SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 33 PANTAS MATI


__ADS_3

EPS 33 PANTAS MATI


Mati adalah kata-kata yang membuatmu takut untuk menyelamatkan duniamu, dan lebih menyayangi akhiratmu.



Sedang asyik-asyiknya terlelap di dalam buaian, tiba-tiba Melin merasa ada telapak tangan yang menutup mulutnya. Telapak tangan itu begitu lebar dan kuat mendekap bibirnya yang mungil hingga dia tidak mampu berkata-kata. Seketika matanya terbuka. Dalam temaram cahaya lampu stasiun, dia melihat dua orang berdiri di sisi tubuhnya. Salah satu dari mereka yang menutup mulutnya dengan kuat.



“Diam! Jangan berteriak kalau mau selamat!” bisiknya pelan.


Sementara laki-laki yang satunya mengacungkan beda berkilat ke wajahnya. Sebuah pisau dapur stainless steel mengancam dirinya. Namun gadis itu tak gentar. Dia terus melakukan perlawanan. Tubuhnya berusaha meronta walaupun semuanya sia-sia. Tangan laki-laki itu terlalu kuat untuknya.



Plak!



Laki-laki itu menampar wajahna dengan keras. Seketika pipinya terasa panas.


“Sudah aku bilang jangan bersuara, Kau mau aku coret-coret wajahmu dengan ujung pisau yang tajam ini?”


__ADS_1


Plak!



Satu tamparan yang lebih keras lagi membuat kesadarannya langsung hilang. Tubuhnya terkulai diam diatas pembaringannya.


“Kenapa Sim? Dia tidak mati kan?” tanya temannya.


Darsim menggeleng cepat.


“Tentu saja tidak. Aku hanya memukulnya pelan. Cepat kau periksa isi tasnya!”


Temanna segera nengambil tas yang selalu didekap erat oleh Melin. Lalu diperiksanya isi ta situ, bahkan diacak-acaknya serta dibalik hingga isinya keluar semua.




“Tidak ada apa-apa Sim. Hanya baju-baju murahan yang baru saja dia beli tadi. Uangnya hanya tersisa enampuluh ribu.”


Darsim memandang wajah temannya dengan rasa tak percaya.



Huh!

__ADS_1



Darsim mendengus kesal.


“Hah! Tampangnya saja mirip orang Tionghoa, apai duit gak punya. Kere darimana lagi ini? “seru Darim. “Lebih baik kita jual saja gadis ini.”


Dengan kedua tangannya yang kekar Darsim mengangkat tubuh Melin dan membawanya pergi dari tempat itu. Dia berjalan mepet ke tembok dan menyelinap diantara gedung stasiun. Setelah agak jauh, dia membungkukkan tubuhnya, diikuti oleh temannya Ternyata mereka memiliki jalan tikus untuk keluar dari stasiun tanpa dikeahui banyak orang.


Mereka terus berjalan sepanjang rel kereta. Di sebuah bangunan kosong yang tak berpenghuni, Darsim meletakkan tubuh Melin di lantai.


“Narno, kau jaga disini. Aku akan mencari orang yang mau membeli gadis kecil ini sebagai budaknya,” perintahnya.


Narno menganggukkan kepalanya. Darsim segera bergerak keluar bangunan kosong itu, meninggalkan tubuh Melin yang tergeletak di dalam kamar bersama penjaganya. Dan tiba-tiba pikiran laki-laki muda itu berubah. Melihat tubuh gadis remaja yang sedang ranum-ranumnya, hasrat kelelakiannya timbul. Kulitnya yang putih mulus dan aromanya yang wangi membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.


Perlahan disentuhnya rambut Melin pelan-pelan. Tangannya terlihat bergitar hebat, keringatpun menetes dari ujung hidungnya. Nafasnya sedikit terengah, seumur hidup, baru pertama kali ini dia membelai perempuan baik-baik. Setelah itu tangannya bergerak turun. Menyentuh mata, hidung dan kedua pipinya yang halus. Namun saat dia hendak menyentuh bibirnya, dia dikagetkan oleh satu suara yang menggelegar penuh kemarahan.


“Berani kau menyentuh tubuhnya, akan aku cincang kau menjadi berkedel!”


Narno terloncat kaget. Kepalanya langsug menengok ke belakang. Tampak seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, membawa pedang katana miliknya. Pedang itu perlahan terlihat penuh dengan cahaya kematian. Siap menebas siapapun yang dikendaki pemiliknya.


“Kang Misman? Kau…kau…ada disini?”


Misman tidak mempedulikan kata-kata Narno. Dia berjalan tegak menghampiri tubuh Melin. Setelah itu menengok ke arah Narno yang terlihat merinding ketakutan.


“Pengkhianat! Kau memang pantas mati!”

__ADS_1


__ADS_2