
EPS 31 TANPA TUJUAN.
Seandainya bahuku bisa mengurangi dukamu, bersandarlah selama kau mau. Karena tangismu adalah kesedihanku, dan tawamu menyentuh sisi riangku. Aku hanya ingin melihat kau tersenyum bahagia melihat dunia. Bukan hanya karena aku memiliki rasa cinta, tapi karena kau sudah menjadi bagian dari hidupku. Bersemayam lembut menghuni kerajaan hati dan menerbangkanku pada harapan yang ingin kuraih.
Setelah menyerahkan bayi mungil kepada tim kesehatan kereta, dokter Ryan segera kembali ke tempat duduknya. Bertegur sapa dengan si bapak yang duduk didepan gadis itu sambil mengucapkan terimakasih. Lalu mengalihkan pandangannya kepada Melin yang diam-diam mengagumi sosok dokter kandungan tampan itu.
“Apa ini puterimu, kek?”
Si bapak menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu dia menjelaskan kalau Melin bukan puterinya, bahkan dia tidak mengenalnya. Dokter Ryan ikut tersenyum
“Gadis cantik, siapa namamu?” tanya dokter itu sambil menyentuh rambutnya.
“Melin,” sahut Melin tergagap.
Entah mengapa hatinya berdegup semakin kencang.
“Kelihatannya kamu sendirian. Hendak pergi kemana kamu?”
__ADS_1
“Ke Jogja.”
“Hah? Jauh sekali. Sendirian?”
“Iya dok, sudah biasa. Nanti kakak akan jemput disana.”
Dokter Ryan hanya menganggukkan kepalanya. Namun senyumnya masih tersungging dan kedua matanya masih menatapnya.
“Kamu benar-benar gadis pemberani Melin,” puji dokter Ryan kemudian.
Remaja yang sedang tumbuh berkembang itu menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah. Entah mengapa hatinya merasa senang di puji oleh dokter Ryan. Lalu dokter tampan itu mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, diberikan kepada Melin. Ternyata sebuah kartu nama.
Kruuung! Jegjegejegjeg…!
Kereta perlahan berhenti. Melin melirik sekilas tulisan besar yang terpampang di bangunan besar diluar kereta. Stasiun Kereta Api Cirebon. Dokter Ryan sibuk mengemasi barang-barangnya Rupanya dia hendak turun di sini. Lalu dia berdiri dan menyalami pak tua di depan Melin untuk berpamitan. Ah, sopan sekali, batin Melin. Setelah itu dokter Ryan juga menyentuh rambutnya kembali.
__ADS_1
“Melin, selamat jalan ya. Kalau kau ada waktu mainlah ke tempatku.”
Melin hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian membalas melambaikan tangannya. Ah, mungkin dokter itu hanya menganggapnya sebagai gadis kecil yang bepergian jauh sendirian. Dan dia menunjukkan empatinya. Tapi tetap saja Melin merasa senang mendapat perhatian dari dokter itu. Bahkan sampai dokter Ryan turun dari kereta dia masih memandangnya dari balik kaca jendela.
Kruuung! Jegjegejegjeg…!
Perlahan Kereta bergerak kembali, melaju dalam kecepatan tinggi menembuas dinding angin, memasuki wilayah Jawa Tengah. Mein selalu menatap keluar jendela. Diam-diam dia mencatat setiap tempat dimana kereta itu berhenti. Lalu membuat catatan kecil dibawahnya. Biar tidak lupa kalau suatu saat nanti dia harus balik ke Jakarta.
Setelah beberapa kali berhenti dibeberapa stasiun besar, akhirnya keretanya sudah sampai Jogjakarta. Waktu menunjukkan pukul delapan malam lebih sedikit. Dia membawa tas kecilnya yang terlihat sangat kotor. Bahkan tubuhnya pun terasa sedikit gatal, karena sudah dua haru belum tersentuh air dan sabun mandi.
“Aku juga butuh membeli pakaian ganti,” batinnya.
Satu-satunya pakaian yang dimiliki adalah yang dia pakai saat ini. Lalu dia memeriksa tas kecilnya, memeriksa sisa uang yang dimilikinya. Ah, masih ada sekitar limaratus ribu. Dia akan membeli pakaian pantas pakai yang harganya murah, lalu mencari toilet umum untuk mandi dan bergantai pakaian. Tapi yang paling membuatnya gelisah malam ini adalah dia tidak punya tempat tujuan. Dimana dia akan tidur malam ini?
__ADS_1