat mendapatkan kesembuhannya.


“Sabarlah nak, ayahmu sedang berdoa agar Atou segera membebaskan kutukannya kepada kampung kita. Hanya Atou yang bisa menolong kita,” kata Pepertua.


“Kenapa Atou membiarkan penyakit ini menimpa kita, Ma?” tanya Yohana.


Pepertua terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menghibur puterinya.


“Nanti Mama akan tanyakan kepada Papamu, ya? Sekarang tidurlah.”


Pepertua memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Yohana. Sakit yang menimpa putrinya dan bibi-bibinya bukanlah penyakit yang biasanya sembuh dengan didoakan kepala suku. Dulu ritual berdoa sudah dilakukan untuk menyembuhkan bibi-bibi Yohana namun mereka tidak dapat disembuhkan. Suaminya juga sudah menyampaikan tentang beratnya penyakit yang sekarang sedang menjadi pandemi tersebut.

__ADS_1


“Mungkin Atou belum mendengarkan permohonan kita. Jadi kita harus memohon lagi,“ begitu hal yang dipikirkan Neles Ibo, suaminya, yang juga salah satu kepala suku.


“Aku sudah tidak kuat lagi mendengarkan rintihan Yohana,” kata Pepertua.


Wajah Pepertua terlihat begitu sedih. Sementara Papa Neles Ibo juga terlihat tak mengerti, memgapa penyakit ini datang begitu cepat, merenggut nyawa adik-adik dan beberapa warganya, tanpa dapat dicegah. Akhirnya dia pun turun dari Ebei, dan berpamitan untuk pergi ke ladang kembali.


“Mama!” terdengar suara dari lantai bawah.


Pepertua menyeka air matanya, lalu tersenyum tipis. Itu pasti suara putera-putera kembarnya. Pepertua dan Neles Ibo memang memiliki tiga orang anak. Yang pertama adalah puteri sulungnya Yohana, sedangkan kedua adiknya adalah si kembar Marlon dan Marlin Isier. Mereka memang tidak tinggal serumah dengannya, tapi tinggal di Honai bersama ayahnya. honai adalah rumah untuk orang laki-laki di suku pedalaman Papua.


“Mama!” terdengar panggilan sekali lagi.


Perpetua menuruni tangga kecil untuk menemui dua anak kembarnya. Sebagai isteri kepala suku, dia dan puterinya bersama adaik-adik perempuannya menempati sebuah Ebei yang cukup besar. Rumah yang mereka tempati itu berlantai dua yang terbuat dari kayu ulin dan beratap anyaman daun sagu. Begitu sampai di bawah, dipeluknya dua mutiara hatinya itu.


“Mama, kami sudah bawakan rumput kering untuk pengganti alas tidur kakak” kata Marlon sambil menunjukkan segulung rumput di punggungnya..


“Kalian memang anak-anak mama yang paling baik.”


Marlon mengambil gulungan rumput yang baru diambilnya dari atas bukit bersama Marlin. Lalu diletakkannya gulungan rumput kering itu di bawah tangga. Orang laki-laki hanya diizinkan berdiri dibawah tangga. Mereka dilarang masuk ke Ebei, karena Ebei adalah rumah khusus perempuan.Pepertua memeluk kedua putera kembarnya itu dengan erat.


“Darimana kalian mendapatkan rumput-rumput kering ini?”


“Dari ladang di atas bukit itu,” jawab Marlin. “Kami juga membawa buah Merah untuk dimasak.”

__ADS_1


Pepertua tersenyum. Dalam hatinya dia sangat bangga karena kedua puteranya juga sangat perhatian kepada kakaknya yang sedang sakit.


“Terimakasih nak,” ucapnya lembut. “Sekarang kembalilah ke ladang bantu papa dan paman-paman menanam ubi. Nanti mama akan memasak sayur buah merah yang lezat.”


Marlon dan Marlin membalas pelukan ibunya. Setelah itu mereka berlari kembali ke ladang untuk membantu papa dan paman-pamannya menanam ubi. Sebagian besar suku Dani yang tinggal di lembah Baliem menjadikan ubi sebagai makanan pokok mereka. Walaupun ada juga yang makan sagu. Mereka membuat tepungnya menjadi bermacam-macam maanan yang lezat dan meggugah selera.


***


Pepertua menghela napas panjang. Dengan membawa rumput kering dia kembali memasuki bilik dimana puterinya terbaring. Yohana terlihat masih tertlelap. Mungkin karena cape menahan rasa sakit, atau karena butuh istirahat setelah semalaman tidak bisa tidur. Dengan lembut, Perpetua membangunkan putrinya, kemudian didudukan di sebelah kasur rumput.


“Sebentar nak mama gantikan rumput dikasurmu.”


Apa yang disebut kasur adalah sekumpulan rumput kering yang ditata diatas kayu lalu ditutupi anyaman daun pohon buah merah. Selain empuk, rumput-rumput kering itu juga menyimpan panas yang menghangatkan tubuh mereka di malam hari.


Perpetua membuka anyaman daun buah merah dan kemudian mengambil rumput kering yang mulai hancur karena ditiduri. Lalu dimasukannya rumput kering yang baru dan ditutup kembali. Setelah rumput-rumput itu tertata rapi, Pepertua segera menidurkan kembali Yohana di tempatnya semula. Sambil menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Atou agar segera menghilangkan wabah penyakit yang menyerang sukunya.


“Tidurlah kembali. Mama akan memasak buah merah untuk makan siang kita nanti.”


Yohana yang masih mengantuk hanya menganggukkan keapalanya. Tak lama kemudian, matanya sudah tertutup kembali. Setelah Yohana tertidur, dia kembali turun ke bawah. Dilihatnya beberapa kerabat perempuannya sedang mengupas buah merah yang dibawa kedua puteranya tadi.


Buah Merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Oleh masyarakat suku Dhani, buah ini disebut kuansu. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus karena tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan. Tinggi tanaman pandan ini dapat mencapai enambelas meter. Dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi lima sampai delapan meter yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.


Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Buah Merah sendiri panjang buahnya mencapai limapuluh sentimeter, diameter maksimal limabelas cm, dan bobot sekitar dua sampai tiga kilogram. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan.

__ADS_1


Bagi masyarakat di Wamena, Buah Merah disajikan untuk makanan pada pesta adat bakar batu. Namun, banyak pula yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, Buah Merah dari zaman dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan, kulit, dan meningkatkan stamina. Karena khasiatnya yang begitu tinggi, buah merah sampai dijuluki sebagai buah ajaib dari Papua.


Pepertua menggiling bumbu-bumbu yang diperlukan untuk memasak buah merah. Sementara perempuan lainnya memasak air dan memotong-motong buah Merah menjadi bagian-bagian kecil. Sesekali Pepertua memberi petunjuk kepada mereka. Sebagai isteri kepala suku, dia harus terlihat tegar dalam mendampingi suaminya menghadapi musibah ini.


__ADS_2