SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 19 TAWARAN MENARIK


__ADS_3

EPS 19 TAWARAN MENARIK


Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan dalam ingatan Melin. Paman Han datang bersama dengan temannya menemui papa. Rupanya papa memang sudah menunggu kedatangan adik mamanya itu. Melin menduga, papanya pasti ingin Han mencari jalan untuk menyelesaikan permasalahan utangnya dengan Baba Ig Yan. Itu terlihat dari raut wajah papanya yang terlihat gembira melihat kedatangan Han.



“Kenapa kamu baru datang Han? Baba Ig Yan baru saja pergi dari sini,” kata Papa.


“Maafkan aku datang terlambat Koko,” sahut Han.” Jadi bagaimana hasil pembicaraanmu dengan Baba Ig Yan?”


Papa mendengus kesal, nampak dia masih menyimpan kemarahan pada rentenir tadi.


“Dia tidak mengajakku bicara, tapi marah-marah sambil mengancam.”


“Apa yang dikatakannya?”


“Aku diberi waktu sampai besok malam untuk melunasi hutang. Kalau tidak…"


Han memandang kakak iparnya dengan penuh tanya. Kedua alisnya sampai diangkat.


“Kalau tidak kenapa Ko?”


“Aku disuruh pergi dari rumah ini. Rumahku sendiri.”



Han terdiam mendengar kata-kata kakak iparnya itu. Dia tahu kakak iparnya itu dalam keadaan yang tidak berdaya. Kemiskinan telah membuatnya berhutang kepada rentenir, dan hutang akan membuatnya kehilangan semuanya. Harga diri, harta benda bahkan mungkin keluarga. Baba Ig Yan adalah rentenir yang sangat kejam. Julukannya saja raja tega. Anak buahnya berjumlah ratusan dan ada dimana-mana.



“Hampir separuh penduduk Singkawang berhutang kepadanya. Dan dia akan berbuat apa saja untuk memastikan uangnya kembali bersama bunga-bunganya,” gumam papa. “Apa yang harus aku lakukan Han? Hanya kepadamu aku menggantungkan pertolongan.”


Han mengangguk-anggukkan kepalanya. lalu melirik temannya sekilas.


“Aku mengerti Ko, makanya aku membawa teman baikku datang kemari. Aku yakin dia dapat membantumu.”



Papa memandang laki-laki aasing yang datang bersama Han. Hm, penampilannya cukup parlente. Pakaiannya terlihat bagus dan mahal. Juga sepatu yang dipakainya, jelas merek terkenal yang cukup mahal. Sebuah jam tangan berantai emas melingkar di pergelangan tangannya. Dan orangnya terlihat cukup percaya diri, walaupun sedikit berlebihan.



“Siapa namamu?”


“Namaku Teddy, A Khiu.”


“Apa yang kau tawarkan? Yang jelas aku tidak mau berhutang lagi.”


Teddy tersenyum menatap wajah yang memelas itu.


“Tidak A Khiu. Aku bukan seorang lintah darat macam Baba Ig Yan. Aku hanya bermaksud memberi jalan keluar buat A Khiu.”



Papa terdiam sambil tetap memandang wajah Teddy dengan antusias.

__ADS_1


“Aku bahkan akan melunasi semua hutangmu tanpa harus mengembalikan.”


Wajah papa langsung berbinar, terlihat pandangan matanya yang tadinya meredup kembali bercahaya.


“Benarkan apa yang kau katakan Teddy? Kau benar-benar akan menolong kami?”


Teddy menganggukkan kepalanya dengan tegas.


“Apa yang harus aku lakukan sebagai ucapan terimakasih?”



Teddy menghela nafas. Lalu menggeser duduknya lebih mendekat di depan papa.


“A Khiu juga harus membantuku menyelesaikan tugas dari bosku.”


“Apa? Kau mendapatkan tugas dari bosmu? Katakan Teddy, aku pasti akan membantumu.”



“Aku mempunyai Bos yang usianya sudah tua. Dan dia tinggal bersama seorang cucunya yang masih anak-anak. Dia memintaku untuk mencarikan pengasuh buat cucunya itu,” Teddy menghentikan ceritanya. “Heh, tapi sampai saat ini aku belum menemukannya.”


Papa mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Aku mengerti. Jadi, apa kau ingin aku menjadi pengasuh untuk cucu bos mu itu? Aku siap melakukannya.”


Teddy menggelengkan kepalanya.


“Bukan A Khiu yang aku maksud, tapi puterimu. Dia lebih cocok menjadi pengasuk anak yang baru berusia lima tahun itu.”



“Apa? Kau ingin membawa puteriku ke Jakarta untuk menjadi pengasuh anak?” ujar papa sedikit syok.


“Maksudku bukan pengasuh anak, tapi teman bermain untuk cucu bosku.”



Papa menggaruk-garuk kepalanya.


“Tapi ini tidak mungkin. Melin masih sekolah dan dia ingin melanjutkan sekolahnya.”


“Pikirkan dulu dengan tenang Koko. Sekolah kan juga butuh biaya. Memang kau mampu menyekolahkan Melin sampai SMA?” Han turut menyumbang suara.



Papa terhenyak. Benar juga kata Han.


“Lagian kerjanya tidak terlalu berat, tapi gajinya besar. Dan dia tinggal di lingkungan keluarga kaya di Jakarta. Jadi, dia akan baik-baik saja.”


“Puterimu akan mendapatkan gaji yang besar dan bonus dari bosku,” ujar Teddy lagi.



Ah, tawaran Teddy benar-benar menggoyahkan pendirian papa. Apalagi kemudian Teddylaki-laki muda itu mengeluarkan segepok uang di depan papa.

__ADS_1



“Sudahlah A Khiu, pikirkanlah dahulu tawaranku, dan bicarakan baik-baik dengan isterimu,” katanya sambil meraih telapak tangan papa dan meletakkan segepok uang itu diatasnya. “Yang penting sekarang, lunasi dulu hutangmu kepada Baba Ig Yan. Ini uang duapuluh juta. Kalau kurang kau tinggal menghubungi Han.”



Papa membelalakkan matanya, duapuluh juta?


“Ini bahkan terlalu banyak Teddy. Hutangku tak sebanyak ini.”


“Kalau begitu ambil saja sisanya untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Aku ikhlas memberikannya kepadamu.”


Tangan papa terlihat gemetar. Dia tak menyangka akan betemu dengan orang sebaik Teddy. Padahal dia belum menyanggupi permintannya.


“Te..terimakasih Teddy. Kau adalah malaikat penolong kami.”


Teddy tersenyum kembali. Wajahnya terlihat penuh kemenangan.


“Tidak usah dipikirkan. Sekarang aku pamitan dulu. Masih banyak yang harus aku kerjakan malam ini. Pikirkan tawaran Bosku. Kalau kau sudah punya keputusan, biar Han yang nanti menghubungiku.”


“Iya. Sekali lagi terimakasih.”



Lalu Teddy membalikkan tubuhnya dan menghilang di balik pintu. Meninggalkan Han, Papa, Mama dan Melin di dalam rumah. Papa terlihat begitu gembira. Berkali-kali dia melemparkan pujian kepada laki-laki yang baru dikenalnya itu. Han juga terlihat senang. Dia sempat khawatir, Kokonya akan menolak pertolongan Teddy. Dia tahu kedua kakaknya itu sangat menyayangi Melin.



“Kalau begitu aku juga ikut pamitan Ko,” kata Han.


Papa mengangguk sambil tersenyum lega. Dia mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu yang baru diterimanya, lalu diberikan kepada adik iparnya.



“Ini uang untukmu Han. Gunakan untuk keperluanmua,” ujar Papa.


Han menerimanya dengan senang hati. Lalu dia dengan cepat melangkah keluar rumah dan menghilang di kegelapan malam. Sementara Papa memanggil Mama dan Melin untuk keluar dari dalam kamar. Wajah Mama tampak muram dan memandang Papa dengan tatapan marah.



“Pokoknya aku tidak setuju kalau Melin dibawa ke Jakarta!” ucapnya sedikit keras.


“Apa yang membuatmu keberatan Ma? Kau sudah mendengar semuanya kan?”


“Apapun itu, aku tidak akan membiarkan puteriku dibawa pergi laki-laki yang belum jelas dan tidak kita kenal sama sekali!”



“Teddy itu temannya Han, adikmu sendiri!” suara papa juga mulai sedikit naik. “Kau tidak mempercayai adikmu sendiri.”


“Tentu saja aku mempercayai adikku sendiri. Tapi Papa tahu kan, Han sering bertindak bodoh. Apa yang ada di dalam otaknya hanya uang dan uang! Seperti Papa juga, tega berpisah dengan puterimu sendiri hanya karena uang!”



Plak!

__ADS_1



Tangan papa terayun cepat menampar pipi Mama. Mungkin kata-kata Mama telah menohok perasaannya. Melin juga terkejut. Baru pertama kali dalam hidupnya, dia melihat papanya marah dan memukul mamanya.


__ADS_2