SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 6 NEMANGKAWI NINGGOK


__ADS_3

EPS 6 NEMANGKAWI NINGGOK


Hujan selalu datang membawa lagu. Membawaku terbang pada kenangan masa lalu. Dalam rintiknya selalu ku lihat wajahmu. Manis, tersenyum menggoda rinduku. Datang tanpa diundang bersama bulir-bulir yang membasahi hatiku. Mengingatkanku betapa waktu begitu cepat berlalu. Dan kini aku terbelenggu rindu pada rintikmu.



Dan di bawah rintik hujan itu terdengar gelak tawa penuh canda. Berlari menapak bumi yang basah menyentuh sisi riangku. Seperti air yang meresap ke dalam tanah, dan tanah tidak perduli. Rasa dingin ini juga meresap ke dalam kulit bahkan merasuk ke dalam tulang. Tapi siapa yang peduli, kala kegembiraan begitu membuncah dipenuhi gelak tawa menyambut hujan?



“Marlon! Marlin! Jangan bermain hujan terlalu lama. Ayo masuk ke rumah,” panggil Nene Yoteni kepada kedua cucunya yang masih asyik bermain hujan.



Suara Nene begitu keras dan nyaring, tapi siapa yang bisa menghentikan kegembiraan anak-anak yang sedang bermain hujan? Seolah tidak mendengar panggilan neneknya, kedua bocah kembar itu terus berlarian kesana-kemari sambil menengadahkan wajahnya. Kadang kedua kaki bocah itu menendang kubangan air yang cukup dalam, sehingga air pun memancar kemana-mana. Dan suara tawa itu pecah kembali.



“Hahaha..! Lihat Marlon, sekujur tubuhmu basah terguyur air kubangan!” teriak Marlin mengalahkan berisik hujan.


“Hahaha! Kau juga! Lihat rambutmu bahkan penuh dengan sampah dan tanah!” sahut Marlon tak mau kalah.


Hahaha..!


Lalu mereka pun tertawa bersama sampai paman Lukas, adik Papa Neles, datang dan menyuruh mereka segera mandi karena ditunggu Nene Yoteni.


“Sebentar lagi ayah kalian pulang. Sebaiknya kalian cepat mandi, lalu makan. Nene kalian sudah menunggu sedari tadi,” kata paman Lukas.

__ADS_1


Kedua bocah kembar itu segera mengakhiri waktu bermain mereka. Setelah membersihkan diri dengan air hujan yang dialirkan ke dalam wadah dari batu, mereka segera menghadap neneknya. Nene Yoteni sudah menyiapkan banyak sayuran, ubi, bubur sagu hangat dan daging bakar, yang dikirim dan dimasak para mama di Ebei.


“Makanlah yang banyak,” pesan Nene.


Tanpa berkata-kata lagi, Marlon dan Marlin segera menyerbu makanan yang ada di depan mereka. Rasa dingin dan rasa capai setelah bermain hujan, membuat mereka merasa sangat lapar Mulut mereka sampai berbunyi berkecap-kecap saking lahapnya. .Tak berapa lama makanan yang ada di depan mereka pun langsung habis, tinggal wadahnya saja.


Nene Yoteni hanya tertawa melihat perilaku cucu-cucunya itu. Tanpa terasa waktu terus berjalan. Kedua bocah kembar itu tumbuh semakin besar menjadi remaja. Terlihat tubuh mereka tegap berisi. Orang yang tidak begitu mengenal mereka pasti kesulitan untuk membedakan Marlon dan Marlin. Secara fisik mereka memang hampir sama, tapi sesungguhnya mereka memiliki karakter yang berbeda.


Marlon lebih penyendiri. Dia suka membaca, menggambar, memahat dan mengukir. Bakat seni Papua begitu kental mengalir di dalam tubuhnya. Sesekali dia pergi ke rawa-rawa untuk mencari kepiting. Sementara Marlin lebih terbuka. Dia suka bermain bola, berburu di hutan dan bernyanyi bersama para papa dan mama, karena suaranya memang bagus. Dia juga salah satu pemanah terbaik di suku Ibo.


Seluruh anggota suku Ibo menyanyangi keduanya. Disamping mereka adalah putera kepala suku, tapi sifat mereka yang ramah dan suka membantu membuat orang-orang menyukai mereka. Wajah mereka juga manis dan tampan sehingga cukup di kenal di antara suku-suku di kawasan lembah Baliem.


***


Malam semakin larut. Sinar bulan temaram tertutup awan tipis sehabis hujan. Hawa dingin yang menusuk kulit, membuat sebagian besar anggota suku Ibo sudah terlelap di peraduan mereka masing-masing. Hanya bebetapa orang saja yang masih berbincang di sebuah rumah besar. Neles Ibo yang baru saja sampai di Uma, duduk terdiam di depan ibunya, bermain dengan pikirannya sendiri.


Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya selalu teringat pesan Iles Mowa tentang anggrek hitam emas itu. Dia juga teringat tentang dua orang kembar yang harus mengambilnya ke dalam hutan belantara dan membawanya langsung ke hadapan Yohana. Kenapa bukan dia sendiri, yang harus mengambil anggrek emas itu? Lalu dimana dia bisa menemukan orang kembar yang bersedia mengambil anggrek emas dengan segala resikonya?


Neles Ibo menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dalam alunan yang panjang. Setelah itu dia pun menceriterakan hasil pertemuannya dengan Iles Mowa. Tentang penyebab penyakit Yohana dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk kesembuhannya. Didalam bilik, Perpetua yang sejak sore berada di Uma, diam-diam ikut mendengarkan perkataan suaminya.


“Ternyata Yohana dan kedua bibinya terkena kutukan penjaga hutan larangan nene. Dia dianggap bertindak berlebihan sehingga mengancam kelestarian hutan,” kata Neles.


Wajah Nene Yoheni yang berkeriput terlihat sedih. Anak-anak rambutnya yang sudah berwarna putih semua terlihat bergoyang dihembus angin malam.


“Aku sudah menduganya,” katanya kemudian, “Apakah kau sudah meminta maaf atas kesalahan puterimu?”


Neles Ibo menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Sudah Ibu. Aku juga memintakan maaf kedua adikku yang sudah meninggal.”


Lalu Neles menceriterakan hasil pertemuannya dengan Iles Mowa. Kepala suku Mowa itu mengatakan bahwa penjaga hutan larangan telah memaafkan puterinya. Tapi untuk menyembuhkan penyakitnya, ada syarat tersendiri yang harus di penuhi. Nene Yoteni menatap wajah Neles dengan kedua matanya yang telah rabun semua.


“Katakan Neles, syarat apa yang harus dilakukan untuk kesembuhan cucuku?”


“Dia harus dibawakan Anggrek hitam emas yang terdapat di hutan larangan di bawah Nemangkawi Ninggok.”


Nene Yoteni memandang wajah puteranya. Nemangkawi Ninggok adalah sebutan orang Papua untuk puncak gunung Jayawijaya, artinya anak panah berwarna putih. Siapaun tahu, itu adalah tempat yang tidak boleh dimasuki siapapun. Di samping alamnya berbahaya, tapi hutan itu juga dipercaya sebagai hutan larangan yang sangat angker.


“Kalau begitu, apalagi yang kau tunggu. Berangkatlah sekarang mencari anggrek hitam emas itu,” ucapnya.


Neles menggelengken kepalanya.


“Kalau saja aku bisa melakukannya, aku pasti sudah pergi mengambil anggrek emas itu. Tak perduli walaupun aku harus kehilangan nyawaku.”


“Apa ada syarat lainnya?” tanya Nene Yoteni.


“Ada Ibu. Yang mengambil anggrek emas itu haruslah dua orang kembar dan mereka sendiri yang harus memberikannya kepada Yohana,” jawab Neles Ibo.


Nene Yoteni mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya dia mulai paham apa yang membuat puteranya kelihatan bingung.


“Masalahnya lagi siapa orang kembar yang bersedia mempertaruhkan nyawanya masuk ke hutan larangan dan mengambil anggrek hitam emas itu,” kata Neles Ibo.


Nene Yoteni terdiam. Rupanya dia sedang memikirkan kata-kata Iles Mowa. Harus dua orang kembar yang membawa anggrek hitam emas dari hutan larangan sampai ke hadapan Yohana?


“Aku tahu. Yang dimaksud orang kembar oleh Iles Mowa adalah Marlon dan Marlin,” ujarnya.

__ADS_1


Walaupun sudah menduganya tapi Neles Ibo tetap terperanjat. Marlon dan Marlin kan masih anak-anak?


“Ingat Neles, laki-laki yang boleh masuk bilik Yohana hanyalah saudaranya sendiri,” kata Nene lagi mengingatkan.


__ADS_2