
EPS 21 LELAKI SANGAR
Di ujung jalan aku berdiri terpaku. Padahal senja sudah menatap malam. Kubiarkan rambutku meliuk-liuk diterpa angin yang menghembus kencang. Ini adalah musim gugur terakhirku disini. Ada sepenggal kisah yang menggores luka. Membuat nafasku masih tertinggal di kota ini. Dan pucuk-pucuk cemara yang bergoyang itu, meruntuhkan titik air yang melingkar di bening matamu.
Melin terdiam beberapa saat, tenggelam dalam perang batin yang bergemuruh. Ada keraguan yang mendadak merayapi hatinya. Ujung matanya menangkap wajah lelaki itu sekilas. Lalu tertunduk kembali. Lelaki itu begitu menakutkan, tanpa belas kasihan, apalagi empati. Pandangannya membunuh nyali siapapun yang bertatapan dengannya. Tubuh gadis kecil itu sedikit bergetar, jelas karena takut. Dan dia mencoba melawannya sekuat tenaga.
“Heh! Kau tak mendengar kata-kataku? Cepat masuk ke dalam mobil. Masih banyak yang harus aku jemput selain kamu!” bentaknya.
Tubuhnya bergetar hebat. Tapi begitu melihat wajah papa dan mama, keberaniannya timbul lagi. Dia langsung bergerak naik dan masuk ke dalam mobil, di susun oleh paman Han. Hatinya sedikit lega, ada paman Han yang akan mengantarnya, walaupun hanya sampai Balikpapan. Namun belum juga di duduk, mendadak terdengar keributan di belakangnya. Ternyata paman Han di larang ikut naik ke dalam mobilnya.
“Heh! Siapa kamu?” bentak laki-laki menyeramkan itu kepada Han.
Dia mencengkeram lengan Han dengan kuat, sehingga tubuh pamannya tidak bisa bergerak. Wajah Han langsung memucat.
“Eh, aku pamannya Melin,” sahut Han.
“Turun!”
“Ta..tapi aku temannya Teddy. Dia bos mu kan?”
“Turun!”
Laki-laki sangar itu membentak Han. Tatapan matanya jelas terbaca, kalau dia tidak suka di bantah. Dan Han cukup tahu diri. Dia segera turun dari mobil. Dan benar saja begitu Han turun, lelaki itu langsung masuk ke dalam mobil. Lalu memerintahkan supir untuk melajukan kendaraannya. Membawa tubuh Melin melesat ke arah luar kota. Meninggalkan Han, Papa dan Mama nya Melin tanpa penjelasan apapun.
“Han! Apa yang terjadi Han?” tanya papa yang bergegas menghampiri Han.
“Kenapa kau tidak ikut mobil itu?” kali ini gentian Mama yang bertanya.
Han hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku juga tidak tahu, Ko.”
Tentu saja jawaban Han mengejutkan hati papa dan mama.
“Apa? Kau tidak tahu?” kata papa geram.
__ADS_1
Hampir saja papa memukul Han kalau tidak dicegah mama.
“Cepat kau tilpun Teddy. Aku khawatir anak buahnya itu berniat jahat!” ucapnya kepada adik laki-lakinya itu.
Han segera mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor Teddy. Tapi tidak diangkat. Berkali-kali dihubungi, tetap saja tidak ada balasan dari Teddy. Tentu saja papa marah bukan main. Di pukulnya pantat Han berkali-kali dengan tongkat sapu yang di pegangnya. Paman Melin itu hanya bisa menjerit-jerit kesakitan dan berlari kesana-kemari.
“Papa! Lebih kita susul mobil tadi!” ujar mama.
Papa menghentkan gerakannya. Nafasnya masih memburu, dan tatapan matanya masih terlihat sangat marah.
“Sekarang tunjukkan dimana rumah Teddy. Kita kesana sekarang!” bentak papa.
Han terdiam meringkuk di tanah. Kedua tangannya diletakkan menutupi kepalanya. Rupanya dia masih ketakutan dipukul dengan tongkat sapu tadi.
“Sekarang tunjukkan padaku, dimana rumah temanmu itu!” bentak papa lagi.
Tapi Han hanya menangis sambil minta maaf.
“Apa! Bukankah dia temanmu?”
“I..iya. Tapi aku baru mengenalnya dua hari yang lalu di café. Dan aku belum pernah diajak ke rumahnya."
Brug!
Mendengar kata-kata adik laki-lakinya itu, tubuh mama langsung menggelosoh ke tanah tak sadarkan diri. Papa dan Han semakin panik. Dengan susah payah, mereka membawa tubuh mama ke dalam rumah kembali. Setelah itu mereka hanya terdiam. Rasa marah, lelah dan bersalah menggelayuti pikiran dan hati papa. Dia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lapor polisi jelas bukan tindakan yang tepat karena belum tentu itu adalah penculikan.
“Han, kuncinya adalah kita harus menemukan Teddy. Cari dia dimanapun berada!”
Sementara itu mobil yang membawa Melin melaju kencang meninggalkan pelataran rumahnya. Seketika gadis itu terkejut bukan kepalang. Apa yang terjadi? batinnya. Lewat kaca belakang dia masih melihat papa dan mamanya yang begegas meghampiri paman Han. Pikirannya langsung menyimpulkan kalau ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Dia langsung tahu kalau dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
“Papa! Mama!” jeritnya histeris dari dalam mobil.
Tangannya menggapai-gapai di tempelkan pada kaca belakang mobil. Tentu saja papa dan mamanya sudah tidak bisa melihatnya, karena mobil telah melesat jauh meninggalkan mereka. Tapi apa yang dia lakukan membuat seisi mobil menjadi gaduh dan membuat amarah lelaki sangar tadi timbul kembali.
“Diam!” teriaknya.
Tapi Melin tetap saja berteriak histeris memanggil papa dan mamanya. Di tepi jalan yang cukup sepi, akhirnya mobil berhenti. Si lelaki sangar turun dari tempat duduknya di samping supir kemudian membuka pintu belakang. Melin langsung bergerak cepat hendak lari keluar. Tapi tubuh rampingnya langsung di pegang dengan kuat. Dia meronta-ronta sejenak sebelum akhirnya tergeletak pingsan setelah lelaki itu memukul tengkuknya.
“Buk!”
“Akh!”
Tubuh gadis kecil itu langsung menggelosoh di lantai mobil. Dengan cekatan lelaki itu mengikat tangan dan kakinya dan melakban mulutnya. Lalu dibaringkan kembali di jok belakang. Setelah itu dia kembali ke tempat duduknya semula. Mobil pun kembali melaju dengan tenang entah kemana…
***
Perlahan Melin membuka matanya. Suasana terlihat gelap. Dan kepalanya terasa sangat pusing dan berat. Tengkuknya juga terasa sakit sekali. Apa yang terjadi? batinnya. Dia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, namun tidak bisa. Bahkan mulutnya pun tidak bisa berbicara. Setelah sekian lama, dia baru sadar kalau tangan dan kakinya telah terikat erat dan mulutnya ditutup dengan lakban. Pasti lelaki itu yang melakukannya.
Hati gadis itu bergemuruh. Ada rasa takut dan bingung yang bercampur aduk menguasai hati dan pikirannya. Inginnya dia berteriak sekerasnya, tapi entah kenapa pikirannya seperti melarangnya. Perlahan pikirannya bekerja kembali. Mengingat setiap peristiwa dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Kesadarannya pulih kembali dan gadis itu terus berusaha bersikap tenang.
Ciiiit!
Mendadak mobil berhenti. Lelaki sangar itu membuka pintu mobil. Lalu dengan satu kali gerakan, dia mengangkat tubuh Melin ke atas pundaknya. Gadis itu langsung memejamkan matanya kembali, pura-pura pingsan. Dia tahu berteriak dan menangis bukanlah jalan terbaik saat ini. Lebih baik pura-pura pingsan sambil mempelajari situasi yang sedang terjadi.
Brug!
Laki-laki itu membawanya masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu dikelilingi tembok yang tinggi. Ada banyak laki-laki sangar lainnya di rumah itu. Mereka bahkan membawa senapan laras panjang. Sampai di depan sebuah kamar laki-laki itu berhenti, membuka pintunya, lalu tubuhnya dilemparkan begitu saja di atas kasur busa yang sangat empuk. Diamatinya dengan seksama wajah Melin.
__ADS_1
“Hai! Buka matamu dan bangunlah! Aku tahu kau hanya pura-pura tidur kan?” bentaknya. “Kalau tidak, aku akan menyiram tubuhmu dengan seember air!”