
EPS 5 SYARAT KESEMBUHAN
Angin dingin meniup mencekam memasuki bulan Desember. Air hujan diikuti badai turun begitu deras dan kejam, membuat setiap hati jadi berdebar. Tak ada lagi sinar cinta seterang rembulan. Tak ada lagi kasih sayang selembut belaian tanganmu menghilang. Hanya angin dingin, yang terasa nyeri menusuk di dalam hati.
Neles Ibo sangat bingung dengan kondisi puteri dan kedua adik perempuanya. Sebagai kepala suku dia berusaha keras kesana kemari mencari tahu sebab dari penyaki yang mereka derita, namun belum juga ada obatnya. Apalagi mereka tidak dapat berbicara, sehingga dia tidak mendapatkan keterangan apapun yang dia butuhkan. Berbagai upaya penyembuhan telah dilakukan, setiap upacara bakar batu, suku mereka selalu memberikan persembahan pada Atou dan mendoakan kesembuhan Yohana dan kedua bibinya.
Dan badai kesedihan itu akhirnya datang, Seperti kabut tebal yang menutup pandangan, lalu menghilang begitu saja, meninggalkan jejak kepedihan yang begitu menyayat. Tak ada luka yang mudah di sembuhkan, karena waktu terasa melambat menyiksa nurani. Hanya kesabaran dan ketabahan yang menguatkan hati.Setelah dua bulan sakit, kedua bibi Yohana akhirnya meninggal dunia.
"Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik". Upacara berkabung dilaksanakan beberapa hari, penuh dengan tangis dan air mata. Para papa dan mama memotong salah satu ruas jari mereka sebagai tanda kesedihan. Itulah tradisi yang tetap mereka jaga saat ada salah satu keluarga yang pergi. Kesedihan mendalam dan luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarga, baru akan sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi.
“Kedua adikku sudah pergi. Aku takut kejadian buruk akan menimpa puteri kita juga,” ujar Perpetua sambil mengusap air matanya.
Neles Ibo berdiri tanpa kata. Wajahnya yang biasanya gagah terlihat lesu dan tak berdaya. Pandangan matanya dibuang jauh, menembus batas langit. Berharap ada keajaiban dan pertolongan dari para leluhur untuk menyelamatkan puterinya.
“Pergilah kau ke Uma. Mintalah doa dan nasehat kepada ibu,” sambung Pepertua lagi.
Neles Ibo memandang wajah isterinya beberapa saat tanpa kata-kata, lalu menganggukkan kepalanya. Ada rasa bersalah yang mengganggu pikirannya. Setelah sekian lama, kenapa dia tidak pernah berpikir untuk meminta nasehat kepada ibunya sendiri?
“Aku akan ke rumah Mama sekarang juga,” kata Neles Ibo.
“Pergilah. Ajak juga Marlon dan Marlin, biar mama senang bertemu cucunya,” ujar Perpetua.
__ADS_1
***
Akhirnya Neles Ibo berangkat ke Uma, rumah ibunya. Uma adalah komplek perumahan yang dihuni keluarga luas yang diturunkan dari anak laki-laki. Disana dia mengadukan masalahnya kepada ibunya, Nene Yoteni. Meskipun terlihat kecewa, Nene Yoteni sangatlah bijak dan berpengalaman. Sambil mengerjap-kerjapkan matanya yang telah rabun, Nene menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dua orang adik menantuku telah mati. Lalu dimana cucuku Yohana?” tanya Nene
“Dia ada di biliknya. Keadaannya tidak separah kedua bibinya. Yohana masih bisa berbicara dan bergerak,” sahut Neles Ibo.
“Hm, jagalah cucuku dengan baik. Jangan pernah tinggalkan dia sendirian.”
“Ya. Pepertua selalu menjaganya siang dan malam. Lalu, … bagaimana aku harus bersikap?”
Nene Yoteni terdiam sejenak. Nampak keningnya berkerut, pertanda dia sedang berpikir keras. Lalu kedua tangannya yang keriput memegang tangan puteranya.
Neles Ibo menganggukkan kepalanya. Suku Mowa adalah suku paling tua dan paling besar di lembah Baliem. Jumlahnya lebih dari seratus orang. Menguasai wilayah paling luas di lembah Baliem. Kepala sukunya sudah berusia sembilan puluh tahun lebih, tapi penglihatan mata batinnya sangat tajam. Namanya Iles Mowa. Dia adalah kepala suku yang paling dihormati diantara suku-suku besar dan kecil lainnya.
***
Perjalanan ke tempat suku Mowa tidaklah mudah. Harus melewati bukit terjal dan beberapa sungai yang cukup licin. Apalagi hujan mengguyur sejak pagi membuat segalanya menjadi basah dan dingin. Neles Ibo berangkat sendiri. Dia tidak mau membawa satupun kerabatnya. Mendekati wilayah Mowa dia dihadang beberapa orang yang mengacungkan senjata panah ke arahnya. Ujung panah itu memang didesain untuk membunuh.
Neles Ibo melambaikan tangannya, pertanda kalau dia adalah kawan, bukan musuh.
__ADS_1
“Aku adalah Neles Ibo, putera Yoteni. Sampaikan pada tetuamu, kepala suku Ibo ingin bertemu,” ujarnya.
Orang-orang itu hanya terdiam. Memandang tajam tubuh Neles dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu orang yang paling tua menganggukkan kepalanya. Salah satu orang yang berdiri paling belakang segera menurunkan panahnya dan lari ke belakang. Tak lama kemudian dia kembali membawa perintah dari Iles Mowa. Mempersilahkan Neles Ibo untuk menemuinya.
Iles Mowa nampak duduk di tanah beralaskan rerumputan kering yang cukup tebal. Tubuhnya begitu kurus tetapi bersih. Dia menpersilahkan Neles Ibo untuk duduk dan memperkenalkan dirinya. Lalu Neles Ibo menceriterakan semua tentang dirinya dan permasalahan yang sedang dihadapinya.
“Begitulah keadaanya. Aku putera Yoteni, memohon bantuanmu untuk meminta petunjuk para leluhur, apa yang seharusnya aku lakukan sekarang.”
Kepala suku Mowa terdiam. Nampak kepalanya tertunduk dan matanya terpejam. Mulutnya komat kamit seperti sedang berbicara dengan seseorang. Sesekali nampak wajahnya menyeringai entah karena apa. Beberapa saat kemudian dia membuka matanya. Setelah menghela nafas panjang dia berkata kepada Neles Ibo.
“Puterimu telah melakukan kesalahan kepada penghuni hutan. Dia telah merusak pohon Bintangur yang keramat dan bertindak mengancam kelestarian hutan,” kata Iles Mowa. “Mereka menjadi marah dan menurunkan kutukannya kepada kedua adik dan puterimu.”
“Iles,sampaikanlah permintaan maaf puteriku atas perilakunya,” ujar Neles memelas.
“Mereka sudah memaafkan puterimu. Tapi untuk menyembuhkan penyakitnya, ada persyaratan lain yang harus kamu penuhi,” sahut Iles.
Kepala suku Mowa itu mengatakan bahwa Yohana harus meminum ramuan dari Anggrek yang berwarna hitam keeamasan untuk kesembuhannya. Dan anggrek hitam itu harus dibawa oleh dua orang kembar dari tempatnya di tengah hutan larangan sampai ke hadapan Yohana di dalam biliknya. ‘Dua orang kembar?’ batin Neles Ibo, pikirannya langsung teringat kepada kedua putera kembarnya, “Marlon dan Marlin…?”
“Kenapa bukan aku sendiri yang harus mengambil anggrek itu Iles? Aku adalah ayahnya,” kata Neles Ibo kemudian.
Iles Mowa menggelengkan kepalanya. Katanya petunjuk para leluhur haruslah dilaksanakan. Tidak boleh di tawar-tawar.
__ADS_1
“Sekarang pulanglah ke rumahmu. Temui Yoteni lagi, dia pasti tahu jalan keluarnya.” kata Iles Mowa.
Neles menganggukkan kepalanya. Kemudian pamit untuk kembali ke Uma. Kegelisahan berkecamuk di dalam hatinya. Dia khawatir kalau yang dimaksud orang kembar itu adalah puteranya sendiri Marlon dan Marlin. Dia tidak akan tega membiarkan mereka memasuki hutan larangan yang sangat angker. Lagipula, mereka masih anak-anak. Usia mereka belum genap limabelas tahun.