SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 18 FIRASAT BURUK


__ADS_3

EPS 18 FIRASAT BURUK


Sejak mengenalmu, hari-hariku menjadi terasa istimewa. Setiap detik yang kulewati selalu berbeda. Langit mendung tetap terlihat cerah, udara dingin tetap terasa hangat. Badai yang datang adalah hujan rindu yang mengisi ruang hati. Gelak tawamu, menyentuh sisi riangku. Membuat dunia serasa nirwana. Lalu untuk apa lagi ku langkahkan kakiku, kalau cukup bagiku menghabiskan hari-hariku bersamamu?



Malam baru saja menjelang. Masih ada warna tembaga di garis cakrawala, sisa cahaya matahari meninggalkan jejaknya. Ramai jalanan dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Mereka bersiap merayakan pekan terakhir dari seragkaian perayaan Tahun Baru Cina atau Hari Raya Imlek. Menghidupkan tradisi nenek moyang dan para pendiri kota Singkawang, di Kalimantan Barat.



Lampu-lampu lampion berwarna merah bergantungan dengan rapi menghiasi setiap rumah dan gedung, juga jalanan dan setiap sudut kota. Warga kota keluar dari rumahnya untuk bertemu para sanak saudara, tetangga dan warga lain yang berbeda suku dan keyakinannya. Ya, di Singkawang ada empat kelompok besar masyarakat yang menghuninya. Mereka adalah keturunan Tionghoa, Dayak, Melayu dan Jawa. Ada juga suku lainnya, tapi tidak begitu banyak. Mereka hidup begitu rukun dan saling melengkapi.



Melin berjalan sendiri. Kakinya lincah menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Sesekali dia melompat manakala mendapati ada lubang kecil di tengah jalan yang dicor beton itu. Hatinya sedang senang, hari ini banyak sekali rejeki yang mengalir kepadanya. Lihat saja, ke empat kantong sakunya penuh dengan angpao, amplop merah berisi uang, pemberian orang-orang dermawan. Tangan kanannya menjinjing kue keranjang, sedang tangan kirinya membawa tas belanjaan berisi baju baru dari bu Arsylla, guru bahasa Inggrisnya.



Perayaan Imlek di Singkawang selalu meriah. Berbagai kegiatan dilakukan untuk menyambut datangnya tahun baru dalam kalender Tionghoa itu. Tahun baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi warga Tionghoa di penjuru dunia. Perayaan tahun baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama pada penanggalan Tionghoa dan diakhiri dengan Cap Go Meh atau hari kelimabelas setelah Imlek. Cap Go artinya lima belas.



Ada dua festival penting yang selalu dilestarikan sebagai tradisi suku Tionghoa di Singkawang. Yang pertama adalah festival tolak bala dari para dukun atau disebut Tatung. Dengan mantra tertentu mereka mengundang arwah para dewa untuk merasuk ke dalam tubuh mereka. Setelah itu mereka melakukan atraksi maut yang mengerikan. Menusuk tubuhnya dengan besi lidi, atau menyayat kulit tubuh dengan silet yang tajam.



Festival yang kedua dilakukan tepat pada hari kelima belas atau perayaan Cap Go Meh. Dua buah patung replika singa raksasa setinggi hampir sembilan meter, di arak di sepanjang jalan kota. Di mulai dari stadion Kridasana sampai di pusat kota, Alun-Alun Kabupaten. Kemudian dilanjutkan dengan Altan dan Lelang sebelum ditutup dengan prosesi pembakaran Replika 12 Naga di Vihara Buddhayana Roban (Chai Thong).



Spanduk-spanduk menghiasi setiap sudut kota, berisi ucapan selamat hari raya Imlek dan doa semoga kesejahteraan selalu menyertai kehidupan rakyat Singkawang. Pada saat itulah banyak orang-orang kaya yang mendadak menjadi dermawan. Mereka membagikan sebagian rejeki mereka dengan menyelipkan uang-uang kertas ke dalam amplom merah yang disebut angpao. Lalu mereka membagikan angpao-angpao ini kepada orang miskin dan anak-anak.


__ADS_1


Langkah kaki Melin terhenti di depan rumahnya sendiri. Dengan jelas dia mendengar ada orang yang sedang marah-marah kepada ayahnya yang hanya bisa meminta maaf. Di selingi suara isak tangis ibunya yang memohon belas kasihan. Dan Melin hafal suara orang yang sedang marah-marah itu.



“Ngai udah kasih waktu banyak pada Koko, tapi Koko selalu ingkal janji. Ingat Ko, Ngai sudah kasih tolong sama Koko. Jadi, mengeltilah,” kata Baba Ig Yan, rentenir kejam yang suka meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi.


“Iya, aku mengerti. Tapi maaf ya, aku belum ada uang. Beri waktu satu minggu lagi ya?” terdengar suara papanya memohon perpanjangan waktu.


Baba Ig Yan langsung menggeleng cepat.


“Tidak bisa! Ngai tidak ada kasih waktu lagi. Pokoknya besok malam, Koko sudah halus pelgi dali lumah ini! Paham?”



Bug!


Auw!




Melin segera masuk ke dalam rumahnya pelan-pelan. Dia tidak mau memperburuk suasana hati papa dan mamanya. Tampak papanya sedang duduk terpekur di atas kursi rotan yang sudah rusak. Sementara mamanya duduk bersimpuh didepan tempat tidur. Kepalanya menelungkup di atas bantal. Air matanya masih mengalir deras dari kedua matanya. Kedua adiknya hanya duduk di sudut tempat tidur sambil memeluk lututnya.



Melin melambaikan tangannya, memberi tanda agar kedua adiknya datang mendekat. Lalu Melin memeluk tubuh keduanya dengan erat. Wajahnya tetap tersenyum, walaupun hatinya sangat ingin menangis. Tapi sekuat tenaga dia tahan emosinya.


“Ini kakak bawakan kue keranjang buat kalian. Makanlah yang banyak,” ujarnya sambil memberikan kue keranjang yang dibawanya kepada mereka.



Wajah kedua adiknya terlihat berubah. Mereka langsung berlari ke belakang untuk menikmati kue keranjang. Lalu Melin menghampiri mamanya dan memeluknya dari belakang. Beberapa saat keduanya terdiam, bermain dengan pikiran dan perasaannya masing-masing. Lalu Melin mengeluarkan puluhan angpao dari saku-saku bajunya. Di tumpuknya jadi satu, lalu diserahkan kepada mamanya.

__ADS_1



“Ini uang kasih ke papa, mungkin bisa bantu melunasi utangnya,” ujarnya.


Mama memandang wajah puterinya dalam-dalam. Tanpa terasa air matanya kembali meleleh. Ah, puterinya begitu cantik dan berhati lembut.


“Jangan Melin, simpanlah uangmu untuk kebutuhan sekolahmu,” kata Mama menolak pemberiannya.


“Tapi Ma..” belum selesai Melin bicara, tiba-tiba terdengar pintu di ketuk orang.



Tok! Tok! Tok!



Melin langsung berdiri, lalu bergegas membuka pintu. Tampak dua orang laki-laki muda berdiri di depan pintu. Salah satunya tersenyum kepadanya.


“Siapa Melin?” tanya mamanya.


“A Khiu Han sama temennya Ma,” sahut Melin memberitahu kalau yang datang adalah adik mamanya, paman Han dan temannya.



“Oh. Masuklah Han,” ujar Mamanya.


Han masuk ke dalam di susul temannya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap tapi berwajah ramah. Begitu masuk dia langsung menyapa setiap orang.



“Selamat malam A Khiu dan Khiu Me.”


__ADS_1


Sambil tersenyum, laki-laki asing itu mengerlingkan sudut matanya ke arah Melin. Dan gadis kecil itu langsung terpaku, dia merasa ada perasaan tak enak di dalam hatinya. Semacam firasat buruk atau pertanda jelek yang akan menimpa dirinya.


__ADS_2