SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 54 KUASA MELIN


__ADS_3

EPS 54 KUASA MELIN


Hukum dan Kekuasaan itu ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan, sungguhpun dapat dibedakan. Hukum tanpa Kekuasaan, lumpuh; sebaliknya Kekuasaan tanpa Hukum, sewenang-wenang. Maka gunakan kekuasaan yang kau miliki untuk menegakkan hukum dan bertindak sesuai aturan hukum yang berlaku.


Siang itu sangat panas. Matahari bersinar dengan teriknya. Suasana Bandara begitu ramai. Apalagi menjelang tahun ajaran baru, banyak orang yang berdatangan dari berbagai sudut negeri. Kebanyakan dari mereka adalah para remaja yang datang untuk melanjutkan pendidikan di kota ini. Apalagi Jogjakarta adalah kota pelajar alias kota pendidikan. Semua jenis lembaga pendidikan tumbuh dan berkembang di kota ini.


Ballan sedang sibuk mengatur motor dan mobil yang masuk dan keluar halaman parkir. Pemuda asal Maluku itu adalah salah satu anak buah kang Misman yang bekerja sebagai tukang parkir di sekitar bandara. Baru saja dia hendak istirahat di posnya, tiba-tiba seseorang datang menepuk bahunya. Seorang pemuda tinggi kurus berpakaian serba hitam, membawa bungkusan kecil, tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.



“Mas, boleh minta tolong?” ujarnya.


Ballan hanya terdiam memandang pemuda itu.


“Minta tolong apa?”


“Nitip barang ini sebentar saja. Nanti temanku akan datang kesini untuk mengambilnya.”


“Temanmu? Mengapa kau tidak mengantarkan saja ke rumahnya?”


“Ehm, kebetulan kami baru saja berkenalan di facebook, jadi aku belum tahu rumahnya. Kami berjanji ketemu di tempat ini jam satu nanti. Tapi tadi ibuku menyuruhku agar aku segera pulang.”



Ballan kembali terdiam, berpikir sejenak. Hm, masih tigapuluh menit lagi. Lalu dia menganggukkan kepalanya.


“Baiklah,” katanya beberapa saat kemudian.


Pemuda tak dikenal itu terlihat tersenyum senang. Dia memberikan selembar uang limapuluh ribuan kepada pemuda berdarah Maluku itu.


“Ini untukmu.”


Ballan menggelengkan kepalanya, menolak pemberian itu.


“Tidak perlu. Kau bayar saja ongkos parkirnya dua ribu rupiah.”



Pemuda itu tersenyum kembali. Lalu memberikan uang dua ribuan kepadanya.

__ADS_1


“Terimakasih ya. Dangke”


Ballan hanya menganggukkan kepalanya. Mengarahkan pemuda itu agar meninggalkan tempat parkir dengan aman. Lalu duduk kembali. Tapi tak lama kemudian, dia dikejutkan suara keributan dari kejauhan. Bahkan terdengar letusan senjata api. Lalu orang-orang ramai berlarian menuju tempat kejadian. Pemuda itu memperhatikan sejenak, namun tak sempat berpikir panjang. Banyak orang yang penasaran, mengambil motor dan mobilnya dari tempat parkir.



Dengan beberapa temannya, mereka langsung sigap mengatasi suasana. Mereka mengatur sepeda motor dan mobil yang berebutan ingin keluar dari tempat parkir. Tak lama kemudian suasana kembali normal. Tapi tempat parkir menjadi lebih sepi.



“Ballan, minum kopinya dulu!” teriak Banardi dari pos parkir.


Yang disebut pos parkir adalah sebuah warung tenda penjual kopi. Di belakangnya ditata beberapa kursi dan dipan panjang untuk mereka duduk dan tiduran. Ada dua batang pohon pinus yang cukup besar menaungi tempat itu sehingga cukup sejuk. Di tempat parkir itu ada tiga temannya yang ikut bekerja. Mereka adalah Banardi dari Jawa Tengah, Upe dari Bugis dan Andreas dari Maumere Nusa Tenggara Timur.



“Ya!”


Ballan bergegas berjalan menghampiri mereka. Di antara mereka, dia memiliki tubuh yang paling besar dan kuat. Setelah duduk dan menyeruput kopinya, dia mengambil pisang goreng hangat di atas nampan.



Teman-temannya menggelengkan kepalanya.


“Mungkin penyergapan polisi,” ujar Andreas kemudian.



Lalu mereka kembali terdiam. Menikmati aroma kopi yang mengisi di ruang-ruang rindu akan kampung halaman dan gurihnya pisang goreng yang tersaji menghangatkan hati. Di langit matahari sudah mulai bergeser ke arah barat, menuju peraduannya. Seiring angin yang berhembus menggoyangkan pucuk-pucuk pinus di siang menjelang sore itu.


***


Malam itu seluruh anggota geng Misman berkumpul kembali. Mereka duduk melingkar di sebuah tanah kosong di belakang markas. Rupanya peristiwa keributan siang tadi bukan peristiwa biasa. Untuk itulah Melin mengadakan pertemuan darurat.



“Tadi siang terjadi penangkapan kurir narkoba di persimpangan jalan menuju Bandara. Polisi menangkap seseorang yang mencoba menyelundupkan narkotika lewat bandara. Ada satu korban tewas dan dua orang dilumpuhkan dengan tembakan,” kata Paing, yang ditunjuk Melin sebagai juru bicaranya.


__ADS_1


Lelaki kumal bertubuh kecil itu memang pandai berbicara. Sebenarnya otaknya cukup cerdas, dia juga cukup disegani diantara anak buah kang Misman. Tidak ada yang berani membantah kata-katanya, bukan karena takut, tapi karena kalah argumen. Dalam pikiran mereka, lebih baik diam dan menuruti kata-kata Paing daripada di permalukan. Lagipula, dia juga dipercaya oleh Melin, sang ratu geng mereka.



“Peristiwa tadi siang menunjukkan kepada kita, ada orang-orang luar yang berusaha memasuki wilayah kita dengan bisnis narkoba. Sesuatu yang di larang keras oleh pemimpin besar kita kang Misman. Kalian boleh mencuri, mencopet, merampok, tapi tidak boleh memperjualbelikan narkoba di wilayah kita. Kalau ada yang coba-coba melakukannya, maka tugas kita adalah menangkapnya dan serahkan kepada aparat hukum,” sambungnya berapi-api.



Suara lantang yang berasal dari tubuh kecil itu begitu tegas dan mengancam. Tidak ada satupun anak buah kang Misman yang bersuara atau berusaha membantahnya. Mereka tahu konsekwensinya. Melanggar berarti berhadapan langsung dengan kang Misman. Meskipun orangnya telah menghilang, tapi mereka yakin pemimpin besar mereka itu masih ada di antara mereka.



“Kabarnya polisi belum menemukan barang buktinya Paing?” tanya Santo.


“Benar. Menurut informasi yang kami dapat, barang bukti belum ditemukan. Polisi masih bekerja mencari barang bernilai milyaran itu. Berhati-hatilah, saat ini banyak intel yang menyelusup di sekitar bandara.”


“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?” tanya Sudin, pensiunan preman yang baru bergabung beberapa bulan yang lalu.



Paing terdiam. Tapi sudut matanya mengerling ke arah Melin. Sang ratu geng itu berdiri dari tempat duduknya. Angin malam yang berhembus semilir menerbangkan anak-anak rambutnya ke segala arah. Orang-orang seperti terbius melihat kecantikan sang ratu. Semua tenggelam dalam diam, terpesona oleh kecantikannya. Ah, seandainya semua ketua geng secantik Melin, pasti kejahatan akan musnah dari bumi ini.



“Kita harus membantu aparat hukum mengungkap kasus ini. Tetaplah waspada. Kalau ada orang-orang asing yang mencurigakan. awasi mereka, dan laporkan kepadaku” kata Melin. “Akan ada banyak tawaran menggiurkan yang datang kepada kalian. Aku harap kalian tidak tergoda dan melakukan pengkhianatan.”



Melin menatap tajam satu persatu wajah anak buahnya. Satu persatu pula mereka menundukkan kepala, tidak berani beradu langsung dengan mata yang membius itu. Dalam hati mereka berjanji untuk selalu setia dan tidak mengkhianati ratu geng yang mereka sayangi itu. Hanya Ballan yang kelihatan gelisah. Bola matanya terlihat berputar ke sana kemari. Wajahnya nampak gugup dan cara duduknya juga tidak tenang. Dan Melin menangkap kegelisahan itu.



“Marlon,” bisik Melin kepada sahabat yang duduk di sampingnya. “Setelah pertemuan selesai, suruh Ballan menemuiku.”


Marlon memandang Melin sekejap lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Ballan. Terlihat ada ketegangan yang menjalar di wajahnya.



“Ada apa Ketua? Apa kau mencurigai sesuatu?”

__ADS_1


__ADS_2