
EPS 7 AKU PUTERA IBO
Lembah Baliem di suatu siang. Angin berkesiur lembut. Memberi nuansa sejuk di saat matahari bersinar terik. Daun-daun menari sejenak dalam gerak yang tak beraturan. Lemah gemulai dalam irama rancak suara air sungai yang cukup deras menghantam bebatuan. Di seling teriakan gembira bocah-bocah kecil yang bersorak setiap kali melihat sesuatu yang mengagumkan.
Sudah tiga hari hujan tak turun. Orang-orang berkerumun di atas tanah yang lapang di tepi sungai Baliem. Walaupun tak sebesar sungai Kapuas, tapi sungai Baliem menjadi detak nadi kehidupan suku-suku yang menghuni lembah Baliem. Hari ini mereka sedang menyaksikan perlombaan memanah yang diikuti oleh para pemuda dari suku Ibo dan Mek. Mereka menampilkan pemanah-pemanah terbaik untuk memenangkan lomba. Karena setiap pemenang membawa kehormatan sukunya.
“Laksanakan lomba ini dengan kemampuan kalian yang paling tinggi,” ujar lelaki setengah baya yang memakai baju olah raga.
Namanya Marama. Dia adalah orang yang dipercaya sebagai juri lomba. Marama adalah seorang guru olahraga sebuah Sekolah Dasar di Wamena. Dia berasal dari Sorong. Dia sengaja di undang untuk melatih pemuda-pemuda Ibo dan Mek menjelang Fetival lembah Baliem. Hampir semua pemuda yang ikut lomba pagi itu pernah menjadi muridnya. Mereka percaya Marama bisa berlaku adil dan menjadi juri yang baik.
“Baik Guru.”
Setelah memberikan sedikit nasehat, akhirnya lomba memanah pun segera dimulai.
“Sekarang berdirilah kalian satu persatu ditengah arus sungai yang deras.”
Marama memberikan contoh. Dia berdiri ditengah arus sungai yang sangat deras.
“Aku akan memanah lubang kecil di pohon beringin itu,” sambungnya sambil membidik sebuah lubang kecil dipohon beringin.
Marama berdiri tegak. Kakinya berpijak dengan kuat melawan derasnya arus sungai. Sama sekali tak bergerak. Dengan tenang dilepaskannya anak panah itu.
“Clap!” tepat menancap di pusat lubang.
Orang-orang memandang kagum. Mereka bertepuk tangan dan bersorak. Sesaat kemudian dia memberi tanda kepada para peserta untuk bersiap. Beberapa pemuda segera turun ke sungai untuk mempersiapkan dirinya. Mereka berusaha mencari pijakan kaki yang kuat diantara derasnya arus sungai yang menggoyahkan. Namun itu bukan hal yang mudah, membidik sasaran dengan kaki yang bergoyang-goyang.
Diantara para peserta kelihatan ada seorang peserta anak-anak yang menonjol. Usianya belum genap limabelas tahun, Tubuhnya tegap dan lebih tinggi daripada anak-anak seusianya. Wajahnya keras menyembunyikan ketampanannya. Rambutnya keriting berwarna hitam legam. Namun anehnya ditengah rambutnya ada sejumput rambut berwarna kuning keemasan.
Semua orang menyukainya karena tingkahnya sering membuat orang kagum kepadanya. Dia juga selalu membidik sasarannya dengan sangat baik. Dialah pemanah terbaik yang berasal dari suku Ibo. Namanya Marlin Isier Ibo. Uniknya, dia selalu berteriak keras setiak kali berhasil membidik sasarannya.
“Clap! Clap! Clap! Clap!”
Akhirnya para peserta melakukan tantangan yang pertama, memanah di tengah derasnya sungai Baliem.Anak-anak panah itu melesat cepat menuju sasaran. Beberapa berhasil memanah dengan tepat, namun sebagian besar dari mereka gagal. Mereka tidak dapat membidik sasarannya dengan tepat. Diantara mereka yang berhasil lolos adalah adalah si kembar Marlon dan Marlin. Anak panah Marlin bahkan berhasil membelah anak panah Marama yang telah menancap pertama kali.
__ADS_1
“Luar biasa,” batin Marama sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak ada kompetisi yang mudah. Kalian berlima yang sudah berhasil membidik sasaran akan naik ke tantangan berikutnya,” teriak Marama memberi semangat.”Untuk tantangan pertama, pemanah terbaik adalah Marlin Isier Ibo!”
Marlin meloncat ke sebuah batu besar lalu berteriak sambil menepuk dadanya.
“Akulah Marlin Ibo! Putera Neles Ibo, pemimpin lembah yang agung!”teriaknya sambil menepuk dadanya.
Dia berdiri dengan jumawa, wajahnya lurus menghadap ke depan. Matanya tajam menatap jauh seolah-olah dia adalah penguasa dunia.
“Akulah Marlin Ibo! Putera Neles Ibo, pemimpin lembah yang agung!” teriaknya sekali lagi.
Teriakannya disamput tepuk tangan dan sorak sorai para pengagumnya.
“Hidup Marlin Ibo! Hidup Marlin Ibo! Hidup Marlin Ibo!” seru mereka.
Marama mengangkat kedua tangannya, memberi tanda agar orang-orang terdiam. Seketika suasana menjadi hening. Semua pandangan terpusat kepada guru itu.
Hah? Orang-orang berpandang-pandangan.. Ini adalah tantangan yang sangat sulit. Memanah buah matoa sebesar bola ping pong yang diikat di kaki seekor burung yang terbang? Apakah ada yang sanggup melakukannya? Marama menerima seekor burung Cendrawasih dari salah satu anggota suku. Lalu sebutir buah matoa berwarna hitam mengkilat digantung pada kaki burung itu. Dengan sekali tepukan, burung itu terbang dengan cepat ke angkasa.
“Kejarlah burung itu dan panahlah buah matoanya.” kata Marama.” Ingat! Panah kalian tidak boleh menyentuh burung itu. Mengerti?”
“Siap! Mengerti pak!” jawab lima orang pemuda itu serempak.
Lalu tubuh-tubuh mereka berlari melesat mengejar burung itu. Mereka adalah peserta-peserta terbaik yang lolos dari tantangan pertama. Sebentar saja mereka sudah bisa menyusul kecepatan terbang burung itu. Saling berebutan mereka mencoba memanah buah matoa yang terus bergoyang diudara. Tapi tak satupun yang berhasil mengenainya. Hanya panah Marlin yang mampu menancap tepat di tengah buah matoa tanpa menghancurkannya.
__ADS_1
“Luar biasa Marlin!” puji Marama tanpa sadar.
Tepuk tangan kembali membahana. Marlin Isier kembali berdiri ditengah batu besar itu sambil menepuk dadanya dengan Jumawa.
“Akulah Marlin Ibo! Putera Neles Ibo, pemimpin lembah yang agung!” teriaknya.
Teriakannya disamput tepuk tangan dan sorak sorai para pengagumnya.
“Hidup Marlin Ibo! Hidup Marlin Ibo! Hidup Marlin Ibo!” seru mereka.
Marama menatap Marlin dengan mata yang kagum. Kemampuan anak itu bahkan di luar perkiraannya.
“Anak itu mengatakan dia adalah putera Neles Ibo pemimpin lembah?” katanya dalam hati. “Apakah maksudnya adalah Neles Ibo putera Nene Yoteni ketua suku Ibo?”
Terbawa oleh rasa penasarannya, guru olah raga sekolah dasar itu berusaha mencari keterangan tentang Marlin Isier Ibo.
“Anak ini memiliki bakat yang luar biasa. Dia bisa menjadi atlet panahan dan mewakili propinsi Papua dalam Pekan Olah Raga Nasional tahun depan,” batinnya.
Setelah itu dia segera mengemasi peralatannya dan kembali ke Wamena untuk mengabarkan berita ini kepada ketua KONI kabupaten Jayawijaya.
***
Setelah berpikir panjang dan mendengarkan pertimbangan Nene Yoteni, akhirnya Neles Ibo merelakan putera-puteranya untuk pergi ke hutan larangan. Pada malam harinya, dipanggilnya kedua putera kembarnya itu. Lalu dia menceriterakan tentang apa yang diperintahkan Iles Mowa untuk kesembuhan Yohana. Tidak ada raut muka kecewa, marah atau takut di wajah kedua putera kembarnya. Mereka bahkan tersenyum seolah memberi semangat kepada ayahnya.
“Laksanakanlah segala perintah Atou, demi kesembuhan kaka Yohana,” kata Marlon.
“Papa tenanglah, kami pasti akan baik-baik saja,” sambung Marlin.
Perpetua sampai menangis sambil memeluk kedua puteranya. Sementara Neles Ibo hanya diam terpaku tanpa berkata apa-apa. Setelah itu Nene Yoteni memberikan sebuah kalung batu hitam pemberian Iles Mowa kepada kedua cucunya. Dia memberikannya kepada Marlon, yang dianggap lebih tua daripada Marlin.
“Berangkatlah kalian bersama doa Nene. Batu ini akan bersinar di dalam kegelapan,” katanya. “Ingat! Kalian harus saling menjaga satu sama lain. Nene yakin Atou bersama kalian.”
__ADS_1