SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 39 SAHABAT SEJATI


__ADS_3

EPS 39 SAHABAT SEJATI


Setiap orang pasti pernah menyesal dengan dirinya sendiri dan ingin menjadi orang lain. Biasanya karena rasa iri atau obsesi yang tidak kesampaian. Seandainya waktu bisa diputar balik, inginnya kita kembali ke masa lalu, masa kecil kita. Mengulang kembali peristiwa demi peristiwa yang kita alami, sembari memperbaiki setiap kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Dan menjelma menjadi sosok baru yang lebih baik.



Bu Lina kemudian menyetel peralatan LCD yang ada di depannya. Lewat sebuah kabel dia menghubungkannya dengan laptop yang ada di depannya. Lalu tangannya bergerak lincah di atas papan tombol. Memilih salah satu video yang dia download dari kantor keamanan bandara. Isinya adalah potongan tangkapan kamera CCTV pada saat dia masuk ke dalam toilet umum dan sahabatnya Marlon yang pergi ke seberang jalan menuju warung makan.



“Lihat Erizal, rupanya temanmu pergi mencari makan ke sebuah warung makan. Mungkin dia merasa lapar,” ujar bu Lina menjelaskan.


Erizal tersenyum tipis sedikit malu.


“Iya bu, soalnya dari semalam memang perut kita tak terisi apa-apa.”


“Lihat dia keluar membawa tas plastik yang besar. Kemungkinan dia membeli beberapa nasi bungkus untuk dimakan di bandara.”



Tampak sahabatnya itu keluar dari warung makan itu. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba ada seorang laki-laki tinggi besar memegang tangannya dari belakang. Mereka terlihat berbicara beberapa saat. Wajah Marlon nampak tegang. Lalu keduanya berjalan kembali ke samping warung dan menghilang di situ.


__ADS_1


“Menurut pihak keamanan, kemungkinan temanmu di rampok dan diculik oleh kawanan preman yang banyak berkeliaran di sekitar bandara,” kata bu Lina.


“Ehm, maaf bu.. tadi nama warungnya apa ya?” tanya Erizal.


“Warung Makan Ayam Goreng Mbekayu Kimah.”



Erizal menganggukkan kepalanya. Hatinya merasa lega. Keyakinannya akan Marlon sebagai sahabat yang baik dan bisa di percaya tidak melesat. Marlon memang sahabat yang peduli, jujur dan bertanggung jawab. Tapi yang paling penting sekarang adalah keselamatan dan keberadaan Marlon Isier, sahabat barunya yang berasal dari tanah Papua.



“ Kamu tidak usah khawatir Erizal. Menurut keterangan pihak keamanan bandara, mereka sudah hafal dengan laki-laki yang menculik sahabatmu.”


Erizal mengerutkan keningnya tanda tak mengerti ucapan bu Lina.


“Namanya Misman. Dia adalah seorang preman penguasa wilayah bandara Adisucipto, Yogyakarta. Sedangkan pemlik warung adalah yu Kimah, dia adalah pasangan Misman, bisa jadi mereka adalah suami isteri.”



“Kalau begitu ayo kita kesana bu.”


“Eh, ini tengah malam Erizal. Pihak keamanan akan melakukan penangkapan, besok pagi sekitar jam enam.”

__ADS_1


“Apakah aku boleh ikut ?” tanya Erizal.


Bu Lina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.



“Ya. Besok pagi setelah sholat shubuh, polisi akan menjemputmu sebagai saksi utama perbuatan penculikan tersebut.”


Erizal tersenyum lega. Dia ingin sekali menjumpai sahabatnya itu. Dalam hatinya dia berharap Marlon dalam keadaan baik-baik saja.



“Baiklah, sekarang kau tahu apa yang terjadi dengan sahabatmu kan?”


Erizal menganggukkan kepalanya.


“Apa kau punya pertanyaan sebelum aku meyuruhmu tidur?”


Erizal menggelengkan kepalanya.


“Sekarang aku izinkan kau masuk ke dalam kamarmu untuk tidur. Besok pagi-pagi sekali kau harus bangun dan mandi sebelum polisi datang menjemputmu.”


“Baik bu. Tapi sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Aku sekarang yakin kalau Marlon adalah sahabat sejatiku.”

__ADS_1



Bu Lina tersenyum. Ditatapnya wajah polos itu dalam-dalam.


__ADS_2