
EPS 48 ERIZAL BERGABUNG
Hati adalah tempat yang bening. Dan dari tempat itulah cinta tumbuh berkembang.
Setelah mendapatkan izin dari bu Lina. mewakili pengurus panti sosial, Erizal pergi bersama Marlon dan Melin pulang ke rumah kang Misman. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, bermain dengan perasaannya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan sahabatnya, Marlon juga tidak tahu. Yang jelas perilaku Erizal mendadak berubah menjadi aneh, berjalan paling belakang dan menundukkan kepalanya.
“Apa yang kau pikirkan kawan? Kenapa kau hanya diam saja?” tanya Marlon.
Erizal mendongakkan kepalanya, memandang Marlon.
“Tidak apa-apa Marlon. Apakah tempat tinggalmu masih jauh?”
Bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, Marlon malah melambaikan tangannya. Menghentikan bis kecil yang menuju bandara Adisucipto. Lalu memberi tanda agar Melin naik terlebih dahulu, disusul Erizal. Sedangkan dia naik terakhir, bergelayutan di pintu bis sebelum tertutup rapat. Bus itu berjalan pelan menembus panasnya jalan di siang itu dan membawa mereka ke arah luar kota.
Tak sampai tigapuluh menit mereka sudah memasuki kawasan bandara. Marlon memberitahu supir bus untuk menghentikan kendaraannya. Setelah itu turun di sebuah gang yang cukup sepi. Lalu melangkah masuk ke dalam gang diikuti Melin dan Erizal. Tiba di sebuah rumah bergaya klasik di ujung gang mereka berhenti. Marlon membalikkan tubuhnya.
“Inilah rumah kang Misman, tempat tinggal kami.”
Sebuah bangunan kuno seperti peninggalan Belanda. Mungkin dulunya ini adalah rumah kosong tak berpenghuni, lalu dijadikan markas gengnya Misman.
Kruyet!
__ADS_1
Melin membuka pintu jati yang cukup tebal itu. Lalu mengajak Erizal untuk masuk.
“Silahkan masuk Erizal.”
Walaupun tampak sebagai gedung tua dari luar, tapi di dalam ruangan cukup terawat. Lantai marmer putih masih utuh dan bersih. Kursi-kursi kayu juga masih kokoh. Ada beberapa kamar di rumah itu yang masih kosong. Marlon mengajak Erizal duduk di beranda, sementara Melin membuatkan minuman.
“Marlon…” ujar Erizal.
“Ya?”sahut Marlon.
Erizal terlihat ragu.
“Ada yang ingin kau katakan kawanku?”
“Ehm, maaf. Apakah kalian hanya tinggal berdua di rumah ini?”
“Sejak ibu ditahan polisi kemarin, memang tinggal kami berdua yang tinggal di rumah ini. Memangnya kenapa?” sahut Melin.
“Tiba-tiba aku berpikir untuk ikut bersamamu tinggal di rumah ini.”
Hah? Marlon dan Melin terperanjat. Marlon yang sedang mengambil minumannya sampai berhenti di udara.
“Apa? Kau ingin tinggal bersama kami?” tanya Marlon.”Kau sungguh-sungguh?”
__ADS_1
Erizal menganggukkan kepalanya.
“Ya. Aku ingin tinggal bersamamu. Rasanya aku kesepian tinggal di panti.”
Marlon memandang Melin. Dari tatapan matanya seperti memohon agar Melin mengabulkan keinginan sahabatnya.
“Tapi, itu kalau kalian tidak keberatan,” ucap Erizal lagi.
Melin tersenyum.
“Tentu saja kami tidak keberatan. Rumah kami terbuka bagi siapapun yang ingin tinggal bersama kami. Apalagi kau adalah sahabatnya Marlon,” ucapnya.
“Ehm, terimakasih…” kata Erizal.
Melin mengulurkan tangannya.
“Namaku Cahaya Melin. Kau boleh memanggilku Melin saja.”
Erizal menyambut uluran tangan gadis itu.
“Aku Erizal Hasibuan. Panggil saja Erizal.”
Marlon senang sekali, dipeluknya tubuh sahabatnya erat-erat.
“Akhirnya kita bisa bersama lagi kawan.”
__ADS_1
Melin ikut merasakan kegembiraan mereka.
“Terimakasih kawan,” ujar Erizal sambil memandang Melin dan Marlon bergantian.