SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 13 SERANGAN PEMBURU


__ADS_3

EPS 13 SERANGAN PEMBURU


Keajaiban ini terlalu puitis. Sulit bagiku untuk membagi cerita. Hutan seolah hidup seperti manusia. Daun-daun bergoyang seperti tarian para suku dihembus angin senja. Rintik hujan adalah teman bermainku, semilir angin adalah sahabatku. Langit adalah kubah pelindungku. Matahari memancarkan spectrum yang berwarna-warni. Seperti sebaran pita penuh warna di langit yang biru. Alam tersedia untuk dinikmati, bukan hanya di eksploitasi.



Malam ini purnama hadir kembali. Wajahnya bulat sempurna menggantung gagah di kegelapan langit yang begitu pekat. Marlon duduk menikmati wajah bulan di atas dahan pohon Ketapang yang cukup tinggi. Dari sini dia bisa melihat permukaan danau Bira nun jauh disana. Di titik yang begitu jauh di tengah danau, Marlon melihat ada lampu yang berkedip-kedip seperti bintang yang sangat kecil, mungkin dari rumah penduduk atau dari perahu yang tertambat di tepi danau.


Angin berhembus semilir, menggoyangkan dahan tempat dia bersandar.Pandangannya jauh ke tengah danau. Semakin sempurna wajah bulan, terasa permukaan danau sedikit bergelombang. Seolah ikut menyambut datangnya purnama. Pada saat bulan purnama, air permukaan danau akan sedikit bergelombang, karena pengaruh gaya gravitasi atau daya tarik bulan, salah satu satelit alami terbesar di tata surya.


Hatinya sedang gembira. Siang tadi dia baru saja mengunjungi sekolahnya, sebuah Sekolah Menengah Pertama milik sebuah yayasan keagamaan. Memang tidak setiap hari dia bisa bertemu dengan teman-teman dan gurunya, tapi seminggu sekali.Dia harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk sampai di sekolahnya. Apa yang di sebut sekolah adalah bangunan tenda berbentuk rumah setinggi tiga meter, yang di pasang mendadak.


Gurunya adalah relawan yang didatangkan dari luar Papua, atau kalau tidak ada digantikan oleh seorang misionaris. Siswanya berjumlah duapuluh tujuh orang. Namun pertemuannya dengan mereka membuatnya bisa sedikit menghilangkan gundah di hatinya. Dia semakin fokus memperdalam pengetahuannya. Hari ini dia bisa meminjam buku tentang khasiat tanaman-tanaman obat. Terlihat dia senyum-senyum sendiri saking senangnya.


“Sudah malam Marlon. turunlah dari pohon,” ujar paman Lukas yang baru saja keluar dari Honai.


Malon melihat ke bawah. Nampak paman Lukas memegang obor yang menyala sedang memandangnya. Busur dan anak panah terselip di pinggangnya. Rupanya paman hendak berburu babi hutan bersama para papa. Memang setelah masa tanam ubi selesai, keiatan para papa adalah berburu di hutan untuk di makan. Marlon pun segera turun.


“Hari ini kau terlihat gembira sekali. Apa kau baru saja mengunjungi Yohana?”


Marlon menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Apa kau baru saja mendapat kabar tentang adikmu, Marlin?”


Marlon menggeleng kembali.


“Tidak bapade. Siang tadi aku pergi ke sekolah sehingga tidak sempat mengunjungi kaka Yohana,” sahut Marlon.


Paman Lukas mengguk-anggukkan kepalanya. Bapade adalah panggilan untuk paman atau adik laki-laki dari bapak.


“Ow, kau baru pulang sekolah? Makanya kau kelihatan gembira sekali hari ini. Senyum-senyum sendiri di atas kegelapan batang pohon.”


Marlon tertawa sambil menutup mukanya. Rupanya ada sedikit rasa malu.


“Bapade mau berburu malam ini?”


“Baik bapade. Aku juga belum selesai membaca buku.”


Paman Lukas segera meninggalkan Marlon, untuk bergabung dengan saudara-saudara lainnya. Mereka akan berburu di kawasan hutan yang menjadi wilayah kekuasaan suku Ibo. Dalam keluarga besar suku Dani, masing-masing kelompok kecil memiliki wilayah perburuan hutan sendiri-sendiri. Iles Mowa lah yang telah membaginya. Sebagai kepala suku terbesar dia memiliki karisma dan kebijaksanaan untuk membagi wilayah perburuan secara adil.


Marlon kembali masuk ke dalam biliknya. Mengambil buku bersampul merah berjudul "Aku dan P3K", karya penulis Sis Fauzi, terbitan Checklist dari grup penerbit Gramedia Indonesia. Buku yang sangat bermanfaat karena berisi pengetahuan tentang tata cara penanganan pertama terhadap berbagai macam peristiwa medis yang terjadi.


Menjelang tengah malam, Marlon naik ke tempat tidur. Membaca doa dan pujian untuk Atou agar selalu melindungi keluarganya. Lalu ditemani suara serangga malam serta kepak kelelawar, Marlon tertidur pulas beralaskan rumput kering yang baru saja digantinya. Mengantarkannya pada mimpi indah tentang harapan dan cita-citanya hari ini.

__ADS_1


***


Pagi baru saja menggeliat. Sinar matahari memancar menerobos kerimbunan dedaunan.Suara burung berkicau bersahut-sahutan. Orang-orang suku Ibo sudah memulai kesibukan mereka. Terlihat asap mengepul di kebun belakang Ebei. Para mama sedang mempersiapkan upacara pembakaran batu. Mereka menata batu-batu yang akan dibakar diatas tanah, lalu menutupinya dengan kayu-kayu kering dan dedaunan.


Namun ada yang terasa aneh pagi ini. Rombongan para papa yang berangkat berburu tadi malam, belum juga kembali. Padahal biasanya mereka sudah pulang sebelum fajar datang sambil membawa binatang hasil buruan. Tentu saja hal ini membuat anggota keluarga Ibo yang lainnya menjadi khawatir. Mereka takut terjadi apa-apa dengan rombongan yang berangkat berburu.


Marlon segera naik ke atas pohon ulin yang tinggi menjulang. Pohon setnggi lebih dari limapuluh meter itu adalah pohon paling tinggi di sekitar hutan yang ditinggali suku Ibo. Dari ketinggian itu dia bisa leluasa mengamati hutan dari kejauhan. Setelah lama menunggu akhirnya ujung matanya dapat menangkap gerakan-gerakan dari dalam hutan. Semakin lama gerakan-gerakan itu semakin dekat dan semakin jelas.


“Rombongan para papa sudah kembali!” teriaknya dari atas pohon.


Tangannya menunjuk ke arah kanan dari tempat tinggal suku Ibo. Para mama yang sudah gelisah menunggu mendadak berubah air mukanya. Arah yang ditunjuk Marlon, bukanlah arah yang biasanya di lewati para papa saat kembali dari perburuan. Seharusnya mereka kembali dari arah kiri hutan, karena saat beramgkat mereka pergi ke arah kanan hutan.


“Apa yang terjadi dengan mereka? Mengapa mereka melalui jalan yang salah?” bisik Perpetua, hampir tak terdengar.


Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Perpetua, karena mereka juga dilanda kebingungan. Detik-detik penuh ketegangan menyelimuti hati dan fikiran mereka. Mereka diam mematung menunggu para suami muncul dari dalam kerimbunan hutan. Lalu terdengar kepak sayap burung kecil beterbangan, pertanda ada orang yang datang. Satu persatu wajah-wajah mereka muncul menyeruak dari kerimbunan. Wajah yang berlumuran darah.


Yang pertama papa Neles Ibo, disusul paman Lukas dan saudara-saudara yang lainnya. Enam orang menggotong sebatang dahan kayu yang cukup kuat. Dibawahnya tergantung tiga ekor babi hutan yang cukup besar. Di belakang mereka muncul empat orang dengan peralatan yang sama. Tampak dua tubuh anggota suku Ibo tergantung di bawahnya. Tubuh mereka tampak berlumuran darah dari kepala sampai ke kaki.


Para mama segera menyambutnya. Jerit tangis langsung terdengar begitu melihat keadaan luka yang di derita. Mereka begitu histeris melihat anggota keluarga suku Ibo yang sedang mendekati ajalnya.


“Apa yang terjadi Neles?” tanya Perpetua.

__ADS_1


“Kita di serang oleh rombongan pemburu lain yang menggunakan senjata api. Dua orang terluka parah, Aku sudah memburunya sampai pagi, tapi tak ada jejaknya,” ujar Neles.


__ADS_2