SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 14 PERTEMPURAN DIMULAI


__ADS_3

EPS 14 PERTEMPURAN DIMULAI


Tak ada sesuatu yang tak bisa berhenti, kecuali waktu. Karena jika itu terjadi, suasana mendadak benar-benar sunyi. Tak ada kicau burung, tak ada tangis manusia, tak ada suara mesin. Semuanya berhenti, otak mati, perasaan pun mati. Maka gunakanlah sepi. Perbanyaklah menggunakan telinga dari pada mulutmu. Karena Tuhan memberi kita satu mulut dan dua telinga, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.


Pagi yang dingin pun berubah menjadi panas. Para mama dan anak-anak berlarian ke sana kemari dalam suasana yang mendadak menjadi gaduh. Sebagian merasa panik, sebagian lagi langsung waspada jika ada musuh mendekat. Mereka langsung menyembunyikan anak-anak mereka di dalam hutan yang lebih dalam. Sementara para papa segera menidurkan dua orang yang terkena peluru itu di tempat yang teduh.


Manamakrdi adalah tetua suku Ibo yang paling memahami tentang ilmu pengobatan tradisional. Dia segera datang untuk mengobati kedua orang yang terluka parah itu. Satu orang terkena peluru di lengan, sedang satunya terkena tembakan di paha. Darah terus mengalir dari kedua luka itu.


Dukun suku Ibo itu segera membakar kayu pewangi. Setelah itu dia memanggang sebatang rotan di atas api. Setelah lemas rotan itu diikatkan diantara luka yang berdarah. Satu diatas dan satunya lagi dibawah luka. Katanya untuk mengurangi rasa sakit. Setelah itu dia menumbuk kulit telur burung kasuari yang cukup tebal sampai menjadi bubuk. Lalu ditaburkan di atas luka. Bubuk kulit telur itu berfungsi membuat luka cepat kering.


Marlon menghampiri Manamakrdi dan kedua orang yang terluka itu. Diperiksanya luka itu dengan teliti. Pelurunya masuk ke dalam daging tapi tidak sampai tembus ke tulang. Luka tembak biasanya meninggalkan lubang yang kecil di permukaan kulit, tapi semakin lebar di dalam jaringan. Karena sifat peluru yang berputar cepat ketika menembus kulit. Marlon menyiram luka dengan alkohol, lalu di siram lagi dengan antiseptik.


“Hai, ramuan apa itu Marlon?” tanya Manamakrdi heran.


“Ini namanya alkohol dan antiseptik. Dokter Hendra yang memberikannya kepadaku beberapa bulan yang lalu,” sahut Marlon.


Manamakrdi menatap dengan curiga. Marlon lalu menjelaskannya.


“Kata dokter Hendra, alcohol dan antiseptic penting untuk membersihkan luka, cepat kering dan mencegah infeksi.”


“Apa? Infeksi?”

__ADS_1


Marlon jadi kebingungan untuk menjelaskannya.


“Lihat sajalah nanti hasilnya, bapatua.”


Dalam cuaca panas dan lembab, luka dapat terinfeksi dengan cepat hanya dalam beberapa jam. Jika tidak dilakukan pertolongan pertama yang tepat bisa berakibat fatal. Banyak prajurit suku-suku di pedalaman Papua harus mati sia-sia, karena infeksi akubat luka dalam peperangan. Walaupun sebenarnya lukanya tidak seberapa.


Setelah itu dia menaikkan kaki yang luka diatas tumpukan rumput kering yang cukup tinggi. Sedangkan tangan yang terluka dia letakkan di atas dada dan diikat ke leher.


“Luka berdarah harus ditinggikan diatas jantung. Tujuannya biar darah tidak terus keluar karena terpompa denyut jantung,” Marlon menjelaskan sebelum Manamakrdi bertanya.


Marlon mengambil dedaunan kering, lalu di tata di atas tubuh kedua orang yang luka itu. Biar tubuhnya hangat, karena orang yang kehilangan banyak darah biasanya mengalami syok dan trauma, sehingga suhu tubuhnya menjadi dingin.


“Tumpukan dedaunan ini bisa menghangatkan tubuhnya.”


***


Peristiwa serangan yang dilakukan oleh kelompok pemburu tak dikenal terhadap suku Ibo menjadikan suasana menjadi panas. Neles Ibo langsung mengumpulkan para tetua untuk membahas masalah ini. Terlihat raut muka kemerahan dan aroma dendam mewarnai perdebatan. Sebagian besar dari mereka setuju untuk menuntut balas. Mereka memutuskan untuk memburu pelaku serangan dengan membentuk pasukan khusus.


Namun usulan itu di tolak oleh Neles Ibo. Dia khawatir gerakan mereka bisa menimbulkan kesalah pahaman dengan kelompok lainnya.


“Kitorang belum tahu siapa mereka,” ujarnya.

__ADS_1


Perbedaan pendapat itu membuat suku Ibo menjadi terbelah. Satu kelompok besar menyetujui tindakan perang. Satu kelompok kecil setuju dengan pemikiran sang kepala suku. Karena kalah suara, akhirnya Neles membiarkan pembentukan pasukan khusus itu. Lukas Ibo yang dianggap sebagai panglima perang suku Ibo diminta menjadi komandan pasukan khusus. Ada dua belas prajurit yang akan menjadi anggotanya.


Mereka adalah anggota-anggota terbaik suku Ibo. Mereka dipersenjatai dengan kapak batu yang baru, parang, serta busur dan anak panahnya. Tugasnya adalah untuk menghabisi setiap pemburu yang mendekati hutan wilayah milik suku Ibo yang membawa senjata api. Tanpa ampun. Begitu ketemu, bunuh!


“Pergilah kalian semua. sesuai amanat para tetua,” ujar Neles.


Kemudian kepada Lukas dia berpesan agar berhati-hati dan tidak bertindak gegabah. Lukas menganggukkan kepalanya. Dia adalah pembunuh berdarah dingin yang sangat ditakuti kawan maupun lawan. Wajahnya begitu dingin,walaupun sikapnya ramah. Suka menolong dan lembut tapi karakternya keras dan mudah tersulut emosinya. Hanya Neles Ibo, kakaknya sendiri, yang dia dengarkan kata-katanya.


Dan apa yang di takutkan Neles benar-benar terjadi. Lukas dan para prajuritnya bertindak di luar batas. Dia melakukan tugasnya dengan membabi buta. Dia menyerang setiap pemburu yang membawa senjata api memasuki wilayah hutan milik suku Ibo. Tak perduli dia dari suku apa, atau bertanya dulu tentang tujuannya memasuki hutan wilayah suku Ibo.


***


Siang itu suku Ibo kedatangan tamu tak diundang. Puluhan laki-laki suku Doe yang berasal dari wilayah yang di sebut sebagai lembah yang hilang, datang dengan peralatan perang. Wajah mereka begitu dingin dan kaku. Tatapan matanya yang tajam menyapu setiap sudut rumah dan penghuninya. Tak ada senyum atau salam persahabatan. Kemunculan mereka yang tiba-tiba dari dalam hutan memicu suasana menjadi panas.


Suku Deo adalah suku yang tinggal jauh dari peradaban. Mereka sangat kejam dan kanibal, tak segan membunuh dan memakan tubuh musuh-musuhnya. Lukas dan para prajurit suku Ibo serta para papa lainnya segera keluar menemuinya. Tangan mereka begitu erat memegang busur dan anak panahnya. Kini mereka berdiri berhadap-hadapan, bersiap dalam pertarungan yang mematikan.


Tak lama kemudian terdengar suara keras diantara mereka. Rupanya Lukas sedang berdebat dengan panglima perang mereka. Para pendatang itu ingin menuntut balas atas serangan yang dilakukan Lukas kepada orang-orang dari suku Deo. Lukas pun membalas dengan menunjukkan bukti bahwa mereka menggunakan senjata api. Dan teriakan itu berlangsung hampir satu jam lamanya, masing-masing teguh dengan pendiriannya.


Suasana semakin tak terkendali. Para pria mulai menghentak-hentakkan kakinya di atas tanah. Lalu meneriakkan kata-kata aneh secara berulang-ulang, menyanyikan lagu perang. Melakukan gerakan melingkar, mundur menjauh lalu kembali maju hingga jarak mereka tinggal satu meter.


Oou wa! Oou wa! Oou wa!

__ADS_1


Dan sesaat kemudian, jerit kesakitan mulai terdengar di sana-sini…


__ADS_2