SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 47 BIDADARI KAHYANGAN


__ADS_3

EPS 47 BIDADARI KAHYANGAN


Kucoba menahan nafasku. Membiarkan rasa ini mengalir begitu saja. Tak mampu membiarkan rasa ini berlalu. Pegang tanganku, aku ingin membagi ini bersamamu. Karena tanpamu, semua sinar yang terpancar adalah redup. Semua bintang yang kita curi dari langit malam tidaklah cukup. Aku tidak tahu sampai kapan rasa ini akan terus tumbuh dan bergemuruh.



“Kang Misman sudah pergi, Kimah ditahan di kantor polisi, ini adalah kesempatanmu untuk pergi Marlon. Kenapa tiba-tiba kau berkeras ingin tetap tinggal? Beri aku satu alasan yang masuk akal kawan,” desak Erizal lagi.


Marlon menggeleng tegas.


“Tidak ada alasan apapun kawan. Percayalah kepadaku.”



Marlon mengerlingkan pandangannya ke arah Melin sekejap. Ah, dia tidak mungkin menceriterakan kepada Erizal kalau Melin adalah alasan terbesarnya untuk tetap tinggal di rumah itu. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Laki-laki macam apa aku yang sampai hati membiarkan gadis sebaik Melin menghadapi kerasnya dunia jalanan sendirian?



“Kau pulanglah ke panti Erizal. Aku akan mengunjungimu setiap hari,” kata Marlon pada akhirnya.


Tatapan mata Marlon begitu tegas. Dan Erizal tahu, tidak ada hal yang bisa merubah pendiriannya lagi. Dia hanya bisa berharap keajaiban agar sahabatnya itu berpikir lebih jernih lagi.



“Baiklah Marlon, kalau itu keputusanmu. Aku tidak akan membujukmu lagi,” ujar Erizal. “Tapi ingat, bulan depan kita tetap mendaftar sekolah.”


Marlon mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Pasti,” jawabnya singkat.



Kedua sahabat itu kemudian saling berpelukan. Lalu Erizal membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat itu, diiringi tatapan Marlon. Tidak ada kata-kata yang bisa terucapkan lagi. Semua rasa terbungkus sepi dan kosong.



“Kemana sahabatmu pergi Marlon?”


Satu suara lembut mengagetkan pemuda Papua. Ketika menoleh kesamping, ternyata Melin sudah berdiri di belakangnya.



“Dia akan kembali ke panti,” sahut Marlon sambil membuang pandangannya ke depan lagi.


Ups! Marlon menepuk jidatnya.


“Waduh, aku lupa.”


Dengan cepat Marlon berlari mengejar tubuh Erizal yang baru saja menghilang di luar dinding kantor tahanan polisi.



“Erizal!” teriaknya.


Erizal berbalik, dilihatnya tubuh Marlon yang mandi keringat setelah lelah mengejarnya.

__ADS_1


“Ada apa Marlon? Kau sudah berubah pikiran?” tanya Erizal sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Bukan itu. Apa kau tidak membutuhkan tas yang kau titipkan kepadaku?”



Kali ini Erizal yang giliran menepok jidat.


“Hah, hampir saja aku lupa. Lalu bagaimana? “


“Mau tidak mau kau harus datang ke tempatku tinggal sekarang. Soalnya tas mu ada di sana,” jawab Marlon dengan nafas terengah.



Erizal menganggukkan kepalanya.


“Baiklah. Tapi aku akan menunggumu di luar saja. Selesaikan semua urusanmu dengan Kimah dan Misman,” ujar Erizal.



Tak lama kemudian, Marlon berjalan keluar dari kantor polisi. Dibelakangnya Melin menyusul dengan agak kepayahan. Tidak mudah menyesuaikan langkah dengan Marlon yang kakinya panjang dan langkahnya cepat itu.


“Ayo kau ikut ke rumah kita,” ujar Marlon.


“Ya. Tapi aku akan meminta izin bu Lina terlebih dahulu,” jawab Erizal.


__ADS_1


Erizal mengalihkan pandangannya ke arah Melin. Sekejap kedua mata mereka bertatapan. Melin tersenyum, dan Erizal membalasnya. Ada sesuatu yang berdesir di dada Erizal, tapi dia tidak tahu apa. Yan jelas hatinya tiba-tiba menjadi sedikit gembira setelah tadi sempat galau dengan keputusan sahabatnya. Mustikah bidadari turun dari kahyangan hanya untuk menyelamatkan hidup sahabatnya?


__ADS_2