
EPS 4 MARLON DAN MARLIN
Hujan rintik-rintik menciptakan garis-garis putih di udara. Beberapa hari sudah hujab mulai turun, mengawali pergantian musim. Hawa dingin mulai menyusupi kulit dan menciptakan kabut di lembah Baliem. Beberapa orang memanggang daging dan ubi dibawah tumpukan batu yang ditimbun dengan kayu yang terbakar. Seketika bau harum daging yang tebakar menyeruak kemana-mana.
Karna masa menanam sudah selesai, para papa tidak lagi begitu sibuk di ladang. Mereka menunggu hasil panen dengan merawat ladang dan berburu. Suku yang dipimpin Neles Ibo adalah suku kecil beranggotakan duapuluh lima orang dari empat keluarga. Suku lain biasanya menyebut mereka suku Ibo karena kepala sukunya bernama Neles Ibo. Suku Ibo hanya salah satu suku di kelompok besar suku Dani di lembah Baliem. Mereka saling menjaga satu sama lain dari gangguan suku-suku lain yang masih suka berperang.
Mata pencaharian mereka adalah berladang. Mereka menanam sayur mayur dan ubi-ubian. Ubi adalah makanan pokok mereka. Selain itu para papa juga biasanya pergi ke hutan untuk beburu, terutama babi hutan. Para mama juga mencari ikan dan remis di danau dekat hutan. Alam Papua yang masih sangat terjaga menyediakan cukup makanan bagi mereka. Tugas para mama adalah mengolah hasil panen dan hasil buruan. Selesai memasak para mama mengantar makanan ke Honai atau rumah khusus laki-laki. Sementara para mama berkumpul di Ebai bersama anak-anak kecil dan para gadis..
Sore itu gerimis belum juga usai. Setelah melaksanakan tugas-tugasnya sebagai isteri kepala suku, Perpetua kembali naik ke bilik tempat Yohana berbaring. Dirapikannya ‘wah’ (rok rumbai dari serat kayu) yang dipakai Yohana dan mendudukannya untuk disuapi. Sore ini mereka memasak ubi bakar dan tumis sayuran serta beberapa potong daging yang telah di panggang dan dibumbu asap.
“Mama, aku tidak mau makan,” bisik Yohana hampir tak terdengar.
“Tapi kamu harus makan nak, biar cepat sembuh,” bujuk Perpetua.
Yohana tetap menggelengkan kepalanya. Kondisi Yohana yang tak kunjung membaik membuat hati Pepertua sedih. Sebenarnya Yohana tidak seperti orang sakit. Dia masih cantik dan berkulit mengkilap. Senyumnya juga masih manis namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, meskipun dia mendengar dan dapat mengangguk atau tersenyum. Tubuhnya juga lemas karena rasa sakit membuat nafsu makannya menurun drastis.
“Carilah dukun yang mampu mengusir roh jahat dari tubuh Yohana,” kata Perpetua kepada suaminya Neles Ibo.
“Baiklah. Aku akan mencari bantuan dukun yang hebat,” sahut Neles Ibo.
__ADS_1
Sebagai kepala suku Neles Ibo sebenarnya sudah beberapa kali memimpin doa dan memberi persembahan pada Atou (roh nenek moyang). Namun belum juga diberi pertolongan. Karena itulah Neles Ibo berniat mencari paranormal yang mampu mengusir roh jahat yang bersemayam di dalam tubuh Yohana. Sebenarnya dia pernah menanyakan perihal sakit yang diderita puterinya pada seorang dukun hebat yang tinggal di dalam hutan.
Kata dukun itu, sakit yang di derita Yohana dan dua orang bibinya bukanlah sakit biasa. Mereka sakit karena melanggar pantangan dalam hutan. Masyarakat berkeyakinan bahwa hutan adalah bagian dari mereka, sehingga jika mengambil tanaman, buah atau menebang pohon haruslah disesuaikan dengan kebutuhan, tidak boleh tamak. Menjaga kelestarian hutan menjadi kewajiban bagi warga.
Saat Yohana berusia sepuluh tahun bibi-bibinya mengajak Yohana masuk ke hutan untuk mencari tanaman obat, buah dan daun-daun untuk dimasak. Tanpa disadari, mereka masuk semakin dalam kehutan dan mengambil semua tanaman kebutuhan yang mereka temui. Mereka bahkan merusak beberapa tanaman bintangur yang sebenarnya tidak perlu mereka cabut dan dirusak. Saat mereka hendak pulang buah dan tanaman bintangur yang mereka peroleh hanya ditinggalkan begitu saja. Karena buah itu tidak bisa dimakan.
Bintangur adalah buah asli Papua. Kulitnya berwarna hijau dan tidak bisa dikonsumsi. Masyarakat Papua mengolahnya menjadi bahan bakar karena kandungan minyak yang ada didalamnya. Untuk memperoleh minyaknya, buah ini harus dijemur terlebih dahulu dibawah sinar matahari sampai kering, setelah itu baru diperas dan disaring minyaknya.
Sesampainya di Uma mereka menuju Ebai dan menyerahkan hasil hutan kepada mama Perpetua. Malam harinya mereka masih bercanda sambil menikmati makan malam seperti biasa. Namun pada pagi harinya, Yohana dan kedua bibinya tidak dapat bangun dari tempat tidur dan tidak bisa bicara. Tubuh mereka menjadi kaku dan susah untuk di gerakkan. Hanya bola mata mereka saja yang masih bisa berputar-putar.
“Yohana kau kenapa?” tanya Perpetua panik.
Papa Neles langsung pergi dan memeriksa Yohana. Namun, dia menjadi bingung dengan kondisi puteri dan kedua adik perempuanya.
“Apa yang terjadi?” katanya sambil menatap wajah isterinya.
Pepertua hanya terdiam sambil meneteskan air mata.
“Aku akan keluar untuk mencari tahu,” ujar Neles Ibo kemudian.
__ADS_1
Sebagai kepala suku dia berusaha mencari tahu sebab dari penyaki yang mereka derita. Namun karena mereka tidak dapat berbicara, dia tidak mendapatkan keterangan yang dia butuhkan. Sebagai upaya penyembuhan, setiap upacara bakar batu, suku mereka selalu memberikan persembahan pada Atou dan mendoakan kesembuhan Yohana dan kedua bibinya.
Setelah dua bulan sakit, kedua bibi Yohana akhirnya meninggal dunia. Upacara berkabung dilaksanakan beberapa hari. Para papa dan mama memotong salah satu ruas jari mereka sebagai tanda kesedihan. Untuk menyelamatkan nyawa puterinya, akhirnya Neles Ibo mengadukan masalahnya kepada ibunya, Nene Yoteni. Sebagai orang yang paling tua, Nene Yoteni sangatlah bijak dan berpengalaman.
“Begitulah masalahnya Nene. Bagaimana aku harus bersikap?” tanya Neles Ibo.
“Pergilah kau ke suku Mowa. Ketua sukunya adalah temanku. Mintalah bantuan dengan baik-baik. Hanya dia yang mengetahui semuanya,” ujar Nene Yoteni.
Suku Mowa adalah suku paling tua di lembah Baliem. Kepala sukunya sudah berusia sembilan puluh tahun lebih, tapi penglihatan mata batinnya sangat tajam. Papa Neles Ibo mengadukan kesedihannya kepada Iles Mowa.
Kepala suku Mowa terdiam. Nampak kepalanya tertunduk dan matanya terpejam. Mulutnya komat kamit seperti sedang berbicara dengan seseorang. Sesekali nampak wajahnya menyeringai entah karena apa. Beberapa saat kemudian dia membuka matanya. Setelah menghela nafas panjang dia berkata kepada Neles Ibo.
“Puterimu telah melakukan kesalahan kepada penghuni hutan. Dia telah merusak pohon Bintangur yang keramat dan bertindak mengancam kelestarian hutan,” kata Iles Mowa.
“Sampaikanlah permintaan maaf puteriku atas perilakunya,” ujar Neles Ibo.
Kepala suku Mowa itu mengatakan bahwa Yohana harus meminum ramuan dari Anggrek yang berwarna hitam keeamasan untuk kesembuhannya. Pohon anggrek itu hanya ada di dalam hutan larangan yang angker di bawah gunung Jayawijaya. Dan anggrek keemasan itu harus dibawa oleh dua orang kembar dari tempatnya sampai ke hadapan Yohana.
‘Dua orang kembar?’ batin Neles Ibo. “Marlon dan Marlin…?”
__ADS_1