SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 11 PERMINTAAN MARAMA


__ADS_3

EPS 11 PERMINTAAN MARAMA


Seperti mutiara yang terpendam di dalam lautan. Tak tersentuh dan tetap terjaga. Tak mengurangi nilainya walau di dalam cangkang yang berlumut. Kau tinggal membukanya, lalu menggosoknya dengan kain yang bersih, maka sinarnya akan memancar. Menyilaukan mata dan menarik perhatian setiap hati yang menyukai keindahan.


Setelah peristiwa lomba panahan itu, Marama melaporkan tentang seorang remaja yang memiliki keahlian memanah kepada Pengurus Besar Organisasi Panahan Indonesia kabupaten Jayawijaya yang bertempat di Wamena. Mereka nampak gembira dan menyambut baik laporan Marama.


“Namanya Marlin Isier Ibo. Dia adalah putera bungsu ketua suku Ibo dari keluarga besar suku Dani yang menghuni salah satu sudut lembah Baliem. Dia dijuluki si rambut api karena ada sejumput rambut berwarna merah diantara rambut kepalanya yang hitam.,” katanya.


Masren Koreri, salah satu pelatih atlet panahan, mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia ingat beberapa tahun yang lalu juga pernah mendengar ceria tentang suku Ibo yang mahir memanah. Hanya saja keberadaan mereka agak sulit ditemukan karena wilayah mereka cukup tersembunyi, harus menyeberangi danau Bira kalau dari Wamena.



“Kakakku pernah pergi disana, dia juga mengenal Neles Ibo. Tapi dia tidak tahu kalau Neles punya putera yang pandai memanah. Dia hanya tahu kalau suku Ibo sedang dilanda penyakit aneh. Banyak yang tertular, termasuk adik dan puteri Neles sendiri.”


“Aku akan membujuknya agar mengizinkan puteranya untuk aku bawa kesini,” ujar Marama.


Masren menganggukkan kepalanya.


“Kau benar. Di Wamena dia dapat meneruskan sekolahnya dan aku akan melatihnya menjadi atlet panahan professional.”



“Kalau begitu minggu depan aku akan kembali ke sana. Sekalian mengajak dokter Hendra untuk memeriksa keadaan puteri Neles Ibo.”


“Neles Ibo berasal dari keluarga yang di hormati di kalangan suku Dani, ibunya adalah Nene Yoteni, sahabat dekat kepala suku Mowa,” kata Masren lagi.”Kalau kau berhasil menyembuhkan puterinya, apapun keinginanmu pasti mereka kabulkan.”


***


Seminggu kemudian Marama pun bergegas pergi ke lembah Baliem bersama dokter Hendra, kepala Puskesmas setempat. Perjalanan yang tidak mudah, apalagi setelah hujan turun seharian. Helikopter capung yang membawa mereka dari Wamena, mendarat di sebuah tanah lapang berumput tidak jauh dari danau Bira. Setelah itu mereka harus naik perahu mesin untuk menyeberangi danau itu, dan melakukan perjalanan darat sebelum sampai di kediaman suku Ibo. Untunglah Marama cukup di kenal di kawasan itu sehingga tidak ada gangguan yang berarti.



Dengan penuh rasa haru Neles Ibo menyambut guru Marama dan dokter Hendra. Apalagi setelah tahu maksud kedatangan dokter itu untuk mengobati penyakit puterinya. Betapa gembiranya seluruh keluarga besar suku Ibo. Mereka segera mempersiapkan pesta bakar batu, yaitu pesta memasak daging dan ubi dengan memanggangnya dibawah batu yang sudah dibakar.



Neles Ibo menjemput tubuh puterinya di Ebei dan mengangkatnya ke Uma. Perpetua menyiapkan alas dan tempat tidur dibantu paman Lukas. Wajah Yohana yang putih memucat, dan tubuhnya yang lemas hanya diam saja saat dokter Hendra memeriksanya. Hampir limabelas dokter muda itu memeriksa Yohana dan memberinya obat yang bermacam-macam., setelah itu dia membolehkan gadis itu untuk dibawa kembali ke biliknya.

__ADS_1



“Bagaimana keadaanya dokter?” tanya Marama.


Neles Ibo, Perpetua, Nene Yoteni, dan keluarga lainnya nampak tegang dan menunggu jawaban dokter Hendra. Tapi orangnya malah tersenyum, seolah memberi tanda bahwa semua baik-baik saja.



“Kemungkinan saat main ke hutanYohana dan kedua bibinya digigit oleh nyamuk yang terinfeksi virus Chikungunya. Makanya lima hari kemudian mereka baru merasakan sakitnya, karena masa inkubasi virus itu sekitar dua sampai tujuh hari.”



Wajah-wajah itu saling berpandangan tak mengerti.


“Maksudmu Yohana bisa disembuhkan?” tanya Marama lagi.


Dokter Hendra menganggukkan kepalanya.


“Sebenarnya virus Chkungunya tidak begitu mematikan. Yang penting dia mendapat perawatan medis secepatnya.”




Tiba-tiba seorang pengawal masuk dan memberitahu kalau Marlon dan Marlin sudah kembali ke suku Ibo dengan selamat.



“Marlon dan Marlin sudah kembali. Mereka terlihat berjalan di kaki bukit menuju kemari,” katanya.



Betapa gembiranya Neles Ibo dan yang lainnya mendengar berita itu. Setelah dokter mengatakan Yohana bisa disembuhkan, sekarang putera-putera Neles juga telah kembali. Nene Yoteni, Papa Neles, Mama Perpetua, paman Lukas menyambut mereka bagaikan pahlawan yang baru pulang dari medan perang dan meraih kemenangan.



“Lihat apa yang kami bawa Papa. Mungkinkah ini yang namanya anggrek hitam. Dia tumbuh dari dalam bukit batu, bunganya menjuntai menghiasai bongkahan batu emas.,” ujar Marlin dengan bangga.

__ADS_1



Perpetua memeluk kedua puteranya dengan erat. Dia sangat bersyukur memiliki putera-putera yang pemberani. Sayang dan bertanggungjawab terhadap keluarga. Lalu Marlon dan Marlin diperkenalkan dengan dokter Hendra. Mereka mendapat penjelasan kalau Yolana tertular virus Chikungunya, dan telah diobati.



‘Sekarang naiklah kalian ke bilik Yohana. Lalu berikan anggrek hitam itu kepadanya,” ujar Nene Yoteni mengingatkan.



Marlon dan Marlin segera meminumkan seduhan bunga anggrek hitam kepada Yohana. Entah karena obat yang diberikan oleh dokter Hendra atau pengaruh bunga Anggrek Hitam, yang jelas Yohana sudah bisa menggerakkan tangannya tanpa terasa sakit lagi.


***


Siang itu juga, karena tergesa harus kembali ke Wamena, Marama menyampaikan maksud hatinya untuk membawa Marlin ke ibukota kabupaten, Wamena, tapi Marlin menolaknya. Marama menatapnya dalam-dalam, Marlin sangat mirip dengan Marlon. Wajahnya tampan, penampilannya tenang, cerdas dan wataknya keras. Tubuhnya juga kuat dan bersih,



“Kau bisa meneruskan pendidikanmu di sana. Semua biaya pendidikan dan biaya hidup akan ditanggung oleh bapak Bupati,” bujuk Marama lagi.



Namun Marlin dengan tegas menggelengkan kepalanya. Sementara Neles Ibo, Mama Perpetua dan Nene Yoteni hanya terdiam. Hati kecil Neles mengatakan kalau Marlin harus mengambil kesempatan ini agar kelak kehidupannya lebih terjamin. Melihat suasana kelarganya yang tidak membelanya Marlin menjadi ragu. Hanya mama Perpetua yang terlihat keberatan.



“Aku hanya akan pergi bila ibu mengizinkannya,” jawabnya kemudian.



Marama pun segera menemui Perpetua dan memohon agar mengizinkannya membawa puteranya untuk dibawa ke Wamena. Sebenarnya hati Perpetua merasa keberatan dengan permintaan tersebut. Bagaimanapun dia tidak ingin berpisah dengan Marlin, putera bungsunya. Namun Marama terus mendesaknya, bagaimanapun Marlin akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada keadaannya sekarang.


Mendengar alasan itu, akhirnya hati Perpetua luluh. Dia mengizinkan puteranya dibawa Marama menuju ke kota Wamena.



“Baiklah Marama aku mengizinkan puteraku kau bawa ke Wamena. Berjanjilah kau akan mengasuhnya seperti anakmu sendiri,” pesan Perpetua.

__ADS_1



Marama menganggukkan kepalanya.


__ADS_2